Nyonya Wina memijit pelipisnya perlahan.
“Kalian nggak tahu rasanya jadi seorang ibu,” gumamnya lirih. “Sekali saja anak berbohong… semuanya bisa runtuh.”
Bik Mumun dan Maman saling pandang, tak berani menimpali.
“Kapan Papi pulang, Man?” suara Nyonya Wina terdengar parau.
Maman menoleh ke jam dinding yang berdetak lambat, menambah sunyi yang menyesakkan. “Sudah hampir, Nya. Mungkin sebelum jam lima, Tuan sudah di rumah.”
Nyonya Wina mengangguk perlahan. Napasnya teratur, tapi matanya masih menyimpan badai.
Ia menatap bungkus testpack di tangannya sekali lagi sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja. Seolah benda kecil itu bisa meledakkan segalanya kapan saja.
“Kalian boleh kembali kerja,” ucapnya datar.
Maman dan Bik Mumun segera pamit mundur, meninggalkan sang nyonya sendirian di kamar putrinya.
Begitu pintu tertutup, Nyonya Wina jatuh terduduk di tepi ranjang. Pandangannya terarah pada foto Laura yang tersenyum di pigura kecil.
“Laura… apa yang kamu sembunyikan dari Mami?” bisiknya pelan.
Suaranya nyaris tenggelam oleh dentingan jam dinding yang berdetak semakin keras di telinganya.
**
**
Malam itu, rumah keluarga Prastiyo berdiri tenang di bawah cahaya bulan yang lembut. Namun ketenangan itu hanya tipuan—karena badai sebenarnya baru menunggu di ruang kerja Tuan Pras.
Laura masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan. Senyumnya masih tersisa, hangat dan malu-malu. Jemarinya masih merasakan sisa genggaman tangan Aris, hangat dan menenangkan.
Dunia seolah sempurna malam ini… sampai suara Bik Mumun memecah suasana.
“Non Laura sama Mas Aris sudah ditunggu Tuan Papi di ruangannya.”
Langkah Laura langsung terhenti.
Ia menoleh ke arah Aris dengan dahi berkerut. Tatapan mereka bertemu, sama-sama memantulkan tanda tanya yang belum terjawab.
“Tumben Papi manggil kita berdua,” gumam Laura pelan, nada gugup mulai menyelinap.
Aris menepuk lembut punggung tangan kekasihnya. “Tenang. Mungkin cuma mau ngobrol soal undangan pernikahan.”
Laura mengangguk ragu, berusaha menenangkan diri dengan senyum tipis. “Semoga aja…”
Namun begitu pintu ruang kerja terbuka, udara di dalam terasa tebal. Bau wangi kopi hitam bercampur dengan ketegangan yang bisa dirasakan sejak langkah pertama.
Tuan Pras duduk di balik meja, ekspresinya gelap dan kaku.
“Duduk,” ujarnya singkat.
Laura dan Aris menurut.
Jantung Laura berdetak tak karuan, sementara Aris mencoba tetap tenang meski tatapan tajam Tuan Pras membuat tengkuknya kaku.
Beberapa detik hening berlalu. Lalu suara keras menghantam meja.
Brak!
Tuan Pras menggebrak meja.
Lalu sebuah bungkus terlempar, jatuh di atas meja kayu.
“Ini apa, Laura?” suara Tuan Pras berat, menggetarkan udara.
Laura menatap benda itu—bungkus testpack. Wajahnya seketika pucat, darah seolah surut dari seluruh tubuhnya.
Aris membeku, pandangannya berganti antara benda itu dan wajah tunangannya.
Tuan Pras menatap Laura dan Aris secara bergantian.
“Sejak kapan kalian berani melakukan hal seperti ini?” Nada suaranya meninggi, amarah yang selama ini tertahan meledak. “Dan kamu, Aris… selama ini Om percaya penuh padamu. Tapi sekarang?”
Laura membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar selain helaan napas yang nyaris serak. “Pi… i–itu… bukan—”
Namun sebelum ia sempat menjelaskan, Aris memotong cepat. Suaranya serak tapi mantap. “Maafkan aku, Om.”
Laura menoleh kaget. Tatapannya penuh kebingungan.
Ia hanya bisa membeku di tempat. Pandangannya membulat sempurna, menatap Aris dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Kata “maaf” yang meluncur dari bibir tunangannya barusan terasa seperti petir yang menyambar langit malam yang tadinya tenang.
“Ini bukan salah Laura,” suara Aris terdengar berat, namun mantap.
Ia menunduk, menatap lantai seolah tak sanggup menatap siapa pun di ruangan itu.
“Aku yang salah, Om. Seharusnya aku bisa menahan diri. Aku yang harusnya minta maaf.”
Suara itu menggema pelan di ruang kerja yang kini terasa sesak.
Tuan Pras menatapnya tajam, urat di pelipisnya menegang. Napasnya tersengal tertahan, antara marah dan kecewa.
Ia mengusap wajahnya pelan, lalu berkata dengan nada yang dingin seperti bilah baja. “Suruh Papimu datang menemui Om. Tanggal pernikahan kalian harus dipercepat.”
Keputusan itu meluncur begitu saja, tanpa jeda. Tanpa ruang bagi siapa pun untuk menolak.
Laura menatap Aris dengan wajah yang nyaris tanpa warna. Hatinya campur aduk—antara terharu, takut, dan bingung.
“Bang… kenapa?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Aris menoleh sekilas. Pandangannya lembut, tapi di balik mata itu ada sesuatu yang sulit ditebak.
“Dan kamu, Laura. Di mana testpack-nya?” Kali ini suara Tuan Pras terdengar menahan geram. “Kamu nggak hamil kan?”
Seolah ingin mendengar kata tidak dari mulut sang putri, Tuan Pras sampai tidak berkedip menatap ke arah bibir Laura.
Bibir Laura bergetar pelan. “Maafin aku, Pi.”
Bukan kata iya atau tidak. Tapi cukup menjelaskan semuanya.
Tuan Pras menunjuk Laura dan juga Aris. “Keluar kalian!” usirnya.
Laura tidak berani menjawab lagi. Ia bisa melihat betapa besar kecewa yang terpancar dari wajah sang ayah.
**
**
Aris menarik tangan Laura tanpa banyak bicara. Genggamannya dingin, tegang, dan nyaris menyakitkan.
Ia menyeret gadis itu menuju kamar tamu, menutup pintu dengan satu hentakan, lalu memutar kunci dengan bunyi klik yang terdengar begitu menusuk.
Laura terdiam.
Jantungnya berdetak cepat, napasnya tak beraturan. Ia tahu, Aris bukan tipe yang mudah meledak—tapi malam ini, sesuatu dalam dirinya telah pecah.
Aris menatapnya tajam. Rahangnya mengeras, matanya dipenuhi amarah dan rasa dikhianati.
“Apa ini, Ra?” suaranya rendah, serak, tapi sarat tekanan. “Kamu selingkuh sama siapa?”
Laura menggeleng cepat. “Enggak, Bang. Aku nggak pernah selingkuh.”
Senyum miring terbit di wajah Aris, namun bukan senyum hangat yang biasa ia berikan—melainkan senyum getir yang lahir dari kecewa.
“Terus gimana kamu bisa… hamil?” katanya pelan tapi menusuk, setiap katanya seperti cambuk yang menghantam d**a Laura. “Siapa cowok itu, Ra?”
Laura mundur selangkah, lalu dua langkah ke belakang. Suara langkahnya bergema di ruangan yang hening.
Tangannya bergetar, tubuhnya menegang. “Aku bisa jelasin, Bang. Tolong dengerin aku dulu—”
“Tutup mulutmu!” desis Aris. Nada suaranya dingin, tapi matanya berapi.
Dalam tatapan itu, Laura melihat cinta yang berubah bentuk jadi amarah.
Bruk!
Punggung Laura membentur dinding. Napasnya tercekat saat Aris mendekat, mengurungnya di antara tembok dan tubuhnya yang tegang penuh emosi.
“Jawab, Laura!” Aris mencengkeram dagunya, membuat Laura mendongak. Jemarinya gemetar, bukan karena ragu—tapi karena terlalu marah untuk berpikir jernih. “Siapa cowok itu?”
“Dia—” suara Laura bergetar, air mata menitik.
“Siapa?!” bentak Aris lagi, lebih keras, lebih getir.
Tangan Aris yang semula di dagu turun perlahan ke leher Laura, menelusuri kulitnya dengan tekanan yang tak seharusnya.
“Ba—Bang… aku…,” suara Laura terputus. Ia mencoba meraih tangan Aris, matanya memohon. “Tolong, dengerin aku…”
Tatapan Aris menusuk tajam, seolah hendak mengulit habis setiap kebohongan yang mungkin disembunyikan Laura.
“Regan?” tanya Aris pelan, tapi tajam bagai bilah pisau yang baru diasah.
Laura membeku.
Napasnya tersangkut di tenggorokan, tangan mungilnya berusaha melepaskan cekalan di lehernya. “Bang… aku—”
Namun kata-katanya terhenti.
Dalam hati, ia menjerit lirih, 'Regan, tolong gue ….'
Nama itu melintas begitu saja, menjadi jeritan batin yang bahkan tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Senyum sinis menyelinap di bibir Aris. “Jadi bener dia orangnya?”
Nada suaranya meninggi, tak lagi bisa dikendalikan. Amarahnya bergetar di udara, menekan d**a Laura sampai sulit bernapas.
Laura menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. Ketakutan mulai menggerogoti hatinya.
Pria di hadapannya—yang dulu ia puja karena kelembutan dan tutur halusnya—kini menjelma asing, penuh bara dan ketegangan.
Ia baru sadar, cinta yang tampak tenang bisa berubah menjadi jerat yang mencekik.
“Aku nggak akan biarin kamu bersatu sama dia,” ucap Aris dengan suara serak penuh amarah. “Nggak akan pernah!”
Tangannya terlepas dari leher Laura. Gadis itu terbatuk keras, memegangi tenggorokannya yang memerah. Napasnya tersengal, namun matanya tak lepas dari sosok Aris yang kini tampak begitu gelap dalam sorotan lampu redup kamar.
“Uhuk… uhuk… Bang, tolong… dengarin aku dulu…”
Namun Aris tak memberinya ruang. Pandangannya membara, penuh keputusan yang tak bisa ditawar. “Besok kita nikah.”
Laura menatapnya dengan mata membulat lebar. “Hah?!”