etelah percakapan dingin di meja makan itu, Sheila tak langsung naik ke kamar. Ia berjalan ke dapur, menuang air hangat ke gelas kaca bening, dan bersandar di meja—punggungnya nyeri, tapi yang lebih berat adalah perasaan ditarik kembali ke ruang yang sudah ia tinggalkan: ruang tempat ia dulu belajar mencintai dengan rasa takut. Ibu duduk di sofa ruang tengah, menonton siaran berita sore. Suara pembaca berita terdengar datar, seakan tak menyadari ketegangan yang masih tertinggal di udara rumah itu. Sheila menatap ibu dari jauh. Perempuan itu tampak tenang, mengenakan daster biru lembut dengan rambut yang diikat rapi. Tapi di balik semua kerapian itu, Sheila tahu: ibunya tidak pernah sepenuhnya merasa cukup sebagai ibu. Dan kini, mungkin, sedang menumpahkan ketakutannya pada putri yang sed

