Bab 9

1038 Kata
"b******k!! Apa yang b******n itu lakukan!!" Geram James. Dan menelpon asistentnya. "BERESKAN b******n ITU! JANGAN BIARKAN DIA HIDUP!!" teriak James lalu mematikan telponnya. Cathlyn tidak berhenti menggeliat dan meracau asal. James lelaki normal. Dia menelan kasar salivanya. Menahan geloranya. Dengan cepat dia menggendong Cathlyn dan ia masukkan ke dalam Bathtub yang dia isi full dengan air dingin. Sudah sepuluh menit. Tapi Cathlyn tambah liar dan kesakitan karena efek obat yang diberikan di minumannya. "James.. tolong aku.." lirih Cathlyn. James menatap nanar mata Cathlyn yang begitu sayu dan wajahnya yang begitu pucat. Efek alkoholnya sudah hilang. Jadi saat ini Cathlyn bicara dengan kesadaran penuh, namun efek obat perangsang tidak hilang malah tambah menjadi dan menyiksa dirinya. "Jamesssss... aku tidak mau mati!!! " seru Cathlyn dan menangis. "Baiklah sayang.. aku akan melakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta.. hmm??" Akhirnya James memutuskan membantu Cathlyn melepaskan reaksi obat setan itu. James mengangkat tubuh Cathlyn dan mengeringkan tubuhnya dengan lembut di atas ranjang. Pria tampan itu pun dengan lembut dan cinta memperlakukan Cathlyn. Wanita yang begitu dia cintai. "Aku akan menjagamu seumur hidupku... i love you Cath.." ucap James ketika mereka telah selesai melakukan aksi penuh cinta itu. FLASHBACK OFF --- Pagi ini Audie sudah bertransformasi menjadi Marissa. (Mama fokus pakai nama Marissa biar gak bingung ya. Karena Marissa dan Audie adalah orang sama, namun kalau di bab ini campur antara Marissa dan Audie takutnya jadi bingung) Sedangkan Maria sudah mengenakan wax wajah untuk membuat efek kerutan di sekitar dahi, pipi dan lehernya. Makanya Maria tidak terlalu khawatir pada saat bertemu dengan Alex dan Tommy di club semalam. "Ok Mom.. Uncle.. Aku pergi dulu!" seru Marissa dan keluar dari Apartmentnya. Marissa masuk ke dalam lift biasa dan turun ke lobi. Dan dia pun melihat mobil warna silver yang dimaksud James. Bipp bip.. Marissa masuk ke dalam mobil. Dan melihat interiornya. "Uncle benar-benar menyulapnya!!" senyum puas Marissa. Marissa bergegas melajukan mobilnya ke Perusahan Ferdily Corporation. Tempat dimana dia akan menjadi seorang sekretaris Alexavier Ferdinand. Dua puluh menit perjalanan. Akhirnya Marissa tiba juga. Ia tidak membuang - buang waktu, dia langsung menuju ke bagian resepsionis dan menanyakan ruang HRD. "Selamat pagi.. Ruang HRD di bagian mana?" tanya Marissa ke salah satu staff resepsionis. "Pagi.. Ada perlu apa ya?" tanya balik Staff wanita itu dan melihat penampilan culun Marissa. "Saya sudah membuat janji dengan kepala bagian HRD Ibu Debora," jawab Marissa pertegas urusannya. Karena dia mulai melihat tatapan merendah dari staff wanita tersebut. Betul saja. Wanita didepannya ini langsung mengubah raut wajahnya. Setelah mendengar nama HRD. "Baik nona. Silahkan ke lantai dua belas. Disitulah ruangan Bu Debora." jawabnya dengan sopan. "Ahh Baik. Kalau begitu saya permisi," balas Marissa. "Ck.. Dasarr...!" gumam Marissa mengingat staff wanita tadi. Ia menuju lantai dua belas sesuai info yang dia dapat. Tinggg! Pintu lift terbuka. Marissa segera menuju ke ruangan Debora. Tok tok tok "Iyah masuk" jawab suara seorang wanita berumur tiga puluhan. "Selamat pagi Bu Debora, Saya Marissa Lashon," sapa Marissa sopan dan tersenyum ke arah Debora. "Ahh.. Nona Marissa, silahkan duduk," balas Debora dengan lembut. "Terimakasih Bu Debora." "Dan ini berkas saya.." lanjut Marissa sambil memberikan map coklat yang dia bawa. "Ok Marissa.. Mari kita langsung menuju ke ruangan kamu dan bertemu Presdir," ucap Debora dan hanya menyimpan map coklat di atas meja dari Marissa. Karena Debora sudah mendapatkan amanah langsung dari Ferdinand. Jadi dia merasa tidak perlu membaca ulang profil Marissa. "Baik bu.. Terimakasih banyak," Marissa pun menyusul mengikuti Debora dari belakang. Mereka naik ke lantai lima belas. Ting! Pintu lift terbuka. Lantai di sini sungguh luas. Hanya ada tiga ruangan. Dan hanya dibatasi kaca tebal tiap ruangan. "Marissa.. Di sini adalah ruangan kamu, dan ini ruangan Pak Tommy, beliau adalah Asisten Pribadi Tuan Alexavier. Dan ruangan yang di tengah ini adalah Ruangan Tuan Alexavier," Debora mencoba menjelaskan dengan singkat dan padat. "Simpanlah dahulu tas kamu di ruangan kamu, dan kita menghadap ke Tuan Alexavier," lanjutnya lagi. "Ahh baik bu.." patuh Marissa. Dia pun segera masuk ke ruangannya. Dan menyimpan tasnya diatas meja. Tok tok tok.. "Masukk." "Pak Tommy, Marissa sudah datang," ujar Debora ke Tommy. "Ahhh ok.. Mari kita ke ruangan Tuan Alex," jawab Tommy dan berdiri dari duduknya. "Hmmm.. Benar yang dikatakan Alex," gumam Tommy dalam hati melihat penampilan Marissa dari bawah ke atas. Tok tok tok... Tommy pun membuka pintu. Dan masuk ke dalam disusul Debora lalu Marissa paling belakang. "Pagi Tuan Alex.." sapa Tommy ke Alex yang masih serius menatap layar macbooknya. "Ahhh.. Pagi Tom.. Ada apa ?" balas Alex yang akhirnya mengangkat wajahnya ke arah mereka. "Oh my god!! Sungguh tampan!" gumam Marissa melihat Alex yang sungguh berbeda pada saat menjadi seorang presdir. "Silahkan Bu Debora.." Tommy mempersilahkan Debora yang memperkenalkan Marissa. "Selamat pagi Tuan Alex. Ini perkenalkan sekretaris baru Tuan. Marissa Lashon," ujar Debora. Marissa pun berjalan maju dan memperkenalkan diri. "Tuan Alexavier, perkenalkan nama saya Marissa Lashon," Marissa sedikit menundukkan kepalanya sebagai hormat. Deggg... "Suara ini sangat familiar," batin Alex. Alex menggelengkan kepalanya.. "Tidak mungkin!" batinnya lagi dan melihat Marissa dari atas ke bawah. "Selamat bekerja Marissa. Semua tugas kamu nanti akan di jelaskan oleh Tommy," ujar Alex. "Baik kalau begitu Tuan Alex," jawab Marissa. "Kalau begitu kami permisi Tuan." imbuh Tommy. Mereka bertiga pun keluar dari ruangan Alex. "Saya pamit Pak Tommy," izin Debora. "Ok Bu Deb ! " jawab Tommy. "So.. Marissa mari ke ruangan saya," ujar Tommy. "Baik Pak," Marissa pun menyusul dan masuk ke ruangan Tommy. "Ini adalah beberapa dokumen yang harus kamu selesaikan hari ini," ujar Tommy sambil memberikan setumpuk berkas. "Whattt!!" teriak Marissa dalam hati. "Baik Pak!" namun hanya itu yang bisa diucapkan Marissa. "Dan kalau sudah selesai tolong serahkan ke Tuan Alex," lanjut Tommy lagi. "Baik Pak." "Ok Marissa !! Selamat bekerja !" seru Tommy lagi. Dan membukakan pintu untuk Marissa. Karena saat ini tangan Marissa penuh dengan tumpukan kertas dan map. Begitu Marissa keluar. Tommy mengirimkan pesan singkat ke Alex. "Misi sudah diberikan.." chat Tommy. "Baguslah.. Mari kita lihat sampai mana dia bertahan..." balasan chat Alex. Sesungguhnya Alex kurang senang dengan Marissa. Karena Marissa menjadi sekretarisnya atas rekomendasikan kedua orang tuanya. Marissa yang sudah ada dalam ruangan hanya bisa menghembuskan nafas berat. Dan menaruh dokumen - dokumen itu di atas meja. "Baiklah!!! You can do it girl!" seru Marissa kepada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN