Sarah berjalan perlahan memasuki kamar setelah percakapan di ruang tengah itu selesai. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Begitu pintu kamar tertutup di belakangnya, keheningan langsung menyelimuti ruangan luas itu. Tirai balkon masih sedikit terbuka sehingga cahaya sore masuk dengan lembut, tetapi Sarah tidak benar-benar memperhatikan pemandangan di luar. Tangannya terangkat pelan menyentuh pipinya. Pipi kiri itu masih terasa panas. Tamparan Marina tadi terasa nyata sekali, seolah telapak tangan wanita itu masih tertinggal di sana. Sarah menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kenapa hari ini jadi seperti ini…” gumamnya pelan. Ia berjalan menuju meja rias dan menatap bayangan dirinya di cermin. Bekas merah tipis masih terlihat di kulitnya yang putih be
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


