Kantor Diamond Dreams sudah sepi malam itu. Hanya lampu meja yang menyala, memantulkan cahaya lembut di ruang kerja Elang.
Ava berdiri di dekat jendela besar, memandang siluet kota yang berkelip. Senyum kecil tersungging di bibirnya, sesuatu yang jarang muncul sejak beberapa hari terakhir.
Ya, dia di dalam sini. Di tempat Elang berada dan tengah memandangnya.
Ava belum beranjak dari perusahaan di saat yang lain sudah pulang, dengan alasan lembur untuk acara pameran elite global nanti Ava bertahan.
"Om Elang ...." Suaranya pelan, hampir berbisik.
Ada kuluman bibir di wajah gadis berusia dua puluh dua tahun itu. Elang setia memandangi dari tempatnya duduk. Well, kamera pengintai sudah Elang serahkan, bahkan sudah Ava genggam.
Kamera yang Ava selipkan di pot bunga hotel secara diam-diam, tetapi Elang tahu.
"Aku ...." Ava berbalik. Dia mendekat. "Nggak tahu harus bilang apa." Menjauh dari kaca yang menampilkan gemerlap lampu malam di kota.
Oh, Ava berdeham. Agak gengsi untuk meneruskan, tetapi tetap dia katakan, "Cara Om menyingkirkan Gita itu ... yeah, semua orang melihat. Dan aku ... jujur, aku merasa begitu dilindungi.”
Sudahlah.
Ava loloskan saja semua tutur kata tersebut.
Kesampingkan dulu soal gengsi, cara Elang mengeksekusi Gita benar-benar membuat Ava takjub. Dia mulai menaruh kepercayaan. Sedikit dan setipis ulasan senyumnya.
Tiba di dekat Elang, lelaki itu justru jalan ke kaca yang tadi Ava berdiri di sana. Lucunya, kembali Ava hampiri.
Entahlah.
Elang lantas membuka jas, menoleh pelan. Tatapannya lembut, berbeda jauh dari dinginnya tadi siang saat menghadapi Gita.
Elang pun mempertipis jarak. Dia berdiri tak jauh dari Ava.
“Om cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Tidak ada seorang pun yang berhak mencuri karyamu. Dan ... tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu, terutama.” Elang menekankan hal itu.
Lagi.
Ava merasa ada pernyataan tersirat yang lelaki itu beri.
Kali ini Ava menunduk, dia merasa pipinya merona, jadi Ava tak mau menunjukkannya. Bukan karena sudah tertawan hatinya, tetapi sanjungan Elang terlalu pandai hingga Ava tak bisa mengendalikan semu merah jambu yang tak seharusnya eksis.
Oh, sial.
Hatinya berdesir oleh kalimat itu ternyata. Ava tahu, ini bukan sekadar soal profesionalisme. Ada sesuatu yang lebih dalam di balik tatapan mata Elang, juga ucapannya.
Ava memikirkan semua itu sejak awal pertemuan di kehidupan kedua ini.
Sejenak hening. Elang tersenyum tipis, lalu kembali ke mejanya, meletakkan jas di lengan kursi. Oh, berakhir dengan Elang bersandar pada meja. Menatap Ava.
“Tapi, Va ... Om merasa sedikit dirugikan.”
Ava menoleh cepat. “Dirugikan? Dirugikan gimana maksudnya?”
Elang menautkan alis pura-pura serius. “Om sudah mengorbankan reputasi, berdiri di depan semua orang, bahkan mengotori tangan untuk mengeksekusi pengkhianat. Dan setelah semua itu ... Om belum mendapat apa-apa dari kamu.”
Hell.
Tapi, kan, ini untuk kemajuan perusahaan juga. Dan untuk kredibilitas Diamond Dreams juga. Agar Sumber Daya Manusianya tertata. Bersih dari kecurangan jelata.
Ava mengerling. "Terus?"
"Kemari," titah Elang, tidak berseru. Nadanya lembut dan rendah, tetapi tegas dan mutlak.
Malam itu ....
Tak tahu dapat dorongan dari mana, Ava manut. Dia mendekat. Di hadapan Elang, lelaki itu mencondongkan tubuh.
Suaranya lebih rendah, nyaris seperti bisikan rahasia, Elang bilang, “Om mau hadiah, Ava.”
Astaga.
Jantung Ava berdetak kencang. Entah kenapa. Rasanya tiba-tiba jadi begitu mendebarkan. Sungguh, detak di d**a terasa intens dan asing.
"Hadiah?" Ava membeo. "Apa ... apa yang Om mau?"
Keduanya bersitatap.
Sekilas, Elang tampak berpikir, lalu bibirnya melengkung dalam senyum samar. Senyum yang berbahaya sekaligus memikat. Ava menelan salivanya kelat.
"Mm ... nggak neko-neko. Dan cuma sesuatu yang nggak bisa Om beli dengan semua berlian di dunia ini."
Gawat. Ava merasa ini gawat. Kodenya seperti sesuatu yang tidak berkaitan dengan materi. Lantas apa?
Jangan-jangan ....
Wajah Ava auto berasa panas. Sepertinya, Ava tahu arah pembicaraan itu.
“Om Elang ...,” bisiknya, suara Ava bergetar di antara gugup yang tak perlu, tetapi kegugupan itu terus melanda tanpa pernah Ava mau.
Aduh.
Bagaimana, ya?
Elang mendekat perlahan, mengikis jarak hingga kini mereka hanya sejengkal. Tatapannya menancap dalam ke mata Ava.
“Senyum, Va.”
Eh?
"Kasih Om senyuman tulus, kayaknya belum pernah, ya?"
What?
Kenapa bukan cium?
Eh, Astaga.
Ava terkejut sendiri dengan isi kepalanya yang super nakal itu.
Sekarang Ava merasakan dadanya bergemuruh sesak, bukan karena marah, tetapi sebab perasaan hangat yang mendesak keluar.
Perlahan ... tanpa bisa menahan lagi, Ava tersenyum—tulus, lembut, sekaligus penuh arti.
Begini, kan?
Elang menghela napas panjang, seakan senyum itu lebih berharga dari seluruh koleksi berlian yang pernah dia miliki. Yang pernah dirinya desain sendiri.
Wah ....
"Can I kiss you?"
H-hah?!
Senyum Ava auto lenyap tergerus kaget. Kali ini terkejut oleh omongan sang paman.
Dan dalam keheningan ruang itu, hanya ada mereka berdua. Saling menyadari bahwa hadiah sebenarnya bukan sekadar senyum, melainkan hati yang—mungkin—mulai saling membuka.
Mungkin ....
"Ava?"
Vokal bariton Elang menggelitik menyebut namanya.
Keterkejutan Ava masih menggantung di wajah, lalu hadir kerjapan cepat, disusul semu merah jambu yang tak pernah Ava suruh eksis. Membuat Elang terpaku.
Untuk sesaat, Elang bahkan lupa sedang berada di ruang kantornya sendiri.
Cahaya lampu meja membingkai Ava, membuatnya terlihat seolah benar-benar bagian dari koleksi berlian yang Elang lindungi mati-matian.
Tuhan ....
Berapa lama Elang menahan diri atas gadis ini?
Elang mengangkat tangannya, perlahan menyentuh dagu Ava agar menengadah.
“Senyum kamu ... indah sekali. Tapi rasanya, Om masih kurang puas dengan hadiah itu.”
Ava tercekat. “Kurang puas?” bisiknya, pipinya semakin panas.
Paham, kok.
Ava, kan, sudah berusia dua puluh dua tahun. But—!
Elang mendekat, hingga wajahnya hanya sejengkal dari wajah Ava. Tatapannya dalam, suara beratnya bergetar di udara.
“Mungkin ... Om pengin hadiah yang lebih pribadi.”
Damn.
Ava menelan saliva. Tubuhnya auto kaku, tetapi jantung berdegup begitu kencang.
Tak perlu Ava pertanyakan apa maksudnya, dia merasa sangat paham. Namun, bibirnya licin mengatakan, "Apa maksud Om?"
Dasar bibir!
Elang tidak langsung menjawab. Sebaliknya, jemari lelaki itu menyusuri pelan lengan Ava—lembut, tetapi cukup untuk membuat sang gadis merinding. Oh, Elang lalu menahan tangannya di sana, hangat dan penuh kepemilikan.
“Maksud Om ....” Elang menunduk sedikit, hingga napasnya beradu dengan napas Ava, "... Om pengin hadiah berupa keberanian kamu."
Kalau ini Ava malah lebih tidak paham lagi.
Eh, atau ... keberanian untuk cium?
Ava refleks mengulum bibir, membuat sorot mata Elang tajam ke sana. Ada jakun yang intens naik turun.
"Kamu merasakannya, kan?"
Tunggu, tunggu!
Merasakan apa?
Aduh ....
Apa, sih?
"Ava ...." Bisikan Elang selaras kelembutan sentuh ibu jarinya di bibir bawah Ava yang terkulum. "Om pengin keberanian kamu. Keberanian untuk mengakui bahwa kamu juga merasakan apa yang Om rasakan."
"Rasakan apa? Aku nggak ngerasain apa-ap—akh!" Ya ampun!
Ava tersentak pinggangnya ditarik mendekat sampai merapat.
"Yakin?"
Ava terdiam, bibirnya terbuka, tetapi tak ada kata keluar. Tatapan matanya bertemu dengan Elang, penuh dengan pergulatan antara logika dan batin.
"Om Elang ...." Oh, suara Ava dengan begitu saja jadi bergetar, hampir tak terdengar. Sebab, wajah lelaki itu semakin mendekat di bawah sinar lampu. "Lagi pula kita ... nggak seharusnya ...."
Elang mendekat lebih jauh, hampir menyentuh bibir Ava. "Jangan bilang 'nggak seharusnya.' Yang Om rasain ke kamu itu ... sudah terlalu nyata buat disangkal."
God!
Waktu seakan berhenti. Hanya ada degup jantung mereka berdua. Ava memejamkan mata—entah dapat hasutan dari mana, dan saat itu Elang mendekap wajahnya dengan satu tangan. Lembut, tetapi penuh intensitas dan keyakinan.
Bibir mereka akhirnya bertemu. Ringan, hati-hati, tetapi sarat dengan rasa yang selama ini Elang tahan.
Ava masih meraba-raba sanubari.
Lembutnya bibir Elang menenggelamkan kewarasan, Ava sampai tidak terpikir untuk mendorong atau menjauh.
Cara Elang memagut, menyecap rasa, dan memberikan kehangatan intens di sana membuat akal sehat Ava terenggut. Dia jadi lupa bagaimana cara menolak kala ada bagian dari mulut Elang yang ingin menerobos masuk melewati batas ciuman ringan.
Ava dibuat melenguh.
Barulah saat itu dia tersadar ... ini salah.
Ava juga tak seharusnya menikmati.
Oh, sial.
Menikmati?
Ciuman itu lantas terlepas dengan akhir suara decap seolah ada yang tak rela. Terasa singkat walau entah habis berapa masa. Dan cukup untuk membuat Ava kehilangan pijakan.
Ava segera menjauh setengah langkah, wajahnya memerah, matanya masih bergetar. “Gi-gila ... ini gila.”
Memang.
Kegilaan yang Elang senangi.
Pria yang menjadi panutan seluruh karyawan hingga pimpinan Diamond Dreams terdahulu itu tersenyum samar. Pun, tatapannya tak beranjak dari wajah Ava.
“Mungkin gila ... tapi untuk pertama kalinya, Om merasa waras.”
Astaga.
Oh, Tuhan ....
Ava menunduk. Fix, dirinya yang gila. Ava malah tersenyum tipis dan itu tak bisa dia sembunyikan.
Benar-benar gila.
Ava tahu, 'hadiah' yang diminta Elang barusan ... sudah mengikat sesuatu yang tak akan bisa Ava lepaskan.
Dan di dalam ruang sunyi itu, antara kilau lampu dan bayangan malam kota, hati mereka resmi memasuki wilayah berbahaya. Namun, begitu indah.
Ah, tetapi indah yang seperti apa?
Tahu?
Tengkuk Ava kembali disambar dengan kegilaan seorang Kalingga Elang Danuarta, membuat bibir kembali berjumpa.
Mungkin, kali ini lebih dahsyat gilanya.
***
Satu detik ....
Dua ....
Keheningan menggantung setelah ciuman beberapa saat lalu. Ava berdiri kaku, napasnya masih terengah, sementara Elang menatapnya lekat-lekat.
"Ava ...." Vokal Elang berat, serak, tetapi penuh kelembutan. "Kamu nggak tahu betapa lama Om menahan diri untuk ini.”
Malam yang terasa panjang.
Ava mundur setengah langkah, punggungnya hampir menyentuh jendela kaca besar.
Dari balik kaca, kota berkilau, seakan dunia luar sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi di ruangan itu.
"Om, ini salah ... nggak seharusnya. Nggak boleh ...," bisik Ava, tutur katanya jadi berantakan. Berharap Elang paham.
Lagi pula ... oh, yang benar saja!
Barusan siapa yang bertaut bibir dengannya, huh? Laki-laki yang berusia tiga puluh lima tahun.
Demi Tuhan, Ava ....
Kamu ciuman sama cowok tiga puluh lima tahun! Masalahnya, Ava masih dua puluh dua. Dan lagi, Elang itu paman.
Paman, Sis, paman!
Argh.
Elang mendekat, langkahnya mantap, seolah setiap keraguan Ava hanya membuatnya semakin yakin.
Elang mengangkat tangan, menyentuh wajah Ava lagi. Kali ini dengan lebih lembut, seakan dia takut Ava dapat pecah jika disentuh terlalu keras.
“Kalau ini salah,” ucap Elang perlahan, mengusap bibir Ava selembut tatapan, “kenapa rasanya begitu benar? Kenapa Om nggak pernah merasa hidup, kecuali saat sama kamu?”
"Om Elang raja gombal ternyata, ya?" Ava desiskan pengelakkan. "Lama di luar negeri, lama nggak ketemu ... Om—stop!"
Ava menutup bibir Elang yang dia rasa hendak memagutnya kembali.
Benar-benar!
Kok, makin bablas rem blong begini?
"Nggak boleh," tukas Ava.
"Udah, cukup," imbuhnya.
Saling bersenggama dalam sorot mata. Lebih dari tiga detik tatapan mereka bersua.
"Udah. Aku berterima kasih banget atas tindakan Om yang mengeksekusi Gita dengan tegas tadi, aku juga udah kasih hadiah buat Om. Sekarang ... cukup."
Ava pun menarik tangannya walau ragu, takut dengan gesit Elang kembali maju dan melibas bibir dengan bibir.
"Makasih juga buat kamera aku yang Om ambilin. Mm ... ke depannya kita kayak pas awal sebelum ini aj—Om!"
Tuh, kan.
"Nggak mau," katanya, yang kadang formal kadang tidak. Elang merengkuh pinggang Ava.
Ya Tuhan.
Ava jelas berontak. Akal sehatnya sudah kembali sekarang. Namun, seluruh gerakan Ava terbegal oleh sebuah kecup di kening yang Elang labuhkan.
Apa lagi ini?
Ya, Elang menunduk. Kali itu mencium kening Ava. Sebuah ciuman yang dalam, bukan sekadar romantis, dan penuh pengakuan.
Tahu?
Atau kalian dengar?
Ada lirihan kata 'I love you' di situ.
Oh, atau Ava yang salah dengar?
Anehnya, Ava menutup mata. Merasakan hangat yang merembes hingga ke d**a.
Ava sampai merasa janggal sendiri dengan tingkahnya. Tangan sontak terkepal.
Perang batin.
Elang bisikkan, "Berjanjilah satu hal, Ava." Suaranya lirih di telinga Ava. "Jangan pernah ragukan perasaan Om ke kamu. Apa pun yang terjadi ... Om akan melindungimu." Bahkan jika harus melawan mereka yang pernah membunuhmu.
***