Putri memelukku erat, sesekali dia menciumku. Ni anak.. "Apa sih Put?" "Biarin. Ini hari paling bahagia buat Putri," jawabnya mesra sambil mencium pipiku. Aku tersenyum kecut. Bahagia sih bahagia. Pipi sama wajahku masih memar gini semp@k.. Emang nggak sakit apa. Tapi, aku juga seneng. Ortu Putri keknya dah nyerah untuk mencegah anaknya kutiduri, eh salah, kunikahi. Buakakakaka. Putri juga terlihat lepas dari beban yang selama ini menghimpitnya. Matanya terlihat jernih dan tanpa beban. Cantik bener. Sumpah. Kalau kami sekarang ndak di rumah Putri dah ku ehm ehm dia. "Apa? Ngeliatin segitunya? Baru nyadar kalau Putri cantik? Humph," kata Putri sambil mengangkat dagunya. Semp@k. Nggemesin ni anak. Kami berpelukan di teras depan rumah Putri malam itu. Aku seneng dan tentunya bahagi