"Kenapa, sakit?" tanya Jeje dengan muka datar tanpa rasa bersalah. "Sakit," jawab Wika memasang tampang minta dikasihani. "Makanya jangan asal ngomong." "Aku kan ngomongnya bener, emang nanti bapaknya ..." "Udaahh iih abang!" geram Jeje mendengar WIka masih malu membahas itu, biar ada turunan dunia bagian barat sana tapi rupanya buat Jeje membicarakan itu cukup memalukan. Wika malah tersenyum mendengar protes Jeje. "Lagi dong usap - usap," pinta Wika menggerakkan lagi tangan Jeje dikepalanya. Jeje mulai menggerakkan lagi tangannya. "Jadi gimana tadi, mengkhawatirkan soal Lina kan?" "Hm ..." Jeje yang moodnya sempat berantakan gara - gara ucapan Wika tadi mulai merespon lagi. "Nanti Lina pasti menemukan pria yang akan terima dia apa adanya kok, bukan kah jodoh itu sudah ditetapkan

