Beberapa bulan kemudian .... Bunga Lilyana terbangun dari komanya, hatinya sudah sangat rindu ingin bertemu adiknya, juga suaminya Bhadra Bawika, hanya saja ... apakah pria itu mau menerimanya?! Dalam wujud Bunga Anindya?! Tidak masalah! Tekad Bunga Lilyana besar untuk bisa membahagiakan suaminya. "Uh ... " rintihnya memegangi kepala. Tidak tahu kenapa kepala Bunga terasa sangat sakit. Mungkin kecelakaan yang membuat tubuh Bunga Anindya sakit-sakitan, tidak sempurna seperti dulu. "Kau sudah sadar?! Masih belum mati?!" Manaf mencibirnya, sangat benci pada Bunga Anindya yang sebenarnya adalah Bunga Lilyana. "Kalau belum sadar kenapa bisa berbicara? Manaf ... kurasa kau perlu memeriksakan otakmu!" Bunga Lilyana bukannya marah malah balik menggodanya. "Jangan terlalu besar kepala!! Aku sa

