Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu kamar sudah diredupkan sejak satu jam lalu. Hanya cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan yang menerangi kamar besar mereka. Dewa duduk bersandar di kepala ranjang, satu tangan memegang tablet kerja, sementara Erika sudah lebih dulu berbaring di sisi lain kasur. Sejak beberapa hari terakhir, mereka memang tidur di ranjang yang sama. Bukan karena hubungan mereka berubah drastis. Hanya… perlahan terasa lebih wajar. Tidak ada lagi sofa. Tidak ada lagi jarak sejauh sebelumnya. Meski tetap ada ruang kosong di antara mereka. Erika memunggungi Dewa, tubuhnya meringkuk kecil. Napasnya terdengar pelan dan teratur. Rambut panjangnya terurai menutupi sebagian wajah. Dewa melirik sekilas. Ia tidak benar-benar fokus pada layar

