Bab 94

885 Kata

Hujan baru saja reda. Langit masih kelabu, tapi udara terasa ringan. Rumah tampak tenang. Raka bermain balok di ruang tengah, menyusun warna-warni seperti menara yang tak pernah selesai. Sheila duduk di sudut sofa dengan kedua kakinya dilipat ke samping, laptop terbuka di pangkuan. Ia mengetik pelan, lalu berhenti. Menatap layar. Menghapus satu kalimat. Mengetik ulang. Menghapus lagi. Sudah lima hari sejak tulisannya viral. Sudah lima hari pula ia menolak semua tawaran wawancara, undangan talkshow, dan permintaan komentar publik. Sore ini, ia hanya ingin menulis untuk dirinya sendiri. Tanpa embel-embel “ibu cerdas”, “penulis muda”, atau “influencer pengasuhan progresif.” Galih muncul dari dapur membawa dua potong pisang goreng dan secangkir teh madu. “Makan dulu, Bu Penulis.” Sheila

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN