Uap panas menggulung di udara, menciptakan kabut tebal yang menyelimuti dinding keramik marmer putih di dalam kamar mandi utama yang luas itu. Aroma sabun cair beraroma melati dan cendana memenuhi indra, bercampur dengan kelembapan yang menyesakkan namun menenangkan. Di bawah pancuhran emas yang mengalirkan air hangat dengan ritme konstan, Sarah berdiri memunggungi pintu. Air mengalir turun dari helai rambutnya yang basah, menyusuri lekuk punggungnya yang mulus, jatuh hmelewati pinggul yang ramping, dan akhirnya membasahi lantai dengan suara gemericik yang ritmis. Tiba-tiba, suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan cepat memecah keheningan. Sarah tersentak, tangannya yang sedang mengusap sabun ke bahunya berhenti seketika. "Javier? Itu kau?" tanya Sarah, suaranya sedikit bergema di a

