Aku sedang melipat pakaian Tiva dan memasukkannya ke dalam koper. Setiap helai terasa begitu istimewa, seolah aku tengah menyiapkan perjalanan besar untuk putri mungil kami. “Sayang, yang ini perlu dibawa juga?” tanya Mas Mahen dari arah lemari sambil mengangkat dress rajut warna pink yang belum pernah dipakai Tiva. Aku menoleh. “Boleh, Mas. Tapi jangan banyak-banyak, ya. Kita kan cuma sebentar di Singapura. Lagian di sana aku juga mau beliin beberapa baju baru buat Tiva.” Mas Mahen tersenyum sambil menaruh dress itu ke dalam koper. “Kalau menurutku gak usah bawa pakaian sampai tiga koper. Beli saja semuanya disana,” ujarnya. Aku mendengkus sambil memukul lengannya pelan. “Pakaianku dan Tiva masih banyak yang belum dipakai. Masa mau beli lagi? Buat apa sih buang-buang uang terus?” Dia

