Ucapan Baili Qing Shi ini tentu saja membuat Wei Xiao Yue emosi. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu sampai dia benar-benar bisa menerka bahwa Li Jin tengah berpura-pura sakit parah.
Walaupun tubuh Li Jin sudah kurus, tapi itu bukan berarti dia sakit keras, bisa saja dia merindukan daging yang selalu dia makan sewaktu dirinya tinggal di istana.
“Apa yang ingin coba kau katakan?” Kata Wei Xiao Yue dengan tidak sabar.
“Jika Li Jin sakit, Yang Mulia Kaisar pasti akan menyalahkan Yifu.” Baili Qing Shi penuh dengan pemikiran, tapi kali ini dia benar-benar gegabah, “menghindari hukuman dengan berpura-pura sakit adalah hal yang paling kita hindari. Dia telah membuat onar, jadi..,”
“Hentikan!” Wei Xiao Yue berbalik dan berkata, “ini tidak seperti tuan muda Baili yang aku kenal. Kau terlalu banyak berpikir. Setelah kuda-kuda itu makan dan para tentara cukup beristirahat, kita akan segera kembali ke Luoyang.”
“Dan juga,” Wei Xiao Yue menoleh ke arah Baili Qing Shi, “aku akan mengambil alih mulai dari sini. Kau bisa kembali bersama tentara yang lain atau kau bisa membantu Ouyang Yuze. Jangan tinggal menganggur.”
Baili Qing Shi memang terburu-buru kali ini. Dia masih belum memiliki bukti bahwa Li Jin hanya berpura-pura sakit untuk menghindari hukuman. Tapi firasat tuan muda Baili tidak pernah meleset. Dan kebenaran akan hal ini hanya diketahui oleh Li Jin dan kasim kecilnya.
“Apa aku sudah cukup kurus?” Li Jin tengah berada di kamar khusus yang ada di penginapan dekat pos militer. Dia tampak mengoleskan sesuatu di bibirnya, “dengan bubuk ini, wajahku pasti menjadi tambah pucat.”
Kasim kecil itu mengangguk, “Yang Mulia sudah benar-benar terlihat sakit dan kurus. Hamba yakin bahwa Kaisar tidak akan sampai hati untuk menghukum Yang Mulia. Terlebih lagi Yang Mulia adalah putra kesayangan Kaisar. Yang Mulia Kaisar sangat menyayangi Yang Mulia.”
Mendengar ucapan dari Gonggong-nya, Li Jin tidak bisa tidak bahagia. Ya, setidaknya dia merasa harus mendapatkan kompensasi atas semua hal yang telah dia korbankan. Dia rela berpuasa, tidak makan selama beberapa hari, menahan dirinya dari godaan para wanita b****l yang selalu berhasil mengikatnya, dan menahan dirinya dari anggur yang sangat dia sukai. Alhasil dia berhasil membuat tubuhnya menjadi kurus kering. Setidaknya dia telah kehilangan empat belas hingga lima belas jin dalam waktu dua hari.
“Ayah Kekaisaran tidak akan menghukumku jika aku sakit. Tapi dia tetap akan melakukannya jika aku sehat.” Li Jin melihat pantulan wajahnya di cermin perunggu, “ayah Kekaisaran berubah. Dia menghukumku dan mengirimku ke perbatasan. Ini pertanda bahwa dia akan mendidikku dengan cara keras. Dan aku tidak menyukainya.”
Li Jin menyerahkan bubuk bedak itu pada kasim kecilnya, dan kasim itu mengambilnya dengan dua tangan. Kasim kecil itu berkata, “Yang Mulia terlalu banyak berpikir. Jangan terlalu memikirkannya. Yang paling terpenting saat ini adalah Yang Mulia adalah pewaris tahta dan itu sudah cukup. Anggap saja ini sebagai bentuk ujian.”
Li Jin berdiri dari kursinya, dia meminum air untuk mengenyangkan perutnya yang kelaparan. Tubuhnya yang semula kekar dan berisi kini telah berubah menjadi potongan kulit dan tulang. Jika Li Jin membungkukkan tubuhnya sedikit, dia akan terlihat seperti nenek tua berusia ratusan tahun.
“Yang Mulia, ini Wei Xiao Yue.” Suara tiba-tiba terdengar dari balik pintu.
Li Jin segera bersandiwara, “oh, masuklah Jenderal.”
Li Jin yang kurus kering duduk di atas sebuah bangku, dia nampak menyedihkan dan lemah. Wei Xiao Yue yang melihat hal ini bahkan merasa iba.
“Ada apa Jenderal?” Menyadari bahwa Wei Xiao Yue tengah memperhatikannya, Li Jin yang takut ketahuan segera berkata, “ada hal penting apa sehingga kau datang kemari?”
Wei Xiao Yue telah memakai pakaian perang khasnya. Armor berat Jenderal telah melekat di tubuhnya yang tinggi. Dia nampaknya telah siap bertugas, “perjalan ke ibukota Luoyang akan segera dilajutkan. Ini siang hari, jika kita tidak lagi berhenti, maka kita bisa sampai sebelum tengah malam.”
“Kalau begitu kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi.” Li Jin berdiri dari bangkunya dan dengan bantuan kasim kecilnya dia keluar dari ruangan.
Wei Xiao Yue tentu saja harus membiarkan Putra Mahkota keluar terlebih dahulu, jadi dia masih berada di ruangan saat Li Jin sudah melewati ambang pintu itu. Dan akhirnya dia menyadari ketakutan yang telah diungkapkan oleh Baili Qing Shi padanya.
“Xiao Baili benar,” kata Wei Xiao Yue. “Putra Mahkota memang tidak pernah berubah. Dia berulah lagi.”
Wei Xiao Yue akhirnya tahu jika Li Jin hanya membuat kebohongan. Dia tidak sakit, tapi dia benar-benar kurus. Li Jin sengaja menyiksa dirinya agar dia tidak dihukum oleh Kaisar. Tapi apakah Wei Xiao Yue mendengar percakapan Li Jin dengan kasim itu?
Jawabannya tidak!
Wei Xiao Yue samasekali tidak mendengar obrolan antara tuan dan budaknya itu. Dia mengetahuinya dari ruangan Li Jin. Indera penciuman Wei Xiao Yue bisa disejajarkan dengan indera penciuman anjing. Ya, dia benar-benar peka akan bau, dan karena inilah dia bisa tahu bahwa Li Jin memang berbohong.
“Tidak ada bau herbal atau obat di ruangan ini. Hanya ada kendi air.” Wei Xiao Yue tersenyum ketir, “putraku memang yang terbaik.”
Jika niatan Li Jin adalah menghindari hukuman dan jika dia berhasil nantinya, maka yang harus menanggung kemarahan Kiasar Li Wei dan selir Mo Yun adalah Jenderal Wei. Dia telah ditugaskan untuk menjaga Putra Mahkota, jadi akan sangat fatal akibatnya jika sampai terjadi sesuatu pada sang ahli waris.
Tidak sampai di situ saja, sejauh ini Wei Xiao Yue telah menanggung satu beban. Itu adalah insiden penculikan Li Jin yang terjadi Jiangnan. Walaupun Baili Qing Shi telah berjasa dan begitu pun Wei Xiao Yue, sehingga Li Jin bisa ditemukan dalam keadaan selamat, tapi hukuman karena berbuat lalai tetap akan dirapatkan. Dan jika masalah Putra Mahkota yang sakit ini terdengar sampai ke telinga Kaisar, maka jangan tanyakan lagi apa yang akan terjadi.
Kaisar Li Wei tidak mungkin akan mencabut jabatan dari Wei Xiao Yue, tapi membuatnya pincang dengan cara menghukumnya dan memindahkan lokasi kerjanya adalah pilihan yang juga tidaklah buruk. Kemungkinan besar hal ini akan dilakukan Kaisar Li Wei. Alasannya sepele, Kaisar Li Wei masih takut dengan kekuatan militer klan Wei.
Tapi melihat bagaimana reaksi Wei Xiao Yue yang nyaris setenang suasana di gunung Taishan, pastilah ayah angkat dari Baili Qing Shi itu telah memiliki rencana.
Baili Qing Shi berada di barisan belakang kaveleri. Dia tengah berada di atas kudanya, cukup tenang tapi merasakan kebosanan di waktu yang bersamaan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Wei Xiao Yue, seakan-akan memiliki banyak nyawa cadangan, Yifu-nya itu benar-benar tidak kenal takut.
*/
Sementara itu, ibukota Tang Agung, Luoyang, tengah dipenuhi oleh barisan rakyat. Bahkan ornamen-ornamen seperti bendera, terompet dan bunga sudah terlihat menghiasi jalanan menuju ke gerbang istana. Para rakyat Luoyang sengaja melakukan hal ini karena mereka ingin menyambut pahlawan mereka. Ya, Kaisar Li Wei telah mengumumkan secara resmi bahwa pasukan militer Tang Agung telah berhasil membawa kemenangan bagi Tang.
Hal seperti ini adalah hal yang wajar, apalagi dengan kembalinya Jenderal muda terbaik Wei Xiao Yue. Hati rakyat bahkan berhasil ditenangkan setelah gejolak selama beberapa tahun terakhir karena posisi Jenderal Militer yang kosong. Kini Jenderal Wei Xiao Yue telah kembali, jadi situasi langsung aman terkendali.
Hal yang berbeda tentu saja dirasakan oleh selir Mo Yun. Jauh dibandingkan dengan kemenangan pasukan militer Tang Agung, Mo Guifei lebih mengkhawatirkan nasib putranya. Dia takut jika Kaisar Li Wei benar-benar akan menghukum Li Jin. Ketakutan terbesarnya adalah pencabutan gelar Putra Mahkota.
“Yang Mulia, Yang Mulia selir jangan terlalu banyak berpikir. Putra Mahkota tidak akan dihukum berat oleh Kaisar.” Melihat saudarinya dirundung rasa cemas yang berlebihan, Perdana Menteri Kanan, Mo Chun tidak bisa tidak memberikan saran, “alih-alih mengkhawatirkan hal yang belum pasti terjadi. Mengapa Yang Mulia tidak membuat Kaisar mengubah pemikirannya.”
“Apa maksudmu kakak?” Tanya Selir Mo.
Entah apa yang telah dikatakan oleh Perdana Menteri Kanan pada Mo Guifei sehingga kecemasan selir Mo tiba-tiba lenyap. Selir Mo bahkan telah keluar dari paviliunnya dan dengan semangat menuju ke aula. Itu terjadi di malam hari, beberapa jam sebelum pasukan militer tiba di istana.
“Yang Mulia, kali ini Jenderal Wei Xiao Yue benar-benar teledor.” Selir Mo sedang menuangkan teh untuk Kaisar Li Wei saat dia berkata, “dia telah lalai dalam menjaga Putra Mahkota. Apa menurut Yang Mulia dia tidak pantas dihukum kali ini?”
Kaisar Li Wei diam dan tidak mengatakan apa-apa. Jauh dilubuk hatinya dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh selir Mo. Bertahun-tahun dia mencoba untuk melemahkan kekuatan militer klan Wei, tapi bertahun-tahun pulalah dia mengalami kegagalan. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.
“Kau mencoba untuk membuat orang lain menanggung kesalahan dari Putra Mahkota lagi Mo Guifei?!” Suara tenang tapi mengiris hati itu terdengar begitu Permaisuri Liu Li Shu memasuki Aula.
“Permaisuriku.” Kaisar Li Wei sedikit terkejut.
Selir Mo, “Yang, Yang Mulia, aku tidak bermaksud,”
“Rupanya kau masih belum jera. Kau masih tidak mengerti dengan apa yang aku katakan waktu itu.”
Permaisuri Liu Li Shu yang sebelumnya telah memberi hormat pada Kaisar Li Wei akhirnya duduk di tempat Selir Mo tadi duduk.
“Yang Mulia,” Permaisuri Liu Li Shu menatap wajah suaminya saat dia berkata, “Putra Mahkota adalah pewaris tahta. Dia harus menjadi contoh. Jika dia melakukan kesalahan, maka dia harus dihukum terlepas dari siapa dan apa statusnya.”
“Dan juga, Jenderal Wei Xiao Yue tidak bersalah dalam hal ini.” Permaisuri Liu Li Shu dengan tenang berkata, “dia bahkan layak untuk diberi penghargaan atas jasanya.”
Kaisar Li Wei merasa bahwa permaisurinya sedikit salah, “permaisuriku, memberinya penghargaan? Apa maksudnya?”
Permaisuri Liu Li Shu, “ada beberapa alasan kenapa aku berani mengatakan ini.”
“Apakah Yang Mulia lupa? Jika bukan karena bala bantuan dari pasukan militer yang dipimpin oleh Jenderal Wei, maka kemungkinan besar bagi pasukan kita akan kalah menjadi semakin tak terbendung. Yang selanjutnya, jika bukan karena Jenderal Wei, maka Putra Mahkota pasti tidak akan bisa ditemukan.” Permaisuri Liu Li Shu memberikan cangkir berisi teh hangat pada Kaisar Li Wei, “dia telah menyelamatkan Tang Agung dan dia juga telah menyelamatkan calon Kaisar. Dua hal ini bukankah sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya sebagai pahlawan?”
Kaisar Li Wei akhirnya menyadari kesalahannya. Jika dia mengikuti apa yang dia pikirkan dan apa yang dikatakan oleh selir Mo, maka dia pasti akan menjadi bahan tertawaan rakyat. Beruntung Permaisuri Liu Li Shu yang cerdas telah memberinya pencerahan. Jika tidak, Kaisar Li Wei pasti sudah akan melakukan apa yang diusulkan oleh selir Mo.
“Kau benar Permaisuriku,” kata Kaisar Li Wei.
Mo Guifei hanya bisa gigit jari ketika dia melihat rencananya hancur di depan matanya sendiri. Rencana Selir Mo awalnya adalah untuk membunuh dua burung dengan satu batu. Yang pertama, dia ingin menyelamatkan putranya dari hukuman. Dan yang kedua, dia dan Perdana Menteri Kanan, Mo Chun, ingin menjatuhkan Wei Xiao Yue. Berharap jika Perdana Menteri Kiri sekaligus Jenderal Militer itu akan lumpuh dalam pergerakannya.
*/
“Pasukan Militer Tang telah tiba! Pahlawan Tang Agung telah tiba!” Suara keras ini terdengar dari pintu gerbang ibukota Luoyang saat pasukan militer akhirnya memasuki ibukota Luoyang.
Sambutan dari para rakyat Luoyang ramai terdengar di seluruh penjuru. Karena tiba di malam hari, tembakan dari kembang api juga ditambahkan. Tapi di tengah-tengah kemeriahan ini, Li Jin terpaksa harus bersembunyi di keretanya. Dia hanya bisa melihat keramaian dari balik tirai. Namun walaupun demikian, Li Jin tentunya tidak akan melupakan sesuatu.
“Lihatlah, itu adalah Putra Mahkota!” Teriakan rakyat terdengar di telinga Li Jin.
“Dia terlihat sangat kurus, dia pasti telah berjuang mati-matian sehingga dia tidak bisa makan dan menjaga dirinya dengan baik.”
Segala macam pujian ditujukan pada Li Jin.
Alhasil rencana Li Jin berhasil.
Apa rencananya? Apa lagi jika bukan menarik simpati dari rakyat ibu kota.
Baili Qing Shi kini tengah bersama dengan Ouyang Yuze. Dia berada di atas kudanya sembari mendengarkan pujian-pujian itu. Benar-benar memuakkan!