Reihan datang ke rumah Dewa untuk bertemu dengan istrinya lagi. Kali ini dia berharap perempuan itu sudah lebih tenang dari sebelumnya. “Ngapain lagi lo datang ke rumah gue lagi?” tanya Dewa tidak suka. “Gue mohon, gue harus bertemu dengan istri gue. Bantu gue, Wa! Ada sesuatu yang harus gue sampaikan padanya,” pinta Reihan penuh permohonan. “Gue harap, lo jangan buat Ana ketakutan seperti waktu itu. Psikisnya sudah mulai membaik dengan konseling tanpa sepengetahuan dia. Jadi gue mohon jangan buat usaha gue untuk menyembuhkan psikisnya jadi sia-sia,” pinta Dewa bernada tegas. Reihan hanya bisa diam mematung karena secara tiba-tiba seperti ada yang mengiris hatinya dan rasa nyerinya sampai terasa menjalar ke dadanya. Dia tidak pernah menyangka jika luka yang dia torehkan ternyata se

