Dari nada suara Galih, Sheila menyadari bahwa menyebut Harris sebagai “sejarah” mungkin bukan pilihan kata yang tepat. Tapi sudah terlambat. Harris bodoh, dan hari itu dia membuktikannya lagi. Kenapa pria itu tak bisa cukup profesional untuk mengangkat kepala dari ponsel, menyapa, lalu pergi?
“Kami pernah bertunangan,” kata Sheila akhirnya. “Jelas, itu tidak berhasil.”
“Kau bertunangan dengan pria yang bahkan tak menghormatimu?” tanya Galih, matanya menyipit tajam.
Ia benar. Harris memang memperlakukannya dengan dingin, bahkan saat mereka masih bersama. Sheila tahu, seharusnya ia sudah menyudahi semua lebih awal. Namun ada hal-hal yang tak ingin ia bahas—terutama soal bagaimana kakek dan ayahnya, Roderick, bereaksi terhadap berakhirnya pertunangan itu.
"Ini rumit," katanya pelan, berharap Galih tidak mendesaknya lebih jauh.
“Berapa banyak pria yang kau coba nikahi?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan itu menusuk, dan sejenak membuat bulu kuduk Sheila berdiri. Apakah dia menghakiminya?
"Aku tidak tahu kenapa itu relevan," jawabnya datar.
“Apakah ada orang lain di gedung ini?” Galih melirik sekeliling seperti sedang menilai semua pria yang mungkin menjadi ancaman. Tapi lalu ia mengangkat tangan, geleng kepala, dan berkata ringan, “Sudahlah. Pecat dia.”
Sheila menoleh cepat. “Apa?”
“Pecat. Dia.” Galih menelusurkan jari ke lehernya dalam gerakan menggorok yang dramatis.
“Aku tak bisa memecatnya tanpa alasan yang kuat. Itu akan terlihat seperti balas dendam atas pertunangan yang gagal.”
“Tapi dia tidak menghormatimu, dan sikapnya menciptakan lingkungan kerja yang tidak bersahabat. Ini kerajaanmu, Luce. Pertahankan.”
Sheila menatapnya lama, mencerna kata-kata itu. Selama ini ia membiarkan Harris tetap bekerja di perusahaan, karena kakeknya tak mengizinkan pemecatan. Tapi kakeknya sudah tiada. Peery Diamonds kini miliknya.
Kerajaan ini milikku.
Galih dulu pernah berkata padanya: Perjuangkan apa yang menjadi milikmu.
Sheila menarik napas dalam, memeluk kembali tekadnya. Ia telah mencoba menjadi perempuan mandiri, tapi membiarkan orang lain memperlakukannya seperti tak berharga adalah bentuk kegagalan juga.
“Kau benar,” katanya tenang. “Aku akan periksa kontraknya. Kalau memungkinkan, aku akan menyingkirkannya.”
Galih tampak sedikit terkejut. “Kau langsung setuju?”
Sheila tertawa. “Kau terdengar mencurigakan.”
“Yah, kau harus akui...”
“Aku tidak cukup bodoh untuk bertahan di jalan yang salah saat seseorang menunjukkan jalan yang lebih baik. Harga diri penting, tapi tidak sepenting membuat keputusan yang tepat.”
Galih tersenyum, meremas tangannya lembut. “Aku bangga padamu.”
“Aku juga,” jawab Sheila sambil menyeringai.
Tiga ketukan di pintu memecah momen. Tepat pukul sembilan. Tim desainer dari The Diamond Palace dan MyJewelry masuk. Di belakang mereka, Bianca mencatat dengan cekatan seperti biasa.
"Aku tidak tahu kau akan di sini," kata Selena, salah satu kepala desainer The Diamonds Palace, melirik Galih.
“Aku ingin melihat sendiri bagaimana keadaannya,” jawab Galih sambil merapikan rambutnya yang dikuncir.
Rapat dimulai. Tim The Diamond Palace langsung ke inti—kebiasaan lama yang diwariskan dari era kakek Sheila. Tak ada basa-basi, hanya desain dan strategi. Sheila mengamati rancangan baru mereka—cantik dan romantis, meskipun dominan dengan nuansa merah muda yang bukan kesukaannya. Tapi keberadaan emas merah muda dan berlian merah jambu membuat koleksi itu bernilai tinggi. Selena menyarankan menjualnya sebagai edisi terbatas dengan harga premium.
Mo, pimpinan desain dari MyJewelry, memperkenalkan konsep “Japan Flower.”
Galih mengangkat alis. “Japan Flower?”
“Setiap bunga dan pohon punya makna. Misalnya, hortensia ungu berarti ‘hati yang tulus’,” jelasnya sambil menunjukkan sketsa desain.
Bunga-bunga itu akan terlihat menakjubkan jika dipotong dan dipasang dengan sempurna. Bros, jepit rambut, liontin... Tapi ukurannya terlalu besar untuk cincin.
“Aku suka,” kata Sheila sambil tersenyum.
“Segalanya akan bisa disesuaikan,” tambah Selena.
Patrick menunjuk pada gelang pasangan yang menggemaskan, dengan mekanisme kunci dan liontin. “Untuk pasangan yang belum siap menikah, tapi ingin berkomitmen,” jelasnya.
Galih bertanya, “Kalau kuncinya hilang?”
“Bisa diganti di toko berdasarkan nomor seri,” jawab Patrick.
Sheila membayangkan bagaimana kampanye pemasarannya bisa dibangun dari simbolisme ini. Ia merasakan kembali percikan kegembiraan yang sempat hilang.
“Apa tanggapan Hae Min Group?” tanyanya.
Bianca menjawab sambil menatap layar laptop. “Belum ada. Saya mengirim email sejak Rabu dan meminta jawaban paling lambat Senin waktu mereka.”
Sheila mengerutkan kening. Jepang 16 jam lebih cepat. Mereka sudah seharusnya membalas.
“Hubungi mereka lagi,” perintahnya.
“Siap.” Devi mulai mengetik.
Setelah semua orang pergi, Galih menatap Sheila. “Pakah mereka sering terlambat?”
“Sayangnya, ya. Ini sudah ketiga kalinya,” jawabnya.
“Ada perubahan manajemen?”
“Tidak. Aku sangat selektif dalam memilih mitra. Tapi... kurasa ini bisa jadi karena perbedaan budaya. Mereka sering berkata sesuatu ‘sulit’, tapi maksudnya sebenarnya ‘tidak bisa’. Dan kadang, mereka terlalu berputar-putar dalam menjawab.”
Galih diam sejenak. “Mau aku tangani?”
Sheila menggeleng pelan. “Terima kasih, tapi tidak. Kesepakatan ini adalah bagian dari kontrakku dengan keluargamu. Aku tak bisa memintamu turun tangan dalam tanggung jawabku.”
Galih tidak memaksa. “Kalau begitu, kirimkan semua dokumen kolaborasi padaku. Aku ingin menelitinya. Mungkin aku bisa bantu mempercepat proses.”
Media gosip bernama Lambe Turahitu dikenal sebagai pengecut berjubah keberanian, yang akan langsung menyerah saat dihadapkan pada ancaman serius.
"Kalau mereka tak mau kerja sama, lanjutkan gugatannya," kata Galihdingin, sebelum mengakhiri panggilan.
Ia kembali menunduk pada dokumen kolaborasi Galih yang berserakan di mejanya. Proyeksi awalnya ambisius namun masuk akal. Tetapi pelaksanaannya? Penuh penundaan. Komunikasi buruk. Kecelakaan demi kecelakaan.
Setidaknya, tim Sheila bekerja baik dalam mencatat setiap insiden secara kronologis. Dan dari catatan itu, Galihbisa dengan jelas melihat: sebagian besar kekacauan seharusnya bisa dihindari... jika Sheila punya pengalaman lebih dan tim yang lebih solid.
Salah satu penyebab terbesarnya? Sikap Harris—pria itu berbicara kepada Sheila seolah ia bukan CEO. Dan Galih yakin, Harris bukan satu-satunya orang dalam organisasi yang memperlakukannya seperti itu.
Satu apel busuk bisa merusak seluruh keranjang.
Ia menarik napas panjang. Mungkin Sheila memang terlalu cepat memikul peran besar. Mungkin, demi keselamatannya sendiri, dia perlu mundur dari posisi CEO. Bukan menyerah—hanya mundur selangkah untuk membangun pengalaman, lalu kembali dengan lebih kuat.
Tantangannya adalah: bagaimana cara mengatakannya tanpa menyakiti hati Sheila?
Galihsudah punya pengalaman buruk soal ini. Ketika ia menyarankan pada Preston—saudara tirinya—untuk belajar dari bawah, reaksi Preston seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Tapi Sheila bukan Preston. Ia hanya... bisa saja tersinggung. Atau lebih buruk: membenci Sebastian.
Harus dibicarakan dengan hati-hati. Ia mencatat itu dalam benaknya, lalu bangkit untuk menghadiri pertemuan makan siang dengan salah satu manajer regional terbaik GalihJewelry.
Saat melangkah keluar dari kantornya, matanya menangkap lukisan jari yang ditempel di salah satu bilik. Di bawahnya, foto keluarga—pasangan muda dengan bayi dalam pelukan.
Ia berjalan perlahan. Di bilik lain, ada boneka kecil. Tanaman hidup. Lebih banyak foto keluarga. Meja-meja yang terasa... hidup.
Pertemuan makan siang di restoran Italia Aylster berlangsung produktif. Tapi bagi Galih, Jerry bukan hanya seorang manajer regional. Ia adalah simbol konsistensi dan keandalan. Pria itu tenang, rendah hati, dan memiliki mata cerdas di balik kumis tipis. Tubuhnya kekar hasil latihan pagi, dan perhiasannya hanya satu: cincin kawin dari platinum polos.
Tidak ada drama. Tidak ada gaya flamboyan. Hanya integritas dan dedikasi. Itu kualitas yang Galihhargai lebih dari segalanya.
“Anak bungsumu lulus tahun ini, kan?” tanya Galihsambil menyendok potongan terakhir dari cheesecake-nya.
"Ya," jawab Jerry, tersenyum. “Kau ingat.”
“Berapa banyak waktu yang kami punya?”
“Paling lambat akhir tahun fiskal ini.”
Galihm enatapnya serius. Ia sedang menyiapkan Jerryuntuk jabatan COO.
Saat mereka keluar, Galih melihat Gempita meninggalkan Nieve bersama agennya. Pandangan mereka bertemu. Gempita mengatakan sesuatu pada agennya, lalu berjalan menghampiri Galih.
Jerry, penuh taktik, segera pamit.
Gempita mendekat dalam balutan gaun merah mencolok. Kulitnya bersinar. Matanya bercahaya. Tapi Galih tidak terkesan.
“Mengapa kau datang ke pesta hari Sabtu?” tanyanya, nadanya datar.
Gempita mengangkat alis. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya.”
Tangannya menyentuh bahu Sebastian—gerakan yang ia abaikan.
“Ini tidak lucu, Gabriella.”
Gempita mendesah. “Sebastian... Istrimu yang mengirim undangan itu.”
“Apa?”
“Kalau bukan dia, berarti kamu.”
“Tidak mungkin,” jawab Sebastian. “Sheila tidak akan pernah mengundangmu. Dan aku lebih tidak mungkin lagi.”
Gempita mengangkat bahu. “Tidak penting siapa yang mengirim. Yang penting, aku datang.”
Galihmengepalkan rahangnya. “Kau tetap bisa memilih untuk tidak datang.”
“Aku penasaran. Benarkah Galih jatuh cinta pada Sheilapada pandangan pertama? Pria yang aku kenal tak mampu melakukan itu.”
Galih mendengus. “Kau bisa saja bertanya.”
“Dan kau akan bohong.”
Ia mulai kehilangan kesabaran. Tapi sebelum ia membalas, Gempita mengangkat tangannya.
“Aku tidak bilang kau pembohong. Tapi kita sering percaya apa yang ingin kita percaya.”
“Jadi?”
“Jadi aku ingin melihat sendiri. Aku tak bisa bilang aku menyukai Sheila. Karena aku masih... menyukai kamu.”
Galih diam.
“Kau adalah salah satu pacar terbaik yang pernah kumiliki,” lanjut Gabriella. “Tapi kurasa... kau memang menyukainya.”
“Tentu saja. Dia istriku.”
Gempita tertawa kecil, menepuk bahunya. “Bukan itu alasannya. Tapi teruslah percaya begitu.”