Erika 18

2312 Kata

Pagi itu terasa berbeda. Udara di kamar masih hangat oleh sisa embun pagi ketika Dewa keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah. Aroma sabun bercampur uap air mengikuti langkahnya. Biasanya, Erika sudah bersiap ke café atau duduk membaca buku di sofa kecil dekat jendela. Namun hari ini tidak. Erika duduk di tepian tempat tidur. Diam. Tenang. Tangannya terlipat di pangkuan, wajahnya tampak lembut dengan senyum kecil yang sulit diartikan. Dewa langsung menyadari sesuatu. “Hari ini kamu nggak ke café?” Erika menggeleng pelan. “Hari ini aku libur.” Dewa berhenti melangkah. Ada perasaan aneh menggelitik dadanya. Erika menatapnya lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Hari ini terakhir satu bulan kita ya, Wa.” Kalimat itu jatuh seperti batu di d**a Dewa. Ia tahu hari ini a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN