Sarah baru menyadari sesuatu yang aneh ketika ia melihat dua pengawal berdiri terlalu dekat dengan jalur menuju taman. Ia mengangkat kepalanya dari bunga mawar yang sedang ia rapikan dan memandang ke arah rumah. Dari kejauhan ia sempat melihat Tiana berdiri di pintu kaca ruang tengah, wajanhnya terlihat kesal, tangannya bergerak-gerak seperti sedang memarahi seseorang. Sarah mengerutkan kening sedikit. Ia berdiri dari bangku kayu kecil itu dan berjalan beberapa langkah mendekati rumah. Ketika ia semakin dekat, salah satu pengawal langsung menundukkan kepala sedikit. “Nyonya.” Sarah menatap mereka dengan bingung. “Ada apa?” Kedua pengawal itu saling bertukar pandang sebentar sebelum salah satunya berkata dengan hati-hati, “Perintah Tuan, Nyonya.” “Perintah apa?” “Nona Tiana tidak bo

