Letta terperanjat. Tubuhnya refleks menegang, lalu dengan cepat ia menoleh ke arah pintu. “Lo ngapain masih di sini?” Ryan berdiri setengah canggung di ambang pintu. Tangannya terangkat, menggaruk tengkuk, seolah mencari alasan yang terdengar masuk akal. “Ada yang ketinggalan.” Bohong. Kalimat itu bahkan tak sempat ia yakini sendiri. Ada sesuatu yang menahannya pergi. Perasaan ganjil yang mengganjal d**a. Rasa tak tega melihat Letta sendirian di apartemen yang terlalu sunyi untuk seseorang yang sedang menahan sakit. “Oh. Ya udah sana buruan pergi,” usir Letta. Tatapannya kembali turun ke arah lukanya, jemarinya sibuk dengan kapas dan perban. Berpura-pura tak terpengaruh oleh kehadiran Ryan yang masih membatu di sana. Ryan mendecak pelan. Ada kekesalan yang terselip di antara napasn

