Part 34

2193 Kata
Jam makan siang datang. Gita menyenggol lengan atas Caliana dengan sikutnya lalu mengedikkan kepalanya ke arah pintu. Tepat dimana Haikal berada dan tersenyum ke arahnya. "Ayo kenalin." Mohon Gita dengan bisikan yang teramat pelan. Caliana melirik ke arahnya kemudian mendelik. "Makan siang bareng, boleh?" Tanya Haikal yang sudah berdiri di dekat meja Caliana. Caliana hanya tersenyum dan mengangguk. Ia meraih dompetnya dan berdiri. Mengajak Gita turut bersama mereka. "Dia Gita. Kalian udah kenalan kan tadi." Caliana buka suara. Haikal mengangguk. Gita melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada pria di depannya. Haikal hanya membalas dengan menunjukkan lesung pipi manisnya. Mereka bertiga berjalan menuju lift. Ruangan kerja tim lain pun tampaknya sudah mulai kosong. Bersamaan dengan mereka memasuki lift, mereka melihat Adskhan berjalan bersama dengan ketua tim audit. Lantas tiba-tiba Caliana mengingat ucapan Gilang semalam untuk tidak memikirkan apapun tentang Adskhan. Haikal menahan pintu tetap terbuka bagi kedua atasan mereka. Mengangguk ramah sebagai sapaan. Gita dan Caliana bergerak mundur bersamaan dan memberi ruang. Bahkan dengan tak kentara sahabatnya itu menyenggol lengan Caliana dengan siku dan mengedikkan kepala pada sepasang pria dan wanita di hadapan mereka. Caliana tidak merespon. Ia justru malah sedang meraba hatinya sendiri. Memikirkan semua ucapan Gilang. Toh memang dia tidak merasakan apapun pada pria yang kini berdiri di hadapannya itu. Jadi ia merasa santai saja. Caliana memang menyukai Syaquilla. Menyayangi tepatnya. Sama halnya seperti yang dirasakannya pada Carina. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Kekesalan yang ia rasakan pada Adskhan pun ia anggap sebagai kekesalan yang wajar. Semua wanita atau bahkan semua orangtua yang menyayangi anaknya akan menganggap apa yang dilakukan Adskhan itu salah. Bahkan jika pun itu bukan Adskhan. Jika tindakan itu dilakukan oleh orang lain, Caliana pun akan merasakan hal yang sama bukan? "Mau makan siang dimana?" Tanya Caliana pada Haikal. Dia berusaha mengabaikan sosok Adskhan sebisanya. Mencoba bersikap profesional dan mencoba melupakan kejadian di kolam renang dari kepalanya. "Dimana aja. Gue kan tamu." Jawab Haikal dengan senyum ramahnya. "Loe bawa mobil?" Tanya Gita. Caliana menggeleng. "Dianterin sama Gilang." Jawabnya singkat. Gita mengangguk. "Loe?" Gita balik bertanya pada Haikal. Haikal pun menggelengkan kepala. "Ya udah, makan di warung depan aja." Saran Gita dan keduanya mengangguk setuju. "Apa kabar Gilang?" Tanya Haikal lagi. Mereka sudah sampai di lantai pertama dan sedang menunggu atasan mereka dan ketua tim audit untuk turun lebih dulu. "Baik." Jawab Caliana datar. "Kerja dimana dia sekarang?" "Dia milih jadi dokter." Jawab Caliana lagi. "Beneran?" Haikal tampak terkejut. "Gue pikir dia mau jadi atlet." Pria itu terkekeh. Terkesan tak percaya dengan pernyataannya sendiri. Caliana hanya balas tersenyum. Mereka, Caliana, Gilang dan Haikal dulu bersekolah di SMP yang sama. Gilang dan Haikal bahkan berada di tim basket yang sama dan keduanya sama-sama populer kala itu. Meskipun tidak bersahabat dekat, tapi pertemanan Gilang dan Haikal bisa dikatakan cukup baik kala itu. Dan karena kedekatan itulah Caliana menyukai Haikal. Sayangnya, sebelum semua berlangsung lebih jauh, mereka harus pindah sekolah. "Gue malah mikirnya dia mau jadi pilot." Jawab Caliana. "Soalnya dulu dia punya cita-cita mau punya bini di setiap negara." Lanjutnya datar yang malah membuat Gita terbelalak kaget. "Beneran? Gilang bilang kayak gitu?" Tanya Gita tak percaya. Caliana terkekeh melihatnya. "Loe tanyain aja sama orangnya." Jawabnya. Gita mendelik ke arah Caliana seraya mencebik. Mereka terus berjalan keluar dari arah gedung menuju warung nasi yang disebutkan Gita sebelumnya. Warung nasi itu adalah warung nasi masakan rumahan yang letaknya sekitar seratus meter dari kantor mereka. Dan memang cukup ramai karena memang memasuki jam makan siang. Mereka mengantri dengan tertib. Caliana mempersilahkan Haikal untuk berdiri paling depan diantara mereka. Kemudian Gita, barulah dia di belakang kedua orang itu. "Loe berdua. Berapa lama sih udah saling kenal?" Tanya Gita. Kepalanya menoleh ke arah Haikal dan Caliana bergantian. "Kenapa emang?" Tanya Haikal penasaran. "Si Ana bilang tadi kalian dah lama gak ketemu. Tapi kok gue gak ngerasa gitu ya?" Tanya Gita penasaran. "Gak usah kepo." Jawab Caliana. Telunjuknya menekan punggung Gita dengan cukup keras.. "Dia emang kayak gini dari dulu?" Gita mengabaikan Caliana dan terus mengajak Haikal bicara. Haikal mengedikkan bahu. "Apa kalian pernah pacaran?" Lagi-lagi Gita bertanya. Caliana memutar bola matanya. Namun membiarkan Gita melakukan apa yang dia mau. Toh dilarang pun tak akan membuat sahabatnya itu jera. "Loe percaya gak kalo gue bilang dia dulu pernah nembak gue?" Haikal balik bertanya pada Gita. Gita terbelalak. Matanya memandang Caliana dengan tatapan tak percaya. "Loe?" Tuduhnya pada Caliana. Caliana dengan tak acuhnya malah mengedikkan bahu. Mereka sudah mulai mengambil lauk pauk yang disediakan dengan cara prasmanan. "Dia? Nembak loe? Kapan?" Tanya Gita lagi. Masih tak percaya. "Dulu. Waktu kita SMP." Jawab Haikal dengan geli. "Na? Dia ngomong beneran?" Lagi-lagi Gita menoleh pada Caliana karena masih tak percaya. Dua tahun mengenal Caliana, Gita tahu Caliana itu sosok wanita yang dingin dan berani. Tapi ia tidak menyangka kalau sejak remaja Caliana memang se pemberani itu. Dan menyatakan cinta pada seorang pria? Gita tak habis pikir akan hal itu. "Na?" Gita menggoyangkan lengan sahabatnya dengan tangannya yang kosong, merajuk karena Caliana tak juga memberikan tanggapan. "Iya. Dan gue ditolak. Puas loe!" Jawab Caliana dengan nada meninggi. Namun ekspresi wajah sahabatnya itu malah terkesan datar-datar saja. Tak sedikitpun menunjukkan rasa kecewa karena patah hati. Seketika Gita terbahak. Melupakan fakta kalau mereka berada di tempat umum saat ini. Mereka bertiga berjalan menuju meja kosong dipimpin oleh Caliana. Dan bahkan belum sampai menduduki kursi, Gita kembali sudah bertanya. "Kenapa? Kenapa loe nolak dia? Dia jelek ya waktu SMP?" Tanyanya, tak sedikitpun meraba perasaan Caliana. Haikal tersenyum, melirik Caliana yang duduk di sampingnya kemudian menggeleng. "Dia cantik." Ujar pria itu tulus. "Caliana selalu tampak cantik sejak dulu." Lanjutnya . "Yang ada gue nolak dia karena malu." Jawab Haikal. Kini gantian wajah pria itu yang berubah merah. "Kenapa? Loe malu apa loe takut karena dia nyeremin?" Tanya Gita lagi. Tak peduli pada senggolan kaki sahabatnya di bawah meja. "Nyeremin?" Haikal balik bertanya dengan dahi berkerut. "Apanya yang nyeremin dari dia?" Tanyanya bingung. "Caliana itu orang yang baik. Cuma ya... Buat gue dia terlalu cerdas. Jadi gue ngerasa minder aja. Secara dia sama abangnya selalu jadi yang terbaik di kelas." Lanjut pria itu lagi. "Tapi loe suka sama dia?" Tanya Gita lagi. Haikal mengangguk. "Sekarang masih?" Haikal melirik Caliana malu-malu. "Ya udah sih, kalo pada-pada lajang mah jadian aja." Saran Gita begitu saja. "Tapi loe masih single kan?" Tanya Gita. Urutan pertanyaan yang salah sebenarnya. Tapi daripada tidak diajukan sama sekali. Haikal terkekeh. "Masih. Kalo enggak mana mungkin gue disini." Jawabnya. "Ya siapa tahu loe tipe-tipe playboy. Siapa juga yang tahu ada wanita hamil nungguin loe di rumah di Jakarta sana." Lanjutnya. "Enggak. Tapi kalo dari sini bawa cewek kesana kayaknya sih oke." Jawab Haikal dengan jenaka. "Tuh, Na. Daripada cari cowok yang gak loe kenal. Mending yang udah ada aja. Bilangin sama nyokap biar nyokap gak terus-terusan nanyain siapa cowok loe sekarang." Ejek Gita. Caliana hanya memandang sahabatnya itu dengan mata menyipit. Namun bukannya diam, Gita malah tertawa senang. Pembicaraan mereka berubah haluan tanpa tema yang jelas. Mereka lantas kembali ke kantor saat jam makan siang sudah usai. Dan sama seperti saat mereka keluar. Mereka kembali bertemu dengan Adskhan dan juga ketua tim audit. Dengan sopan ketiganya menyapa dua atasan itu dan turut masuk ke dalam lift. "Jadi? Kalian mutusin mau kencan aja?" Tanya Gita tiba-tiba pada Haikal. Haikal mengernyit seketika ketika tema kembali pada hubungannya dengan Caliana. Ia melirik Caliana sekilas. Namun Caliana hanya balik menatapnya dengan sebelah tangan terangkat dan membuat garis miring di dahinya. Haikal hendak tertawa, namun kemudian tertahan karena pintu lift sudah kembali terbuka. "Nanti kita dinner bareng ya." Ucap pria itu sebelum berbelok ke arah ruang meeting, dimana tim nya sudah bersiap melanjutkan pekerjaan. Sore hari setelah selesai Ashar. Caliana kembali merasakan denyutan di kepalanya. Tubuhnya tiba-tiba terasa ngilu tanpa alasan. Bahkan bagian perutnya terasa tak nyaman saat ia duduk. Ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Namun memilih untuk mengabaikannya karena masih disibukkan dengan laporan yang menggunung. Nanti, dia akan minta Gilang untuk memeriksanya dan membuatkan resep obat untuknya jika memang diperlukan. Sementara acara dinner yang diniatkan Haikal tidak terjadi. Karena malam itu tiba-tiba ketua tim audit memutuskan kalau mereka harus bekerja lembur karena laporan harus selesai sesegera mungkin. Hal yang membuat para admin menjadi kesal sendiri. Setelah selesai berjamaah magrib di mushola atas, mereka semua dikejutkan dengan paket makanan yang sudah tersedia di sebuah meja panjang di dekat pintu. Makanan catering yang dikemas dalam box, minuman dingin dalam cup dan juga snack dalam box yang lain. Gita berseru dan segera mengambil jatahnya. Disaat bersamaan Caliana hanya terdiam mematung. "Loe gak lapar?" Tanya Gita yang masih tampak antusias. Caliana menggelengkan kepala. Dia bukan ingin makan. Dia justru ingin berbaring di atas tempat tidur dan meluruskan posisi perutnya yang masih tak nyaman. Namun meskipun begitu, dia mengambil snack yang ada dan minuman dinginnya untuk dia bawa ke meja. Meskipun dia tidak begitu berminat untuk memakannya. Pukul sembilan kurang beberapa menit. Akhirnya ketua tim membubarkan mereka. Caliana ingin berseru senang karena hal itu. Namun menahan diri. Gita sudah berkemas sejak tadi karena memang pekerjaannya tinggal berurusan dengan data di komputernya. Dan Caliana pun sebenarnya melakukan hal yang sama sejak tadi. Karena yang dilakukannya hanya stand by, menunggu jika tim audit memerlukan laporan saja. Bukan berkontribusi untuk melakukan audit bersama mereka. Bersamaan orang-orang berjalan menuju lift. Karena kapasitas lift hanya untuk dua belas orang sekali angkut. Maka Caliana memilih untuk menjadi orang terakhir yang pergi. Iten yang kala itu bertugas untuk bersih-bersih menyapanya di meja. "Teteh sehat?" Tanya pemuda itu dengan pandangan khawatir ke arah Caliana. Gita yang masih ada di posisinya menoleh. Memperhatikan Caliana dengan seksama. Caliana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Rasanya kepalanya seolah dipaku oleh puluhan paku kecil tak kasat mata saat ini. Dan bahkan tubuhnya mulai merasa dingin dan panas disaat yang bersamaan. Namun Caliana memilih untuk berpura-pura baik-baik saja. "Wajah teteh pucat." Iten kembali menyuarakan apa yang ada di pikirannya. "Mungkin karena udah malem sama capek, Ten." Jawab Caliana. Namun Gita malah menggeserkan kursinya mendekat dan punggung tangan gadis itu ia letakkan di dahi Caliana. "Loe panas. Yakin loe gak papa?" Gita kini mengerutkan dahinya. Caliana tersenyum. Menyentuh pergelangan tangan Gita dan menurunkannya. "Tangan loe juga panas Na." Serunya lagi. "Gue baik-baik aja, Git." Jawab Caliana dengan pelan. Dia bangkit berdiri. Mengambil tasnya dan mulai berjalan menuju lift yang kini kosong. Hanya tinggal Caliana dan Gita yang ada di ruangan itu. Selebihnya Iten sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun di ruangan lain masih ada Bu Shelly, CEO mereka dan juga ketua tim Audit yang entah akan pulang pukul berapa. Mereka baru saja melangkah masuk ke dalam lift saat sebuah suara mengejutkan mereka dengan seruannya. "Tahan!" Caliana dan Gita berbalik bersamaan dan melihat Bu Shelly berjalan tergopoh. "Tahan buat kita, Na." Perintah wanita menuju paruh baya itu. Refleks Caliana menahan tombol buka di lift supaya Bu Shelly dan dua orang yang berjalan di belakangnya bisa masuk ke dalam lift. "Kalian baru pulang juga? Kirain udah dari tadi." Ucap Bu Shelly berbasa-basi. "Tadinya sih kita mau pulang dari tadi Bu. Cuma males antri di lift. Mau jalan kaki lewat tangga kasihan sama betis saya Bu. Takut segede punyanya Mang Becak." Jawab Gita dengan santainya. Bu Shelly terkekeh mendengar ucapannya. "Saya kasihan sama dia, Bu." Gita mengedikkan kepalanya ke arah Caliana. Tepat saat Adskhan dan ketua tim Audit masuk dan pintu lift tertutup. "Kenapa?" "Acara dinner nya batal. Dia batal ngedate, jadinya gitu tuh. Cemberut dari tadi." Ledek Gita. Caliana memutar bola matanya mendengar ocehan sahabatnya itu. "Emang kamu lagi deket sama siapa, Na? Kok gak keliahatan, tiba-tiba mau dinner aja. Dia orang kantor kita?" Tanya Bu Shelly kepo. "Nanti Bu, kalo dah resmi, Saya yang umumin pake toa." Lanjut Gita lagi. Bu Shelly mengangguk. "Jangan lupa aja traktirannya." Jawabnya. Kemudian mereka turun dari lift yang memang sudah terbuka. Mereka menunggu Adskhan dan ketua tim berjalan lebih dulu. Baru Bu Shelly yang kemudian Gita serta Caliana. "Loe balik sama gue?" Tanya Gita. Caliana menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih saja berdenyut dan berjalan dengan kepala menggeleng hanya membuatnya kehilangan fokus. "Kenapa? Ini dah malem, loe gak bawa mobil." Caliana kembali menggelengkan kepala. Ia tak mau membuat Gita lelah karena harus mengantarkannya dan kembali ke kosannya sementara arah pulang mereka berbeda. "Kecuali loe mau nginep di rumah gue." Gita menyipitkan mata. Lantas menggelengkan kepala. "Lo yakin gak mau gue anter?" Tanyanya lagi. Caliana kembali menggelengkan kepala. "Ya udah, gue tungguin sampe ojol loe dateng." Ujar sahabatnya itu lagi. Caliana lagi-lagi menggeleng. "Udah, gue tahu loe capek. Sana pulang aja. Gue disini sama pak satpam." Caliana menegaskan. Gita menoleh ke arah pos satpam dan kemudian mengangguk pasrah. "Kalo ada apa-apa telepon gue." Perintahnya. Caliana mengangguk dan kemudian Gita berjalan menjauh menuju tempat dimana motornya diparkir. Caliana memilih duduk di kursi di dalam pos satpam. Satpam yang tengah berjaga tersenyum sopan ke arahnya dan mempersilahkan. Ketika Caliana merogoh ponsel dari tas nya dan hendak membuka aplikasi, seseorang berdiri menjulang di hadapannya. "Ayo, saya antar kamu pulang." Caliana mendongak dan mengernyit seketika. Apa yang pria itu katakan barusan bukanlah sebuah kalimat ajakan. Tapi perintah yang harus dilaksanakan oleh bawahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN