Pertanyaan Pak Rahmat masih menggantung rendah di udara malam yang dingin. Suara angin yang bertiup tipis membelai dedaunan di sekitar pelataran bengkel membuat suasana di antara kedua pria beda generasi itu terasa kian pekat. “Kamu ... benar-benar mau serius sama anak saya?” Althair tidak langsung membalas. Pria muda itu bergeming di atas bangku kayu panjang, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak. Bukan karena ada keraguan yang tersisa di dalam dadanya, bukan pula karena ia bingung menyusun deretan kata diplomatis. Pria itu hanya sadar betul bahwa pertanyaan seprinsipil itu—terlebih yang keluar langsung dari mulut seorang ayah yang membesarkan putrinya dengan tetes keringat sendiri—tidak pantas dijawab dengan terburu-buru, apalagi sekadar menjadi pemanis di bibir. Pak Rahmat tid

