“Akkhh …!” pekik Reihan sekencang-kencangnya karena ingin meluapkan emosin yang tidak bisa dia bendung. Rasa sesak di dadanya seakan enggan untuk pergi. Bukan hanya itu saja, bahkan bayangan Ana juga seakan tidak mau enyah dari pikirannya. “Sialann … Kenapa selalu Ana? Dia benar-benar perempuan yang memuakkan. Apa aku harus memohon supaya dia membawa bayangannya enyah dari hati dan pikiranku,” lanjut Reihan dengan sisa-sisa luapan emosi. Tanpa ia sadari suara giginya terdengar saling beradu. Namun, sepertinya monster yang berwujud pria tampan itu tidak memperdulikannya. “Aku memang harus segera bertemu dengan Dewa!” lanjut Reihan. Memikirkan istri sahnya yang selama ini dia sia-siakan, membuat kepala Reihan terasa seperti hampir pecah. Nama yang tidak pernah ia sematkan di dalam

