Pagi itu rumah keluarga Bagas terasa jauh lebih hidup. Aroma nasi goreng kampung dan telur dadar memenuhi ruang makan. Titan sudah sibuk sejak subuh, memasak berbagai menu favorit anak-anaknya. Ia ingin momen sarapan kali ini terasa istimewa. Jarang sekali mereka bisa duduk bersama seperti ini. Biasanya selalu ada yang sibuk. Biasanya selalu ada yang pergi lebih dulu. Biasanya… Erika hanya datang sebentar lalu pulang lagi. Namun hari ini berbeda. Erika turun dari kamar dengan wajah segar meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lelah. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, rambutnya diikat asal, tanpa make up. Tetap terlihat lembut. Tetap sederhana. Namun senyumnya pagi itu benar-benar tulus. “Kalian belum mulai?” tanyanya sambil duduk. Bagas tertawa kecil. “Nunggu kamu.” Erika

