Dokter Syifa

1412 Kata

Rizal memarkir mobilnya di belakang bangunan rumah sakit. Hari ini dia datang terlambat, sehingga parkiran depan sudah penuh dengan kendaraan karyawan dan pasien yang berkunjung. "Pagi, Dokter." Begitulah sapaan dari beberapa wanita penghuni rumah sakit ini setiap kali Rizal melintas. Dia hanya mengangguk dengan wajah datar tanpa ekspresi. Hingga laki-laki itu sempat mendapatkan julukan si pelit, karena susah sekali tersenyum. "Hai, Dokter Rizal." Senyum Rizal memang langka dan mahal, kecuali untuk Tania. Sama seperti masker yang tiba-tiba sulit ditemukan saat wabah kabut asap melanda Sebagian pulau di Indonesia. Sebenarnya Rizal tidak terlalu peduli. Baginya, tidak harus selalu menanggapi omongan buruk dari siapa pun. Dia juga malas mengklarifikasi karena itu hanya membuang waktu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN