"Argh, s**l!" Damar memegangi kepalanya yang terasa pening. Selalu saja begitu ketika ia hendak menceritakan titik kelam di masa kecilnya. Titik saat ia berada dalam gelap, terombang-ambing tidak pasti, dan keadaan mentalnya yang kacau saat itu. Kalau bisa dilakukan, Damar ingin mengambil bagian dari kepingan memori masa lalu kelam itu dari otaknya. Kemudian, membuangnya sejauh mungkin. Namun, apalah daya sebuah pengandaian yang terlalu sia-sia itu. Kalila refleks mengusap punggung Damar begitu lembut. Keadaannya yang masih terduduk di pangkuan pria itu sedikit kiranya mempermudah untuk memberi sentuhan hangat itu. Sementara satu tangan berada di punggung Damar, satunya lagi tampak menggenggam kuat telapak tangan Damar yang sedikit bergetar. Kalila mengerti, sulit untuk membuka luka lama

