Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Kini Sella tengah terduduk di salah satu halte dekat kantor. Sebetulnya bisa saja dia pulang sejak tadi, namun William sudah lebih dulu mewanti-wanti agar pekerjaannya selesai malam ini. Alhasil Sella hanya bisa pasrah menurut. Malam hari bukan lagi hal menakutkan bagi Sella. Walaupun di depan matanya banyak sisi yang gelap, gadis itu tidak lagi perduli. Seharian ini Sella mengontrol Ayahynya melalui video call. Ayahnya memang sudah sedikit membaik, itu semua karena lancar cuci darah. Sella kembali termenung ketika dia mengingat proses Ayahnya bisa cuci darah. Semua karena William. Apa kalau Sella kekeh tidak mau menikah, pria itu akan lepas tangan soal rumah sakit? Tin! Tengah asik melamun Sella dikagetkan suara klakson. Ditatapnya mobil ber

