"Kau tidak perlu menikahinya. Dia penyebab kesialan yang terjadi dalam keluarga kami. Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan kesialan itu," ucap seorang pria paruh baya berwajah tampan namun keras.
Kesialan yang dia maksud tentu saja si gadis cantik yang bernama: Zephyra Hermia atau yang dikenal panggilan, Hera. Entah siapa yang memberinya panggilan itu tapi sejak kecil dia dipanggil dengan nama itu.
"Aku tidak akan mengingkari janjiku pada Camelia." Suara pria yang menjadi lawan bicara pria paruh baya tadi terdengar tenang dan dalam.
Tidak tersirat apapun dalam nada suaranya, membuat lawan bicaranya kebingungan.
"Aku akan bertanggung jawab atas pilihanku. Orang Ku akan datang untuk melamarnya, setelah pernikahan aku akan membawanya ketempatku." Lanjut pria itu sambil berdiri.
Setelah merapikan jas berkabung yang dikenakannya, pria itu pergi tanpa berpamitan sembari mengenakan topi fedora hitam miliknya. Hari ini adalah hari paling mengerikan dalam hidupnya.
Kekasih yang sudah menemaninya selama lima tahun telah pergi meninggalkannya. Padahal akhir bulan ini akan melangsungkan pernikahan sesuai dengan impian gadisnya.
Pria itu adalah Andrian Edmund, seorang terpandang yang memiliki estat paling luas. Dia tinggal seorang diri karena kedua orangtuanya sudah meninggal saat dirinya masih remaja.
Sejak itu dia hidup bagaikan burung hantu, berkeliaran hanya saat hari sudah gelap. Tujuannya tentu tempat perjudian, sekalipun tidak pernah kalah.
Selain kekayaan yang diwariskan kedua orangtuanya, kekayaan pria itu juga berasal dari hasil perjudian. Dan tidak pernah berhenti meski kekasihnya (Camelia) selalu memintanya untuk meninggalkan dunia gelap itu.
*
Seorang gadis cantik berambut panjang berwarna coklat keemasan sedang berdiri didepan jendela besar dengan tatapan yang teramat kosong.
Jarinya saling tertaut dengan bibir pucat bergetar hebat, dalam benaknya dia sedang merutukki dirinya sendiri karena musibah ini terjadi karenanya.
'Aku pembawa sial' tiga kata itu selalu tersebut dalam benaknya. Tubuh mungilnya menggigil karena membayangkan hidup yang dia jalani selama ini sangat mengerikan.
Dalam benaknya dia selalu bertanya.
'Kenapa dirinya lahir dengan kutukkan semengerikan itu? Kenapa harus dirinya pula yang mengalami itu? Apa salah dan dosanya sehingga Tuhan begitu membencinya?'
Terlebih sekarang, orang yang paling mencintainya mati karena menolongnya. Tuhan benar-benar kejam padanya, bagaimana bisa dia menjalani hidup setelah apa yang terjadi?
Kalau sebelumnya dia masih kuat, itu karena orang yang di cintainya selalu ada di sisinya. Mengingatkannya bahwa tidak ada manusia yang lahir dengan kesialan tapi sekarang?
Suara seseorang membuat tubuhnya semakin membeku, untuk berbalik menghadap orang tersebut saja dia tidak punya keberanian, ditambah lagi suara dingin itu mengatakan jangan sekalipun dia berbalik.
"Kau akan menikah dengan sir Andrian Edmund minggu ini setelah masa berkabung. Tidak ada penolakkan." Pemilik suara dingin itu langsung pergi setelah mengatakan hal yang membuat si pembawa sial semakin menggigil.
Tubuhnya yang mungil dan kecil langsung luruh.
Dilain tempat seorang pria tengah menatap sendu makam yang masih segar, siapa lagi kalau bukan Andrian Edmun. Makam itu bertuliskan nama wanita yang snagat di cintainya, Camelia Dowson.
Dua hari sebelum kejadian naas terjadi, dia masih berbincang hangat dengan wanitanya itu. Mereka membahas perihal pernikahan impian yang akan diselenggarakan satu bulan dari sekarang.
Semua telah di persiapkan sebaik mungkin sesuai keingingan sang kelasih tapi, apa yang terjadi sekarang? Bukan hanya pernikahan yang tidak akan pernah berlangsung, dia juga kehilangan kekasihnya untuk selama-lamanya.
Dalam dunia ini tidak ada yang lebih dia cintai kecuali wanita cantik yang telah terkubur dalam gundukkan tanah berbukit miliknya ini. Ya, wanita yang sangat dia cintai di makamkan ditanah kekuasaannya, persis disamping makam ibunya.
'Aku titip dia pada kalian. Pastikan dia tetap hangat, Camelia-ku tidak suka dingin' ucapnya dalam hati.
Dia memutuskan kembali kekastilnya yang berada diatas bukit setelah beberapa jam berdiri kaki didepan makam. Pakaian serba hitam membuatnya terlihat seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa manusia yang berpapasan dengannya.
Saat tiba dikastil, kepala pelayan yang bernama Polo langsung menyambutnya. Kepala pelayan itu sudah bekerja saat Andrian Edmund berusia lima tahun.
Dia lebih mengenal Andrian Edmund dibandig siapapun.
"Banyak ucapan bela sungkawa yang datang, ingin saya bawakan atau ..."
"Bakar."
"Baik tuan." Polo membungkuk hormat setelah menerima mantel jubah dan topi fedora dari sang tuan.
Tuannya melangkah menuju ruang bawah tanah, tempat tergelap dan tersunyi dikastil ini. Dilantai bawah tanah itu ada beberapa ruangan.
Ruangan tempat penyimpanan anggur, ruang penyiksaan bagi pelayan yang melakukan kesalahan fatal, ruang yang menyimpan banyak buku kuno koleksi tuan terdahulu serta satu ruangan yang cukup kecil.
Bisa dibilang kamar tak layak huni, dulunya berfungsi buat mengurung pelayan wanita yang berani menggoda sang tuan. Namun sekarang kamar itu tidak berfungsi lagi.
Kamar itu ruangan paling dingin, memiliki jendela dan pintu. Ketika pintu terbuka, hawa dingin langsung menyeruak masuk karena berhadapan dengan hutan belantara.
Polo tidak tahu apa yang ingin tuannya lakukan disana mengingat sudah sangat lama tempat itu tidak dikunjungi majikannya itu. Tidak ingin larut dengan rasa penasaran yang tidak boleh ada dalam diri pelayan, Polo memutuskan melanjutkan pekerjaannya.
***
Tidak ada pernikahan yang megah dan meriah apalagi di iringi tawa canda bahagia dari seluruh keluarga. Pernikahan ini lebih mengerikan daripada acara pemakaman bibinya beberapa waktu lalu.
Zephyra Hermia resmi menikah dengan Andrian Edmund Louis. Louis nama belakang yang tak pernah tersebut selama ini. Gereja tempat keduanya mengucap janji sangat sepi, bahkan lebih sepi daripada kuburan.
Tidak ada yang hadir kecuali perwakilan dari kedua belah pihak. Dan Hera seperti manusia asing yang berada diantara yang hadir. Yang menyambutnya ramah hanya pendeta, selebihnya tidak seorangpun menganggapnya ada.
Terdengar helaan napas berat dari sosok pria yang berstatus ayahnya, tanpa hati berkata, "sir Edmund, aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menikahinya. Jika kedepannya kau mengalami kesialan, jangan menyalahkanku."
"Aku akan menanggungnya, mulai hari ini dia menjadi hakku." Pria paruh baya yang bernama Charles Dowson itu mengangguk mantap.
Dia sudah lama ingin lepas dari kesialan ini, baru sekarang terlaksan tentu hatinya sangat lega. Keluarganya tidak akan lagi hidup dalam bayang kesialan.
Jika bukan karena adik kesayangannya (Camelia) sudah sejak lama dia ingin melenyapkan Hera.
Hera yang mendengar pembicaraan itu hanya bisa menunduk dengan tangan meremas kuat buqet lily yang di pegangnya. Sudah biasa dirinya menjadi topik pembicaraan menyakitkan, hatinya sudah mati untuk merasakan emosi.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi."
Charles sama sekali tidak melihat ke arah gadis bergaun putih sederhana yang tak lain adalah putri kandungnya itu. Baginya, Hera bukan anaknya.
Kehadirannya di pernikahan ini semata-mata hanya menghargai Edmund, pria yang seharusnya menjadi adik iparnya.