"Kemana biasanya kalian bermain mas!" pekik Anin lagi. Dia masih terus mengguncang tangan Fajar yang masih termangu tidak memahami situasi. "Mas Fajar!" Anin memangil namanya sambil menarik tangannya kembali. "I-iya, kami biasa bermain di rumahku," jawab Fajar tergagap. Tanpa menunggu fajar yang masih tercenung Anin berlari ke arah rumah Fajar seperti orang kesetanan. Fajar segera tersadar saat Anin sudah tidak ada di hadapannya, dia mengejar Anin dan meneriakkan namanya. Anin yang sudah ketakutan akan kehilangan Albanna tidak peduli dengan panggilan Fajar. Dia trus berlari tanpa peduli keadaan, sepatu yang membuatnya kesulitan berlari pun dilepasnya dan di jinjing begitu saja. Sesampainya di depan rumah Fajar, dia mendengar gelak tawa Albanna terdengar nyaring dari luar rumah. Anin

