Langit sore itu tampak mendung ketika Erika menerima pesan singkat dari Erina. “Kita perlu bicara. Jangan bilang siapa pun. Termasuk Dewa.” Erika membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Kakaknya jarang bersikap seperti ini—tegas, mendesak, dan… rahasia. Biasanya Erina selalu ceria, santai, bahkan terkadang terlalu percaya diri. Tapi pesan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang berat di baliknya. Tanpa banyak bertanya, Erika menyetujui. Mereka sepakat bertemu di sebuah kafe kecil yang jauh dari tempat Erika bekerja. Kafe itu sepi. Hanya beberapa pengunjung duduk diam dengan laptop masing-masing. Erika datang lebih dulu. Ia memilih meja di sudut ruangan, tangannya menggenggam gelas air hangat yang bahkan belum diminumnya. Perasaannya tidak tenang.

