Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah orang tua Safa, hari sudah gelap ketika mereka sampai setelah seharian wisata dadakan, Olivia dan Jerry lebih dulu diantara tadi. Mesin mobil dibiarkan tetap hidup, Safa sudah melepas seatbelt dan menghadap lelaki yang tak lama lagi akan menjadi suaminya. Azriel melakukan hal sama, di pandanginya wajah cantik gadis itu. “Ka El nggak mau masuk dulu?” Mereka sampai hampir jam sembilan malam. “Sudah malam, ibu juga pasti mau istirahat.” “Baiklah, Safa turun.” Azriel mengangguk, “Salam sama Ibu dan Saddam.” Nama Saddam terucap dari bibir Azriel membuat Safa terdiam. “Kenapa?” Tarikan napas Safa yang dalam menyatakan jika memang ada yang sedang mengganggu pikirannya. Safa sendiri memikirkan saudara kembarnya yang seakan-akan kini

