Ardan refleks menginjak rem sekuat tenaga. Benturan tak terhindarkan, namun setidaknya kecelakaan besar berhasil dicegah. Beruntung, posisi mereka berada di tepi jalan, dan arus kendaraan di belakang tidak terlalu padat, sehingga tabrakan beruntun dapat dihindari. "Astaga!" Luna tersentak, wajahnya menegang. Ia mengusap dadanya, merasakan jantungnya berdegup kencang. Napas keduanya masih memburu. Ardan yang masih gemetar segera menoleh ke arah Luna untuk memastikan keadaannya. "Kamu nggak papa?" tanya Ardan sambil mengguncang bahu Luna pelan. Luna hanya mengangguk sambil menghela napas panjang. Tangannya masih menekan dadanya, sementara kepalanya bersandar di kursi, mencoba untuk menenangkan dirinya. Tak lama kemudian, pengemudi mobil di depan keluar dengan ekspresi tidak menyen