"Aduh, Galih... aku nggak kuat bangun pagi ini," suara Sheila terdengar lelah bahkan sebelum dia selesai mengucapkannya. Galih menoleh dari dapur, spatula di tangan. "Lagi mual lagi?" “Bukan cuma mual. Kayaknya... pusing juga. Sama pegal dari leher sampai kaki. Bawa badan aja rasanya kayak gendong karung beras isi dua puluh kilo.” Galih langsung mematikan kompor. “Kamu rebahan aja. Biar aku beresin sarapan Raka.” “Tapi kamu kan harus berangkat...” Galih mendekat. “Hari ini aku kerja dari rumah, kan?” Sheila menatapnya lega. “Kamu yakin bisa beresin semua?” Galih tersenyum. “Please, aku udah jadi bapak dua anak. Setengah resmi.” Sheila tertawa kecil. “Oke, Captain. Kalau Raka minta roti dibentuk truk, good luck.” Sementara Sheila kembali ke kamar, berbaring dengan satu bantal di ba

