Pulang Sepi

1208 Kata
Langkah-langkahku bergema di teras yang dingin dan basah. Malam tak memberi pelukan, hanya membiarkan angin menusuk kulit dan kenangan menampar pelan. Payung tak kubuka. Biar saja hujan mencampur air mata, agar aku tak terlihat terlalu rapuh. Rumah di belakangku masih menyala lampunya. Hangat dari luar, tapi tak lagi bisa kusebut rumah. Tempat itu hanya bangunan penuh kenangan yang kini tinggal bayang. Tempat di mana dulu Bunda menjemputku dengan pelukan dan wangi masakan. Sebelum semuanya direnggut oleh satu pernikahan baru dan seorang wanita yang tak pernah benar-benar menganggapku sebagai anak. Aku menarik napas panjang, menatap langit yang tak lagi biru. Lalu melangkah masuk ke mobil dengan tubuh setengah gemetar. 15 menit pun berlalu. Akhirnya, aku sampai di tempat tinggalku yang baru. Tempat yang akan menjadi saksi bahwa Ayla bisa berdiri di kedua kakinya sendiri setelah dibuang begitu saja oleh keluarganya. Apartemen terasa sunyi ketika kubuka pintunya. Ruangan modern yang dulu kurancang untuk menjadi tempat singgah sementara sebelum menikah dengan Raka—sekarang menjadi satu-satunya tempat untuk berlindung dari dunia yang terlalu kejam untuk seorang Ayla yang tak pernah siap kehilangan semuanya dalam semalam. Kusandarkan tubuhku di balik pintu, lalu perlahan-lahan lututku melemas. Aku terduduk di lantai dingin, memeluk diriku sendiri. Tak ada suara. Tak ada pelukan. Tak ada panggilan "Sayang" dari Raka. Tak ada suara Bunda yang menenangkan di telinga. Aku benar-benar sendiri. Dan aku sadar—rumah bukanlah tempat. Rumah adalah orang-orang yang mencintaimu tanpa syarat. Pukul sepuluh malam. Jarum jam menancap di dinding, menatapku seperti penghakiman bisu. Aku masih terduduk di lantai ruang tengah, menyandarkan kepala pada lengan sofa. Lampu tak sepenuhnya menyala, hanya temaram dari sudut meja. Lalu, bel berbunyi. Sekali. Dua kali. Dihentak seperti tak sabar. Seperti dunia belum cukup memberi luka hari ini. Kutatap pintu dengan tatapan kosong. Ada jeda beberapa detik sebelum aku akhirnya berdiri dan membukanya—pelan, tanpa harapan. Dan di sana, berdiri sosok yang beberapa jam lalu masih kupikir akan menjadi suamiku. Raka Ardana. Dengan jaket setengah terbuka, kaos kusut, dan rambut acak-acakan seperti habis digulung angin malam. Matanya merah, langkahnya limbung, dan aroma alkohol tajam langsung menusuk hidungku begitu pintu terbuka. “Ayla—” gumamnya, seperti keluhan dari mulut orang yang tersesat. “Kita perlu bicara.” Aku diam. Mulutku kelu. Apa lagi yang harus dibicarakan setelah dia menyayat tanpa ampun? “Aku tahu semuanya,” lanjutnya, menyandarkan bahu ke dinding. “Aku tidak pernah berniat menyakitimu. Sumpah.” Nadanya sengau. Mabuk. Tapi yang paling menyakitkan bukan suaranya—melainkan caranya menyebut semuanya begitu enteng. Seolah yang dia hancurkan hanyalah barang rusak, bukan hatiku. “Kamu berniat meninggalkanku? Begitu?” tanyanya miring. “Gara-gara Dira? Kamu percaya sama video receh itu?” Aku tertegun. Video receh? “Apa yang lebih nyata dari tubuhmu yang menyentuh adikku, Raka?” suaraku datar, tapi tajam. “Atau kata-katamu yang memanggil namanya sambil menyebut ‘sayang’? Itu juga bagian dari mabukmu?” Raka tertawa kecil—tawa getir orang yang tak bisa membela diri. Lalu dia berjalan masuk tanpa kupersilakan, menjatuhkan tubuhnya ke sofa seperti sudah terlalu lelah dengan hidupnya sendiri. “Aku mabuk waktu itu,” katanya sembari menatap langit-langit, “Aku bingung. Kamu sibuk terus, Ayla. Sementara Dira—dia ada. Dia mengerti aku.” Hatiku terasa berhenti berdetak sejenak. Kalimat itu seperti bom yang meledakkan sisa tenang yang kuperjuangkan sejak keluar dari rumah tadi. “Jadi, salahku karena sibuk kerja, ya? Salahku karena aku mandiri, karena aku nggak bisa ada 24 jam buat ngejagain kamu seperti babysitter?” tanyaku, mendekat, mataku kini mulai panas lagi. “Kamu selalu pengen semuanya sempurna. Aku capek.” Kalimatnya pelan, hampir seperti bisikan. Aku menatapnya. Lama. Lalu hanya berkata, “Aku juga capek, Raka. Capek percaya sama orang yang ternyata gampang banget bilang sayang sambil menyentuh perempuan lain. Bahkan adikku sendiri.” Dia menunduk, tak membalas. Aku berdiri membelakanginya, mencoba menahan gejolak di dadaku yang mulai mendidih. Tapi suaranya terus menyayat dari belakang—memutarbalikkan cerita, membela diri dengan kalimat yang tak lagi logis. “Kamu pikir aku bahagia, Ayla?” teriaknya. “Kamu sibuk ngurusin proyek, mimpi-mimpimu! Aku butuh Kamu! Tapi kamu selalu ada buat dunia, bukan buatku!” Aku berbalik, menatapnya dengan luka yang sudah berubah jadi api. “Dan kamu pikir aku nggak berjuang? Setiap hari aku bangun pagi, kerja sampai larut, mikirin masa depan kita, rumah tangga kita—demi kamu! Tapi apa yang kamu kasih? Pengkhianatan?! Dengan adikku sendiri!” “Dira lebih mengertiku daripada kamu!” katanya lantang. Braak! Seketika, ada yang meletup dalam dirinya. Dalam hitungan detik, langkahnya menghentak maju. Tangan itu terangkat, dan sebelum sempat kutarik napas. Plak! Sisi wajahku terasa panas. Kepalaku terhempas ke samping, dan tubuhku jatuh menghantam dinginnya lantai apartemen. Bunyi hantamannya tak sekencang perihnya. Bukan hanya di pipi—tapi jauh di tempat paling dalam dari diriku. Waktu berhenti. Dunia sunyi. Hanya ada suara nafas yang terengah dan denyut lambat dari pipi yang memerah. Raka terdiam. Matanya membelalak seperti baru sadar apa yang dia lakukan. Tapi bagiku, kesadarannya datang terlambat. Terlalu terlambat. Perlahan aku bangkit, tubuhku gemetar bukan karena takut—tapi karena terlalu hancur untuk menahan amarah dan sakit yang campur aduk. “Sekarang kamu berani menamparku,” bisikku, lirih tapi jelas. “Kamu benar-benar berubah sejauh itu, Raka.” Dia melangkah mundur. “Ay, aku nggak sengaja—aku—” Tubuhku masih gemetar saat ku tegakkan diri, berdiri dengan sisa tenaga yang nyaris terkuras. Luka di pipi belum sempat hilang, tapi amarah dan kecewaku sudah membuncah tak bisa dibendung lagi. “Keluar, Raka. Aku nggak mau kamu ada di sini. Sekarang juga pergilah!” Tapi dia berdiri kaku di ambang ruang tamu, kedua tangannya mengepal, matanya merah—antara mabuk, emosi, dan kebingungan yang menyebalkan. “Aku cuma mau kamu maafin aku, Ayla—sekali ini saja.” “Aku nggak butuh permintaan maaf dari orang yang bahkan nggak bisa jaga tangannya sendiri,” balasku tajam. “Aku masih cinta sama kamu!” “Cintamu nggak pernah cukup untuk tidak menyakitiku!” Seketika suasana menjadi tegang. Nafas kami saling mengejar, sama-sama tercekik oleh emosi yang menggantung. Dan saat itu—bunyi denting lift terbuka dari lorong apartemen memecah ketegangan. Langkah kaki terdengar ringan tapi tegas. Seorang pria muncul di ambang pintu terbuka. Tinggi, tegap, dengan rahang tegas dan tatapan dingin yang menusuk. Wajahnya tampan, nyaris sempurna dalam balutan setelan gelap dan coat panjang. Matanya langsung mengarah ke Raka. Lalu ke wajahku yang memerah di satu sisi. “Keluar,” ucapnya dingin, tegas, tak memberi ruang untuk penolakan. Raka menoleh dengan dahi berkerut. “Siapa kamu?!” “Orang yang jauh lebih waras dari mu,” jawab pria itu datar. “Aku ulang sekali lagi, keluar. Sekarang!” Aura yang dipancarkannya aneh. Tenang, tapi menggigit. Matanya tak berkedip, sorotnya seperti peringatan. Raka menahan nafas, menatapku sekali lagi seolah menunggu aku berkata sesuatu—tapi aku hanya diam. Tegak. Dingin. Akhirnya, Raka menyerah. Dia memalingkan wajah, menendang pintu dengan kesal, lalu berjalan pergi tanpa pamit. Pintu kembali tertutup. Hening. Sesaat sebelum aku membuka mulut untuk berterima kasih, pria itu berbalik. “Terima kasih. Aku—” Tapi dia sudah melangkah pergi. Tanpa menoleh. Tanpa menjawab. Tanpa meninggalkan apa pun—kecuali rasa penasaran yang mendesak di dadaku. Siapa dia? Dan kenapa sorot matanya terasa seperti pernah mengenal luka yang sama?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN