Beberapa minggu setelah perjalanan mereka ke Bandung, suasana di apartemen Sheila berubah perlahan. Bukan berubah secara drastis—tidak ada gebrakan besar, tidak ada romansa berlebihan—tetapi perubahan itu terasa di cara mereka berjalan berdampingan, di cara Galih menyentuh punggung Sheila setiap kali mereka melewati lorong, di cara Sheila mulai jujur pada dirinya sendiri tentang perasaan yang selama ini ia simpan rapat. Hubungan mereka tidak lagi digerakkan oleh strategi atau kebutuhan untuk bertahan hidup di tengah badai bisnis; hubungan itu kini berakar dari sesuatu yang lebih sederhana: keberanian untuk saling melihat apa adanya. Galih mulai lebih sering pulang lebih awal, bukan karena kewajiban, tapi karena ia ingin. Dan Sheila, yang dulu selalu merasa perlu terlihat kuat dan mandiri,
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


