Bandara Soekarno-Hatta pagi itu ramai seperti biasa. Tapi dalam keramaian, Sheila merasa seperti berjalan di antara gelembung kaca—segalanya terdengar sayup, dan langkahnya terasa terlalu ringan atau terlalu berat. Ia menarik koper kecil sambil menggenggam boarding pass dengan tangan dingin. Pesan terakhir dari Galih semalam hanya empat kata: “Jaga dirimu, ya.” Tanpa emoji. Tanpa tanda baca. Dan mungkin yang paling menyakitkan adalah: tanpa suara. Pesawat mendarat tepat waktu. Udara Singapura dingin dan bersih, terlalu tertib untuk seseorang yang hatinya sedang kacau. Panitia konferensi menyambutnya ramah. Ia dibawa ke hotel, diberi rundown, dan dibiarkan istirahat sampai sesi malam: gala opening dinner untuk pembicara dan moderator. Sheila masuk kamar, meletakkan koper, dan baru sa

