“Abi!” Abi dan Fika kompak saling pandang, dengan mata terbelalak sempurna. Bibir mereka masih menempel, dan mematung seolah mencerna semua yang sedang terjadi. “Fikaaa.” Saat namanya disebut, di situlah Fika mendorong kuat tubuh Abi. Namun, ia kembali mematung saat melihat sepasang suami istri yang melongo di samping pintu. Menelan ludah, lalu membawa kedua tangan tremor dan dinginnya ke belakang tubuh. Sementara Abi, jelas saja ia lebih terkejut lagi. Selain perbuatannya pada Fika barusan telah ketahuan, gadis itu juga mendorong tubuhnya hingga hampir saja terjatuh dan jadi bahan tertawaan. Untung saja ia memiliki reflek yang bagus, sehingga bisa dengan cepat meraih sisi meja rapat agar tidak terjatuh. “Saya laporin babe kalian berdua, ya!” Abi kembali terbelalak. Padahal ia baru s

