Seminggu yang Lalu
Saat Galih berjalan menuju kantornya setelah rapat makan siang dengan manajer pengecer regional, ekspresi simpatik salah satu managernya terlihat jelas dalam lift. Dan pegawai perempuan meliriknya dengan ragu, seolah tidak tahu harus berkata apa saat dia melangkah keluar.
Di luar, Yogi berdeham saat mengikutinya ke dalam kantor. "Aku tidak yakin apakah kamu sudah melihat berita-berita itu…"
"Apakah itu yang kita sebut gosip tak berdasar akhir-akhir ini?" tanya Galih dengan nada sinis.
"Eh…" Yogi tampak ragu-ragu, matanya bergerak-gerak seolah tidak yakin bagaimana harus menjawab. "Tidak…?"
Galih memahami kegugupannya. Ini pertama kalinya dia menjadi bahan gosip v****r, sesuatu yang belum pernah dihadapinya sebelumnya. "Aku sudah melihatnya," katanya datar.
Mustahil untuk menghindarinya, meskipun dia tidak aktif di media sosial atau membaca tabloid. Namun, Harry, yang kecanduan setiap aplikasi media sosial yang ada, telah mengiriminya puluhan pesan teks pagi ini. Grup chat saudara-saudaranya penuh dengan reaksi mereka terhadap berita itu—sekelompok pria dewasa yang bertingkah seperti gadis-gadis SMA yang gempar dengan skandal terbaru. Galih sempat membaca beberapa artikel yang dikirimkan Harry. Nicholas benar—komentar-komentar di media sosial penuh dengan hinaan yang ditujukan kepada Sheila.
Sementara itu, Gempita sendiri akhirnya menghubunginya.
Gempita: Sekadar informasi, urusan media tidak ada hubungannya dengan saya. Saya tidak pernah memberikan pernyataan.
Galih tahu itu benar. Ini murni ulah paparazzi dan media gosip yang haus skandal.
Gempita: Tapi kalau kau menginginkannya, aku bisa mengatakan sesuatu untuk meluruskan keadaan. Tapi aku yang meninggalkanmu, bukan sebaliknya. Kau bisa melakukan itu untukku, kan?
Tentu saja. Gempita tidak akan membiarkan skandal ini berlalu tanpa membangun kembali citranya.
Galih: Putar saja sesukamu.
Selain keluarganya, Haris juga mengiriminya pesan—seperti biasa, penuh rengekan yang tak penting.
Haris: Kakak, aku tidak tahu kau berpacaran dengan Gempita.
Haris: Hati-hati dengan Sheila. Dia sangat ingin menikah. Tapi dia setan binal.
Haris tidak masuk kedalam group persaudaraan mereka semenjak memiliki skandal aborsi kekasihnya. Harry, Ganjar dan Guntur membencinay dan menganggap Ia adalah Helmi Sukmawan junior.
Galih mendengus. Haris tampaknya lupa bahwa dialah yang berakhir di tempat tidur dengan saudara tiri Sheila. Sebuah fakta yang masih membuat Galih ingin memuntahkan makan siangnya.
Namun, yang mengejutkan Galih, satu-satunya orang yang seharusnya menuntut penjelasan justru diam. Sheila tidak mengirim pesan, tidak menelepon. Seolah dia sama sekali tidak peduli dengan kehebohan ini. Entah dia belum melihat berita itu, atau dia tidak menganggap Galih sebagai orang yang harus diajak berdiskusi.
Kemungkinan pertama terdengar mustahil. Kemungkinan kedua… mengganggunya lebih dari yang seharusnya.
Galih melepas jasnya, yang langsung diambil oleh Yogi. "Ada panggilan?" tanyanya sambil duduk.
"Ibumu—dua kali—menanyakan apakah kamu ada di rumah. Kakekmu juga menelepon tiga kali," lapor Yogi. "Aku meminta mereka menghubungimu langsung, tetapi mereka bilang kamu tidak menjawab teleponmu. Apakah kamu ingin aku mengisi dayanya?"
Galih mengangkat ponselnya yang penuh daya. "Tidak. Aku tidak sedang menjawab panggilan dari keluargaku saat ini."
Ia menatap Yogi. "Apakah ada orang lain yang menelepon soal gosip itu?"
"Tidak."
"Baiklah. Buat reservasi makan siang untukku dan Sheila, lalu kirimkan pesan singkat kepadanya dengan detailnya."
"Bagaimana jika dia punya janji lain?"
"Katakan padanya, dia pasti perlu makan."
Sheila tidak menolak undangan makan siang. Tepat waktu, dia tiba di Jakarta, sebuah bistro elegan di dalam Mulia Hotel.
Ketika Sheila masuk, kacamata hitam menutupi sebagian besar wajahnya. Namun, sikap anggunnya mencolok membuatnya tetap menjadi pusat perhatian. Ia melepas kacamata hitamnya dan memasukkannya ke dalam tas prada rotan miliknya, sementara setelan rok plisket berwarna putih tulang menonjolkan lekuk tubuhnya dan bahkan memperlihatkan warna branya.
Galih berdiri untuk menyambutnya. Sheila memeluknya dan mengecup pipinya dengan lembut. Aroma tubuhnya membelai indranya—sesuatu yang feminin dan samar-samar manis.
Dia melihat buket anyelir pink di meja. "Untukku?"
"Ya. Kupikir aku harus membawa perlengkapanku sendiri, karena akulah yang menelepon untuk kencan ini."
Sheila tersenyum cerah, ekspresinya seperti seseorang yang benar-benar menghargai isyarat kecil itu. Galih mengamati reaksinya, merasa terganggu karena dia tampak terlalu senang.
Tatapan Sheila turun ke cincin berlian bermata lima yang ia kenakan di jari manisnya. Batu-batu itu berkilauan saat ia mengangkat tangannya.
"Suka?" tanyanya sambil tersenyum.
"Cantik sekali," jawab Galih jujur. "Seleramu bagus."
Sheila tersenyum puas. "Kupikir ini cincin pertunangan yang kau berikan padaku kemarin saat kau melamarku kemarin."
Galih menatapnya tajam. "Mengapa kita melakukan ini?"
"Agar media tidak punya hal-hal aneh untuk dikritik saat kita menikah," katanya santai.
Galih mempertimbangkan kata-katanya. Tidak ada gunanya menunda ini lebih lama lagi.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Kita menikah minggu depan."