53

1054 Kata

Satu hari kemudian ... Pinka sudah siuman dari tidur panjangnya. Ia tidak mengeluh sama sekali. Saat terbangun, Pinka langsung menanyakan keadaan bayinya. Hanya bayi itu satu -satunya kenangan yang tersisa dari Sean. Kedua mata indah Pinka langsung tertuju ke arah Ibu Kyai yang setia menunggunya dari awal masuk rumah sakit hingga bayinya lahir lalu menjaga Pinka sampai tersadar. Satu tangannya memegang perutnya yang sudah kempes dan satu tangannya lagi memegang kepalanya yang masih sedikit terasa pening. "Bayiku? Mana bayiku? Kenapa perutku tidak ada?" tanya Pinka sedikit histeris. Ia ingat hari naas itu. Kepalanya begitu sakit dan perutnya terasa keram hingga pandangannya kabur dan Pinka terjatuh terpeleset di kamar mandi. "Pinka ... Pinka sayang ... Bayimu sudah lahir sayang. Bayimu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN