Erlan menyusul Giana ke bawah setelah selesai mengenakan pakaian. Pria itu terlihat malu setelah insiden beberapa saat lalu. Biasanya ia yang membuat wajah Giana seperti kepiting rebut, tapi sekarang ia yang tidak bisa menampakkan wajah di hadapan Giana. “Maaf nunggu lama,” ucap Erlan pelan tanpa berani menatap Giana. Giana menatap Erlan dengan tatapan menyelidik sambil menahan senyum. “Kamu kenapa? Kok kayak menghindar?” “Ah? Ngga kok, aku biasa aja, Giana.” Jawab pria itu sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Giana. “Nggak, kamu beda ah. Ada apa sih?” Giana mendekati Erlan, lalu kembali menggodanya. “Kamu malu soal tadi?” “Yang mana ya? Kok aku udah lupa?” Tanya Erlan pura-pura tidak paham dengan yang dimaksud Giana. Tatapan Giana melirik ke bagian bawah tubuh Erlan, sambil m