Part 10

1635 Kata
Galih duduk dan memutar lehernya, berusaha menghilangkan rasa pegal yang menghantuinya. Sudah menjadi rutinitasnya untuk bangun sebelum pukul enam, tetapi pagi itu kepalanya terasa sedikit pusing akibat kurang tidur. Ia tidak bisa menyalahkan tempat tidur yang tidak dikenalnya, karena kasur itu cukup nyaman. Bukan pula karena apartement besar yang begitu luas dan tenang. Yang mengganggunya adalah bau deterjen yang familiar, yang entah bagaimana, mengingatkannya pada Sheila. Tidak ada alasan logis untuk hal itu mengganggunya, tetapi nyatanya, ia tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan setelah mencoba mengalihkan pikirannya dengan merokok, berharap hal itu akan membantunya rileks, ia tetap merasa gelisah. Setelah mandi sebentar, Galih mengambil beberapa pakaian olahraga dari koper yang dikirim petugas tadi malam, lalu melangkah keluar ke aula yang panjang dan sunyi. Kamar Sheila berada di ujung seberang apartement seluas 400 m2. Memiliki kamar tidur terpisah bukanlah sesuatu yang pernah ia pikirkan akan diterima dalam pernikahan, tetapi ini bukanlah situasi biasa. Sheila membuatnya merasakan hal-hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—emosi yang tidak logis dan tidak teratur. Ia tidak pernah mengharapkan Sheila menatapnya seperti menatap orang yang dicintainya, tetapi ia juga tidak seharusnya kehilangan ketenangannya. Bahkan sekarang, saat mengingat bagaimana Sheila meleleh dalam genggamannya, tubuhnya bereaksi tanpa bisa dikendalikan. Namun, Galih menolak untuk membiarkan dirinya terbawa suasana lagi. Apartement Sheila di Jakarta berada di Komplek Apartement Davinchi, apartement mewah yang berada di Jalan Sudirman adalah bangunan megah berlantai 34. Lokasi Apartement Sheila berada di lantai paling atas dengan pemandangan yang luar biasa. Semalam, Sheila mengajaknya berkeliling untuk menunjukkan setiap sudut apartementnya. Tiga kamar tidur, 2 kamar kerja, empat kamar mandi, dan jatah parkir 10 mobil. Ruang tamu yang besar dan ruang entertainment dengan TV 80 inch, ruang fitness, dua dapur lengkap, dan ruang service untuk asisten rumah tangga dan juga supit. Semua dirancang dengan elegan dan modern. Salah satu kamar kerja telah diubah menjadi kantor pribadi untuknya—sikap perhatian lain dari Sheila yang tidak ia duga. Sejujurnya, banyak hal tentang Sheila yang bertentangan dengan ekspektasinya. Galih berjalan ke arah ruangan fitness. Ruangan itu sudah diisi dengan suara musik yang mengalun lembut. Matanya langsung menangkap sosok Sheila yang sedang berlari di atas treadmill. Tidak seperti kebanyakan wanita di lingkungannya yang berolahraga hanya untuk berfoto dan berpose, Sheila tampak benar-benar serius. Keringat membasahi wajahnya yang memerah, dan tubuhnya bergerak dengan ritme yang stabil. “Pagi,” sapanya di antara napas yang terengah-engah. Galih hanya mendengus, merasa sedikit terganggu dengan efek suara napasnya yang mengingatkannya pada kejadian di limusin semalam. Darahnya menghangat. “Kalau kau mau lari, aku punya waktu lima belas menit lagi,” kata Sheila. “Tidak.” Galih menelan ludah, matanya tak bisa menghindari pemandangan tubuh Sheila yang begitu sempurna dalam balutan pakaian olahraga. Sheila hanya mengangkat bahu dan kembali fokus pada latihannya. Napasnya yang sedikit terengah-engah terdengar begitu menggoda, meskipun Galih berusaha mengabaikannya. Galih menuju power rack untuk melakukan squat. Namun, pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan Sheila yang bergerak lincah di atas treadmill. Ia melihat pantulannya di cermin besar di ruangan itu, menyaksikan bagaimana tubuhnya bergerak, bagaimana keringat mengilap di kulitnya. Saat Sheila beralih ke latihan peregangan di palang pilates, Galih merasa tubuhnya semakin panas. Gerakan Sheila begitu lentur dan memukau. Ia menarik kakinya ke belakang hingga hampir menyentuh punggungnya, dan saat ia sedikit membungkuk, mendorong dadanya ke depan, Galih kehilangan fokus sepenuhnya. Ia menjatuhkan diri dari pull-up bar, berusaha mengendalikan pikirannya yang semakin liar. Ketika Sheila akhirnya selesai dan berbalik menatapnya, ia tersenyum. “All yours.” Galih tahu maksudnya adalah pusat kebugaran itu, tetapi otaknya menangkap makna yang berbeda. Dengan langkah panjang, ia mendekati Sheila. Mata Sheila membelalak saat ia semakin mendekat, keterkejutan tergambar jelas dalam tatapannya. “Berapa banyak pria yang melihatmu berpose seperti itu?” suaranya rendah, nyaris menggeram. Sheila mengernyit. “Aku tidak pernah menghitung. Kenapa?” Seolah wajar baginya untuk memperlihatkan tubuhnya seperti itu di depan pria lain. Sesuatu dalam diri Galih mengakar kuat—hasrat untuk menandainya, untuk membuatnya mengerti bahwa ia adalah miliknya. Ia menarik Sheila lebih dekat, menekan tubuhnya ke tubuh Sheila hingga ia bisa merasakan panas tubuhnya melalui pakaian. Sheila tersentak, tetapi tidak menjauh. Sebaliknya, ia membalas dengan mendesah pelan. Tanpa berpikir, Galih mencium Sheila dengan penuh nafsu. Tidak ada kelembutan, hanya dorongan mentah dari hasrat yang telah tertahan. Jari-jarinya mencengkeram pinggang Sheila, menariknya lebih dekat, sementara Sheila mengalungkan tangannya ke lehernya. Namun, di tengah panasnya momen itu, pikiran logis Galih menyelinap kembali. Ia harus berhenti. Ia tidak akan mengambil risiko. Dengan usaha yang luar biasa, ia menarik diri. Napasnya masih berat saat ia berujar, “Sarapan.” Sheila menatapnya dengan mata yang masih berkabut oleh hasrat, seakan memahami apa yang baru saja terjadi. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Ketika mereka akhirnya duduk untuk sarapan di dapur, seorang pria tua yang tampaknya adalah pelayan pribadi Sheila menyambut mereka dengan sikap tenang dan sopan. “Selamat pagi,” katanya sambil menyajikan kopi untuk mereka berdua. Galih mengamati pria itu. Mata pria itu sempat melirik cincin kawinnya sebelum kembali ke ekspresi netralnya. Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang memberi kesan bahwa ia tidak menyukai Galih. “Apakah kamarmu nyaman?” tanyanya, suaranya terdengar terlalu santai. Galih tersenyum tipis, menyadari ketidaksukaan pria itu. “Sangat.” “Saya terkejut ketika Nona Sheila meminta saya untuk menyiapkan kamar tidur tambahan,” lanjut pria itu, nada suaranya masih sopan, tetapi ada sesuatu yang tersirat. Galih tidak ingin memberikan kesempatan untuk mendengar alasan asli mereka. Maka, dengan nada santai, ia berkata, “Sepertinya aku mendengkur.” Pelayan itu mengangkat alis, sementara Sheila menatap Galih dengan ekspresi tercengang. Pertukaran kecil itu membuat Galih semakin yakin satu hal—permainan ini baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan Sheila menguasai semuanya. Galih tidak mengganggu Sheila jika dia masih ingin tidur. Dia membutuhkan secangkir kopi sebelum pertandingan padelnya dengan Ganjar di Padel Pro Kemang, tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Biasanya, dia akan mengajak saudaranya untuk bermain bersamanya. Anggota lain di klub sering menunjukkan minat untuk menjadi lawannya, tetapi dia lebih suka menghindari mereka. Sebagian besar dari mereka lebih tertarik pada sosialisasi atau membahas bisnis sambil berpura-pura berolahraga, hanya demi menghapus biaya keanggotaan tahunan mereka yang mahal sebagai pengeluaran bisnis. Di dapur, Galih menyadari bahwa Asisten Rumah Tangga yang selalu tidak setuju dengan kehadirannya tidak ada di sana untuk pertama kalinya. Dengan sedikit kelegaan, dia membuat kopinya sendiri dan memakannya bersama dengan roti gandum dan keju dari lemari es. Saat dia menikmati sarapannya, ponselnya berdering. Layar menunjukkan panggilan dari Ganjar. Tanpa berpikir panjang, dia menyalakan speaker dengan volume rendah sambil mengunyah rotinya. “Kau sudah dalam perjalanan ke Kemang?” tanya Ganjar. Galih baru saja hendak menjawab ketika dia melihat Sheila keluar dari kamarnya. Dia berpakaian santai dengan kemeja berleher sendok dan rok pendek berlipit yang menonjolkan kakinya yang putih. Sheila melambaikan tangan sebagai ucapan selamat pagi, dan Galih hanya mengangguk santai. Dia lalu berdeham sebelum menjawab Ganjar. “Belum. Kenapa?” “Butuh privasi?” tanya Ganjar, bergumam di seberang telepon. Galih menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa pergi,” jawab Ganjar. “Kenapa tidak? Kau merusak sesuatu?” “Andin sedang menstruasi.” Galih merasakan kehadiran Sheila di belakangnya, mengambil kopi dari mesin espresso. Kehadirannya yang begitu dekat membuat udara di sekelilingnya terasa lebih tegang. Dia mencoba tetap fokus pada percakapan. “Lalu?” “Dia ingin aku mengusap perutnya.” Galih memutar matanya. “Ya Tuhan. Tidak bisakah dia melakukannya sendiri?” Sheila tersedak kopinya dan mulai batuk pelan. Tanpa berpikir panjang, Galih mengulurkan tangan dan menepuk punggungnya dengan lembut. “Bukan begitu cara kerjanya,” kata Ganjar dengan nada yang jelas mengejek ketidaktahuan Galih. “Kalau begitu, aku harus bermain dengan siapa?” “Guntur? Harry?” “Mereka sibuk hari ini.” “Ehm, Harry mungkin bisa.” “Tidak. Terakhir kali kami bermain, dia mengalami cedera hamstring saat mencoba mengembalikan servis pertamaku.” Galih mengerutkan kening, mengingat insiden itu. Ganjar menghela napas. “Ya, dia memang mengerikan. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi Andin membutuhkan aku.” “Aku bisa bermain denganmu,” kata Sheila tiba-tiba. Galih menoleh ke arahnya dengan ekspresi skeptis, bersamaan dengan suara Ganjar di telepon. “Siapa dia?” “Hai, aku Sheila.” Sheila tersenyum. “Hai, Sheila. Aku Ganjar. Senang bertemu denganmu. Dan ya, kalau kau bisa menggantikanku, itu akan sangat menyenangkan.” “Aku tidak bermain dengan wanita,” tegas Galih. “Jangan gender,” kata Ganjar sebelum menutup telepon. Galih menggertakkan giginya. “Sialan!” “Aku sebenarnya tidak seburuk itu,” kata Sheila sambil menyeruput kopinya. “Aku yakin kamu tidak,” balas Galih dengan nada tidak percaya. Dia menatapnya dari atas ke bawah, menilai apakah dia benar-benar tahu cara memegang raket dengan benar. “Tapi aku ingin bermain serius. Tidak akan bisa melakukannya denganmu.” “Oh, kau boleh bermain habis-habisan denganku,” balas Sheila dengan tatapan menantang dari balik cangkirnya. “Atau adakah alasan lain mengapa kau tidak mau bermain denganku?” “Bukan soal kamu. Aku hampir tidak pernah bermain dengan siapa pun selain saudaraku.” “Aku tidak akan cedera otot atau apa pun yang lebih buruk.” Galih mendesah. “Tidak.” “Ayo. Kita sudah menikah. Kita harus mencoba saling mengenal dan akur.” Sheila tersenyum penuh harap. “Manfaatkan situasi ini sebaik-baiknya.” Galih mendengus. “Aku tidak ingin mendengar rengekan atau melihat air mata.” Sheila mengangkat bahu. “Kalau begitu, mari kita buat taruhan.” “Apa yang kau pikirkan?” “Jika aku menang, kau menciumku.” Galih menatapnya dengan intens, melihat kilatan licik di matanya. Wajah Sheila sedikit memerah, tapi dia tetap mempertahankan ekspresi percaya diri. Galih mendekatkan wajahnya. “Percayalah, itu akan menjadi hadiah untukmu, bukan untukku.” Sheila tertawa kecil. “Baiklah. Tapi jika kau menang—meskipun itu tidak mungkin—aku meminta kau memberiku berlian baru.” Galih menyeringai. Taruhan ini baru saja menjadi jauh lebih menarik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN