Theya tidak ingin langsung mempercayai prediksi Rahayu. Meskipun jantungnya berdetak kencang seolah membenarkan apa yang wanita tua itu sampaikan, tapi Theya tetap bertahan. Dia mensugesti dirinya sendiri jika dirinya hanya terlambat. Menstruasinya belum datang. “Ada apa? Kenapa melamun? Masih bingung mau ambil keputusan apa?” Nisa menghampiri sang teman. Theya masih menginap di rumah sang teman. Theya menoleh, lalu menggeleng. Sepasang matanya mengikuti pergerakan sang sahabat. “Trus, kenapa? Dari tadi melamun terus.” Televisi di depan sang teman menyala, tetapi tidak sanggup menarik perhatian sang penghuni ruangan. Theya terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Theya menghembuskan napas. Sepasang matanya masih mengikuti sang pemilik rumah hingga wanita itu duduk di sebelahnya. Nisa