Abi menghempas berkas di tangan untuk yang kesekian kalinya. Pikirannya bercabang. Sama sekali tidak bisa mengumpulkan konsentrasi seperti biasa. Semua ucapan Fika selalu terngiang di ingatan dan Abi masih saja tidak bisa mempercayainya. Apa benar Abi menyebut nama Vira ketika sedang bersama Fika? Rasa-rasanya, sungguh tidak masuk di akal. Namun, jika memang seperti itu, Abi jelas keterlaluan. Vira … Fika … Kenapa juga kekhilafan itu harus terjadi? Andai saja Abi bisa mengontrol diri, hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Tidak kunjung bisa fokus dengan kasus yang harus dipelajarinya, Abi akhirnya menutup laptop lalu beranjak dari ruang kerjanya. Sembari melangkah pelan menuju kamar, Abi mengecek satu per satu pesan yang masuk ke ponselnya. Kemudian, ia membuka pintu kamar d

