Untuk sebagian orang mati adalah jalan terbaik, aku salah satunya
Zephyra Hermia
***
Hera terhempas kesebuah ruangan yang cukup dingin dan lembab. Tubuh lemahnya terjerembab kelantai batu yang cukup kasar. Pria itu tidak mengatakan apapun setelah memperlakukan Hera layaknya hewan peliharaan.
Pergi begitu saja.
Hera mencoba bangkit tapi gerakkannya terhenti saat mendengar pintu kembali terbuka dengan kasarnya. Pintu yang terbuat dari kayu ek tersebut terbuka dengan lebar, angin seketika menyeruak masuk.
Seorang wanita bertubuh tambun dengan celemek bertengger di pinggulnya melempar sprei dan selimut yang bentuknya sudah tidak layak pakai.
Sama seperti pria itu, wanita yang tak kelihatan wajahnya itu langsung keluar setelah melemparkan barang seperti melempar rumput untuk hewan peliharaan.
Hera tidak sakit hati sama sekali. Perlakuan seperti ini memang layak dia dapatkan. Hanya saja dunia tidak tahu kalau dirinya juga mengutuk dirinya sendiri bahkan lebih buruk dari orang lain.
Hera mengusap airmata, tangannya yang kotor gemetar karena kedinginan dan juga ketakutan. Saat jemari rampingnya menyentuh dahi, ringisan tidak dapat ditahannya.
Dahinya bengkak akibat benturan tadi.
Hera menyeret kaki lalu menekuknya, tangannya memeluk kedua lutut kemudian membenamkan wajahnya disana. Bahunya yang bergetar dan berguncang menandakan kalau dia tengah menangis hebat.
Hera paling mahir menangis dalam diam, sejak mengerti orang-orang tidak menginginkannya, dia tidak pernah lagi menunjukkan ekspresi.
Termasuk pada bibinya, Camelia.
Sekujur tubuh Hera basah kuyup dan kotor. Gaun putih yang dikenakannya saat menikah sudah penuh dengan lumpur. Satu-satunya sepatu terbaik yang dia punya, hilang.
Saat pria itu menyeretnya, sepatu itu lepas dari kakinya. Telapak kakinya penuh goresan luka. Hera menahan sakitnya.
***
Pagi ini terlihat para pelayan berkumpul diruang keluarga kediaman Andrian Edmund atau biasa di panggil, tuan Ed. Mulai dari juru masak, juru bersih-bersih hingga penjaga istal dan kusir, tidak satupun penjaga yang tidak hadir.
"Pernikahan tuan tidak mengubah apapun. Kalian tetap bekerja seperti biasa. Dan ..." Polo mengambil napas sejenak lalu melanjutkan, "bagaimana kalian bersikap pada wanita yang tuan nikahi, tidak ada aturan. Tuan tidak mengembani status atau tugas nyonya padanya."
Polo menatap kepala tukang dikastil ini, "rumah kecil disebelah barat bersihkan. Wanita itu akan tinggal disana." Tanpa menunggu jawaban, Polo melanjutkan, "Basil, sampaikan hal ini pada seluruh penyewa estat."
Sepanjang hidupnya menjadi kepala pelayan, baru kali ini Polo mengumumkan hal semengerikan ini. Wanita yang mendapat julukkan pembawa sial itu telah masuk kedalam neraka.
Dengan pengumuman ini tentu semua orang bersorak riang. Karena sejak awal mereka sudah gelisah jika harus bersikap sopan pada wanita itu.
Basil mengangguk sambil melirik kearah tuannya yang duduk dengan tenang sambil membaca sebuah kertas.
"Bubar." Suara Ed membuat semua pelayan semakin menunduk.
Satu kata yang keluar dari mulutnya langsung membuat para pelayan dan pekerja meninggalkan ruang keluarga.
*
Berita menyebar secepat kilat apalagi Basil yang mendapat mandat itu. Tentu ada bumbu penyedap yang wanita itu tambahkan, penyewa estat tidak berniat memperlakukan Hera dengan kejam, cukup menghindari agar tidak terkena kutukkan.
Tapi bukan Basil namanya kalau tidak bisa membuat semua istri para penyewa bersemangat menyiksa Hera. Mereka sepakat kalau berpapasan dengan gadis sialan itu, mereka akan melemparinya dengan biji kenari atau menghinanya.
Dan sekarang situasi dapur sedang riuh, menggosipkan Hera.
"Jangan sampai aku berpapasan dengannya, ya Tuhan! Aku tidak sanggup menanggung kesialan," ucap salah seorang juru masak yang memiliki anak berusia tujuh tahun bernama Victoria.
Gadis kecil itu mendongak, menatap itunya penuh pertanyaan, "berpapasan dengan siapa bu?"
"Wanita asing yang semalam tuan bawa kemari. Kalau kau melihatnya, menghindarlah kalau tidak kita bisa sial. Ibu dan bibinya mati karenanya."
Gadis bernama Victoria itu mengangguk lalu berlari keluar dapur, katanya mau menemui teman-temannya dan mengatakan pada mereka agar tidak menyapa wanita sialan itu.
Sementara itu, Hera tertidur dilantai dalam keadaan meringkuk. Tidak tahu jam berapa dia terlelap dalam keadaan kedinginan. Saat diluar sana semua orang tengah membahasnya, dia jatuh demam.
Suhu tubuhnya sangat tinggi, dalam hati gadis itu berharap agar malaikat maut sudi mencabut nyawanya. Terserah mau dibuang kemana nyawanya setelah itu, yang penting mati dulu.
Kulit bibir Hera pecah-pecah menahan dingin dan haus, belum lagi luka akibat gigitannya sendiri. Kondisi Hera sangat memprihatinkan.
Pintu terbuka, sinar matahari menyeruak masuk meski hawa dingin tetap terasa. Matahari di Inggris tidak hangat, kalah dengan kabut dan juga angin yang berhembus kencang.
"Setelah ini urus makananmu sendiri!" Suara wanita yang semalam mengantarkan selimut dan sprei lalu melemparnya kasar kesudit ruangan.
Begitupun saat mengantarkan makan, yang terdengar hanyalah benturan nampan dan kayu. Perlahan Hera membuka mata untuk melihat jelas siapa wanita itu.
Namun matanya enggan terbuka, justru tertutup lagi. Setelah itu Hera tidak tahu apa yang terjadi tapi saat membuka mata, dia melihat pria itu berdiri dan menyandar dipintu yang tertutup.
Tubuh Hera membeku dan menggigil, kepalanya diserang sakit yang luar biasa tapi bibirnya seolah telah terlatih untuk tidak memgeluarkan suara.
Saat mencoba bangun, sekujur tubuhnya ngilu dan napasnya panas. Hera sudah akrab dengan kondisi tubuh seperti ini. Dia demam.
Sejak kecil kalau sakit dia tidak pernah keluar kamar, bibinya tahu kondisinya jika datang kekamarnya. Tidak sering, karena bibinya harus sekolah serta kursus seperti gadis terhormat lainnya.
Kehidupannya berbanding terbalik dengan bibinya, tapi berkat bibinya dia bisa membaca dan menulis serta memiliki beberpa keahlian lain, salah satunya merajut.
Hera tahu hari sudah siang, pentilasi udara berukuran kecil memantulkan cahaya. Setelah duduk dikasur, dia menunggu pria yang dulu bersikap baik padanya untuk bicara.
Ya, dulu Andrian Edmund baik padanya. Lebih tepatnya acuh tapi tidak seperti ini. Hera memakluminya karena bagaimanapun calon istri pria ini mati karenanya.
Hidup Hera sekarang memaklumi apapun yang terjadi padanya. Itu satu-satunya cara agar dirinya tidak meratap.
"Gagal terjun kejurang, mencoba cara lain." Suara dingin Andrian Edmund membuat tubuh Hera semakin gemetar.
"A-a ..."
Belum selesai Hera bicara, Edmund sudah duduk disampingnya lalu menjepit dagu dan mengangkat kepalanya.
Kepala Hera kembali dihantam sakit yang luar biasa, deru napasnya yang panas menerpa pipi Edmund yang mulus dari rambut-rambut halus.
"Permainan baru dimulai, jangan buru-buru pergi. Jika sudah saatnya, kau bisa memilih mati dengan cara apa. Kenapa ingin cepat mati, hem? Kalau ingin, kenapa bukan kau yang mati waktu itu?"
Belum sempat Hera menjawab, Edmund melanjutkan, "Camelia bilang kau bukan pembawa sial, aku percaya begitu saja. Tapi karena kebodohanku, aku kehilangannya. Merasa bersalah?"
Hera langsung mengangguk.
"Kalau begitu tebus! Bawa kembali Camelia-ku atau ..."
Untuk pertama kalinya, Hera mencoba berani menatap Edmund.
"Terima hukuman sebagai akibat berani mengambil hidup calon istriku." Dunia tahu betapa cintanya Edmund pada Camelia.