“Kenapa wajahmu seperti pasien yang baru lihat tagihan rumah sakit?” Jevan menjatuhkan dirinya ke kursi kantin dengan kasar sembari membawa dua mangkuk bakso yang masih mengepul. Di seberangnya, Althair bahkan tidak mengangkat kepala sedikit pun untuk merespons. “Karena aku sedang berpikir,” jawab Althair pendek. “Itu malah jauh lebih mengkhawatirkan,” sahut Jevan seraya memisahkan sumpit kayu. “Kok bisa?” “Biasanya kalau kamu sudah mulai berpikir serius seperti itu, bakal ada orang di sekitar sini yang hidupnya jadi susah.” Harsa yang duduk di sebelah Jevan mendenget pelan, menyetujui ucapan tersebut. Kavi sibuk mengaduk teh manis hangatnya tanpa minat, sementara Thala hanya melirik sekilas dari balik tabletnya. Mereka berempat sudah berteman terlalu lama untuk tidak menyadari bahwa

