“Aku nggak bisa duduk begini, Wa… aku mau ke kafe.” Erika berdiri di depan meja kerja rumah yang sejak pagi tadi ia bolak-balik hampiri. Tangannya sesekali merapikan benda yang sebenarnya sudah rapi. Ia membuka laptop, menutupnya lagi. Membuka tirai, lalu menutupnya kembali. Gelisah. Dewa memperhatikan dari sofa ruang kerja. Sejak pagi ia memang melarang Erika pergi. Alasannya sederhana—wanita itu terlihat terlalu pucat. Namun semakin lama Dewa justru menyadari sesuatu. Erika tidak nyaman. “Aku suka di kafe,” lanjut Erika pelan, mencoba menjelaskan. “Di rumah aku nggak ada kegiatan lain. Semua sudah dikerjain Mbak. Aku cuma bengong… rasanya aneh.” Ia tertawa kecil, tapi terdengar hambar. “Kayak… nunggu waktu lewat aja.” Kalimat itu membuat d**a Dewa sedikit mengencang. Menunggu w

