“Afika Sutomo Nugraha binti Romi Nugraha.” Abi reflek mengumpat, saat melihat Aga terkekeh menghampirinya. Kenapa semua orang seolah bersuka cita, dan sangat bersemangat untuk menikahkan Abi dengan Fika? Mereka benar-benar kompak, dan Abi tidak menemukan satu celah pun untuk membatalkan semuanya. Andaipun ada, itu semua akan mengorbankan reputasinya sebagai seorang pria. Terlebih, dengan profesinya sebagai pengacara yang penuh integritas. “Jangan sampai lupa,” tambah Aga lalu menepuk bahu Abi, saat sudah berhenti di samping kawan lamanya itu. “Salah sedikit—“ “Berengsek.” Bukannya membalas, tetapi Aga justru tertawa puas. “Kalian semua, pasti sudah buat rencana ini sama Fika, kan?” tuduh Abi berspekulasi sendiri. Sejak tadi, Abi ingin sekali bertemu Fika agar bisa bicara empat mata. N

