Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Aku mengangguk berterimakasih ketika Mas Kevin mengulurkan satu gelas kopi hangat yang baru saja dia beli. Saat ini kami duduk bersebelahan di kursi kayu yang di setiap ujungnya terdapat ukiran bunga mawar. Aku menyesap kopi itu pelan-pelan, lalu tersenyum lebar. Entah senyumku karena merasa kopi yang aku minum ini enak, atau karena aku meminumnya bersama orang yang dulu pernah sangat aku sukai. Kalau diingat lagi, dulu siapa yang tidak menyukai laki-laki di sampingku ini? Kalian pernah baca novel teenlit, kan? Pokoknya tokoh-tokoh novel teenlit jaman dulu, bisa kalian temukan pada diri Mas Kevin. Dia, Kevin Abirama, Ketua Osis sekaligus ketua tim basket SMA-ku. Berperawakan tinggi, memiliki kulit mulus dan bersih, meski