Bab 7. Ancaman Aris

1425 Kata
[Ra, lo nggak apa-apa kan? Gue coba nelpon Regan, tapi nomornya nggak aktif. Lo belum baikan sama dia?] —Letta. Laura menatap tulisan itu lama, namun jarinya tidak bergerak. Ia tahu jika ia membalas, Letta akan semakin khawatir. Tapi kepalanya sudah penuh—penuh oleh ketakutan, marah, lelah, dan bayangan Regan yang terus menempel di benaknya. Ia memejamkan mata, mengembuskan napas berat. Yang paling membuatnya muak bukan Letta, bukan orang tuanya, tapi dirinya sendiri—karena tiap kali mengingat kejadian yang membuat hidupnya berantakan ini, wajah Regan selalu muncul duluan. Dan itu membuat dadanya semakin sesak. Laura menggenggam ponsel di d**a, mencoba menenangkan napasnya. Tapi ruang itu terasa semakin sempit, seakan subuh tidak membawa cahaya… hanya memperjelas betapa sendirian dirinya saat ini. ** ** Pukul sembilan pagi. Langit cerah, lampu kristal berpendar indah, dan lantai marmer memantulkan siluet para tamu. Semuanya tampak sempurna—kecuali perempuan yang berdiri di samping Aris dengan tangan gemetar. Laura bahkan nyaris tak merasakan napasnya sendiri ketika prosesi selesai. Janji suci baru saja terucap, namun rasanya seperti belenggu yang dikunci tanpa kunci cadangan. Aris mencondongkan tubuh, senyumnya tersungging tipis. Dari luar tampak lembut, namun suaranya adalah pisau dingin yang menyelinap ke tulang belakangnya. “Senyum, Ra. Jangan sampai ada yang mikir macam-macam tentang kita. Atau… kamu mau Regan mati?” Darah Laura berhenti mengalir seketika. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. “Jangan sentuh Regan.” Suaranya tertahan, penuh gemuruh amarah yang ia paksa untuk tidak meledak. Aris tidak menjauh. Justru semakin mendekat, sengaja membuatnya terkurung dalam jarak yang tidak ia inginkan. Senyum sinisnya seakan menyerap cahaya dari ruangan itu. “Kalau kamu mau dia tetap aman… turuti semua yang aku bilang, Laura. Tanpa kecuali.” Ada jeda yang panjang. Jeda yang membuat d**a Laura terasa seperti dicekik dari dalam. Ia menghela napas, pelan tapi panjang—seakan mencoba mengumpulkan serpihan ketegaran yang tersisa. Tanpa pilihan lain, ia mengangkat wajah… menarik sudut bibirnya yang kaku… dan menampilkan senyum yang bahkan tidak sempat menyentuh matanya. Para tamu melihat pengantin baru bahagia. Yang mereka tidak lihat adalah pergulatan di balik mata Laura—patah, takut, tapi masih berusaha mencari celah kecil untuk bebas. Walau sesempit apa pun. Setelah prosesi janji suci, foto keluarga, dan lempar bunga selesai, Laura baru bernapas sedikit lega—hingga tangan Letta meraih pergelangannya dan menariknya menjauh dari kerumunan. Begitu mereka sampai di sudut ruangan yang lebih sepi, Letta langsung memeluknya erat, seolah mencoba menahan sesuatu agar tidak pecah. “Ra… maafin gue.” bisiknya, pecah di telinga Laura. Laura menahan napas. Ia membalas pelukan sepupunya, mencoba menyalurkan ketenangan yang bahkan tidak ia miliki. “Nggak apa-apa, Lett. Beneran. Bukan salah lo. Semalam gue cuma… lagi bimbang aja.” Bohong. Bohong yang ia telan dalam-dalam. Bohong yang ia ucapkan demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang benar-benar peduli padanya. Letta nggak boleh tahu. Letta nggak boleh terlibat. Letta mengusap punggung Laura pelan. “Kalau ada apa-apa, cerita ke gue, ya. Dan gue harap lo sama Regan bisa baikan.” Laura melepaskan pelukan itu perlahan. “Hm, iya. Pasti.” Padahal yang pasti justru adalah: ia makin jauh dari Regantara daripada sebelumnya. Acara itu tidak seramai pernikahan pada umumnya—karena terlalu mendadak, hanya kerabat dan tetangga dekat yang hadir. Di satu sisi Laura bersyukur. Di sisi lain, ia berharap keramaian itu ada… agar ia bisa menghilang tanpa ada yang memperhatikan. “Tapi lo beneran nggak apa-apa, kan, Ra?” Letta mengulang lagi, suaranya bergetar cemas. Laura menoleh sedikit. Di ujung ruangan, Aris sedang berbincang dengan kerabatnya dan Tuan Pras. Namun tatapannya bukan pada mereka—melainkan pada Laura. Mengawasi. Mengunci. Keduanya bertukar pandang singkat. Aris mengangkat satu alis, nyaris tak terlihat oleh orang lain, tapi Laura tahu maksudnya. Jangan macam-macam. “Raa…” Letta memanggil pelan, menyadarkan Laura yang sempat terpaku. “Hah? Apa, Lett?” Laura memaksa tawa kecil. “Sorry, tadi Bang Aris ngedipin mata ke gue. Jadi gue gugup.” Entah sudah berapa kebohongan yang ia ucapkan hari ini. Mungkin akan lebih banyak lagi nanti. Mungkin sepanjang hidupnya bersama Aris. Letta menghela napas panjang. “Padahal gue semalam udah seneng banget pas lo nelpon. Gue pikir lo… sadar, Ra.” Laura tertawa pelan—tawa ringan yang dibuat-buat, agar Letta tidak melihat retakan yang sebenarnya. “Memangnya lo pikir selama ini gue pingsan?” Letta mendecak. “Susah memang kalo ngomong sama orang bucin.” Laura tersenyum samar. Andai Letta tahu yang sebenarnya, ia pasti tidak akan menyebutnya bucin. Karena ini bukan cinta. Ini perang yang tidak pernah ia pilih. ** ** Malam itu jatuh dengan sunyi yang berat. Usai makan malam di rumah orang tuanya, Aris langsung menggiring Laura keluar tanpa memberi ruang untuk menolak. Mobil melaju senyap menuju rumah pribadinya—rumah yang kini menjadi tempat Laura dipaksa menetap. Begitu pintu kamar tertutup, Aris menatapnya datar. “Jangan berharap malam pertama dariku. Tidur saja.” Laura mengangguk tipis, bibirnya menegang. 'Siapa juga yang berharap,' gumamnya dalam hati, getir. Aris membuka lemari, namun bukan untuk mengambil piyama. Ia mengenakan kemeja rapi, menyusul jaket hitam yang menegaskan dinginnya aura yang ia bawa sejak pagi. Laura menyipitkan mata. “Abang mau ke mana?” “Bukan urusan kamu.” Nada suaranya dingin, memotong udara. “Jangan ikut campur di hidupku.” Laura menelan ludah perlahan. Jadi ini wajah aslinya? Pria hangat yang selama ini ia tunjukkan cuma topeng? Ia memejamkan mata sejenak, memarahi dirinya sendiri. 'Dasar bodoh. Harusnya gue percaya Letta dari awal.' Aris mendekat setengah langkah, membuat jarak mereka semakin sesak. “Ingat, Laura. Jangan coba-coba kabur. Aku nggak tahu bisa segila apa kalau itu terjadi.” Laura menunduk, menyembunyikan gemuruh di dadanya. Ia tidak ingin menatap mata Aris—mata yang tajam seperti ancaman yang tak pernah selesai. Drrrrttt… drrrrttt… Ponsel Aris bergetar panjang. Ia mengangkatnya cepat, tanpa jeda. “Hm. Di mana?” Suara seorang lelaki terdengar berat namun sopan. [Baru pulang dari luar kota, Bos.] Aris menyeringai tipis. “Bagus. Awasi terus.” Ia melirik ke arah Laura saat mengucapkan kata terakhir, seakan ingin memastikan Laura mengerti siapa yang sedang diawasi. Laura merasakan rumah itu lebih mirip kandang—dan dirinya, seseorang yang sedang dijaga bukan dengan cinta… melainkan dengan ancaman. Apa begini yang disebut malam pertama? ** ** Sementara itu, di sudut kota yang jauh dari riuh pesta keluarga Prastiyo, Regantara berdiri di depan konter ponsel dengan wajah lelah setelah perjalanan panjang dari Surabaya. “Jadi lama, ya, Pak? Nggak bisa langsung jadi?” tanyanya, suaranya terdengar sabar tapi gelisah. Petugas konter menggeleng. “Minimal sehari, Mas. Kalau alatnya harus pesan dulu, bisa tiga sampai empat hari. Tergantung bagian apa yang rusak.” Regantara menahan helaan napas yang keluar terlalu berat. “Ya sudah… saya beli baru aja, Pak.” Petugas itu tampak antusias. “Silakan, Mas. Mau yang mana?” Ponsel Regantara memang rusak—layarnya retak parah setelah jatuh ketika pemotretan di Surabaya. Mungkin itu alasan mengapa ia seperti menghilang dari dunia semalaman… tanpa tahu bahwa seseorang sedang menunggunya dengan kalut. Regantara menunjuk satu model ponsel terbaru. “Yang ini. Dua, Pak.” Petugas mengangkat alis. “Dua? Buat pacarnya, ya, Mas?” Regantara hanya tersenyum kecil, samar, seperti seseorang yang ingat pada seseorang di kejauhan. Ia teringat layar ponsel Laura yang retak di sudut atas—ceroboh, impulsif, tapi selalu berhasil membuatnya menghela napas dengan cara yang berbeda. Meski hubungan mereka rumit, rasa peduli itu tak pernah padam. Beberapa saat kemudian, kedua ponsel sudah siap. Regantara memasukkan kartu SIM ke perangkat barunya, berharap ada pesan yang masuk—walau tidak benar-benar siap dengan apa pun yang akan ia temukan. Ternyata ada. Sepuluh pesan dari Laura. Dua pesan dari Letta. Dadanya langsung mengencang. Petugas menyerahkan kembalian. “Ini kembaliannya, Mas.” “Nggak usah, Pak.” Regantara menerimanya sekilas, namun matanya terpaku pada layar ponselnya. “Buat Bapak aja.” Ia tidak membuang waktu. Pesan-pesan itu dibacanya satu demi satu, dan kecemasan mulai merayap dari tenggorokan hingga ke dadanya. Mereka meminta bantuan. Mereka menyuruhnya datang ke rumah Tuan Pras. Semuanya ditulis dengan nada panik. “Ada apa?” bisiknya lirih. “Nggak mungkin… kalau Laura kenapa-napa, kan? Jangan-jangan…” Ia tidak selesai menebak. Otaknya langsung membayangkan kemungkinan paling buruk. Tanpa menutup pesan-pesan itu, ia berlari kecil menuju mobilnya, langkahnya tergesa, hampir terseret oleh ketakutan yang tiba-tiba menyerang. Namun saat ia hendak menyeberang. Sebuah suara mesin meraung keras dari sisi kanan. Regantara mendongak. Sebuah truk melaju terlalu cepat. Terlalu dekat. Naluri membuatnya bergerak mundur, menghindar secepat mungkin. Tapi truk itu tidak berbelok. Tidak mengurangi kecepatan. Seolah justru mengarah padanya. “Hei—!” BRUK! Tubuh Regantara terpental. Suara hantaman memenuhi udara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN