Keheningan di taman itu tidak pecah oleh sesuatu yang besar, melainkan oleh perubahan kecil yang perlahan muncul di wajah Sarah. Ia yang tadi hanya duduk tenang, menikmati udara dan rasa buah segar di tangannya, tiba-tiba kembali membuka mata lebih lebar, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan ide. Tangannya masih berada di perutnya, tapi jari-jarinya mulai bergerak pelan, seolah memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia tahan terlalu lama. Javier langsung menangkap perubahan itu. Refleks. Ia bahkan tidak perlu bertanya dulu. Matanya sudah lebih fokus. “Apa,” katanya pelan. Sarah menoleh. Dan kali ini— Ekspresinya berbeda. Bukan sekadar ingin. Tapi… bersemangat. “Aku mau buat sesuatu,” katanya. Javier sedikit mengernyit. “Maksudnya.” Sarah tersenyum kecil. Lebih hidup dari

