"I miss you so bad."
Kalila hanya bisa terdiam. Matanya menatap ke lain arah, asal jangan menatap ke layar gawai. Sebab, ia akan melihat langsung tatapan tajam milik Damar. Meski tidak secara langsung, Kalila tetap merasa gugup dengan tatapan itu. Tatapan itu agaknya sayu, mungkin efek dari mengantuk pria itu. Namun, tetap saja tidak bisa menghilangkan kesan intimidasi pada tatapan itu.
"Aku nggak tahan jauhan sama kamu," ucap Damar serak dengan penuh kejujuran. "Bunda emang resek." Dan di akhiri oleh dengusan pria itu.
Kalila hanya bisa meringis. Ia pun mulai berucap pelan, "udah, nggak pa-pa. Ini demi kebaikan kita juga kok."
"Kebaikan apanya?" Damar tampak tidak terima. "Bagaimana mungkin ada orang yang tega memisahkan sepasang kekasih?"
Mendengar itu, Kalila langsung tersedak air liurnya sendiri. Membuat Damar khawatir. Pria itu bahkan sudah memposisikan diri duduk di ranjang dengan selimut yang tidak lagi menutupi badannya yang shirtless.
"Kamu nggak pa-pa, 'kan, Sayang?"
Kembali, untuk yang kedua kalinya Kalila tesedak. Wanita itu langsung meraih segelas air di meja nakas dan diteguknya sampai tidak bersisa. Sungguh, apa yang diucapkan pria itu? Sepasang kekasih? Panggilan sayang? Oh, astaga!
"Kalila, hei, jawab aku," ucap Damar penuh rasa khawatir. Kalila hanya berdehem kecil sembari masih berusaha mengendalikan diri.
"Kamu nggak pa-pa, 'kan? Kamu baik-baik aja, 'kan? Astaga, haruskah aku menyelinap ke rumah, huh? Benar-benar p********n!"
Kalila menggeleng kecil. Ia pun mulai menenangkan Damar dengan mengatakan hal yang tidak membuat pria itu merasa khawatir. Terlihat di sana Damar menghela napas kasar. Pria itu kembali berbaring dan menyelimuti dirinya sampai ke atas bahu.
"Aku bersumpah nggak akan berjauhan lagi sama kamu," ucap Damar menatap Kalila dari balik telepon secara terang-terangan. Pria itu lalu mengulurkan tangannya dan menyentuh layar gawai, tepat di bagian pipi Kalila. "Jangan aduin Bunda ya?" bisiknya. Kedua matanya kemudian memejam. Tidak lagi pria itu berbicara sampai beberapa menit lamanya. Membuat Kalila mulai berpikir bahwa Damar sudah tertidur. Jari telunjuk sudah akan menekan tombol merah, tetapi tiba-tiba saja Damar berujar.
"Temani aku tidur."
Kalila mendelik. Membuat Damar—yang membuka sebelah matanya—terkekeh geli. "Jangan dimatikan sampai tidur ya," bisiknya dalam. Pria itu mulai memposisikan senyaman mungkin. Lalu mulai menyenderkan gawainya di bantal. Jaraknya agak jauh, membuat Kalila bisa melihat potret Damar yang tengah tidur menyamping.
Kalila masih duduk terdiam dengan punggung menyender di sandaran ranjang. Sampai kemudian, ia ditegur oleh Damar. "Tidurlah. Mau tidur sambil duduk gitu, hm?"
"A-aku ... belum mengantuk, hehe."
Damar membuka mata. Dahinya terangkat sebelah. Pertanda heran. Ia akan berujar, tetapi langsung terurung ketika Kalila malah menguap dengan lebarnya. Tak bisa dimungkiri Damar tergelak dengan gelinya. Sang calon istri benar-benar tidak pandai berbohong rupanya. Menggemaskan.
"Jangan maksain diri. Tidurlah. Apa perlu aku langsung ke rumah dan nyelinap ke kamarmu, hm?"
Big no! batin Kalila mengelak. Bergegas gadis itu mulai membaringkan diri. Gawainya ia sandarkan di guling yang terletak di samping. Kerudungnya tidak akan ia lepas, tentunya. Masih ada Damar yang bisa melihatnya di layar gawai.
"Tidur," ucap Damar lembut. Matanya tiba-tiba tak lagi berat saat melihat Kalila yang seolah sedang berbaring di sampingnya. Padahal, hanya terlihat di balik kamera saja.
"Hm," gumam Kalila mulai memejamkan mata. Posisinya sama seperti Damar, yakni menyamping. Kedua sejoli itu seolah sedang tidur berdampingan. Padahal kenyataannya tidak. Hanya sebatas virtual semata.
Hening. Hanya terdengar detak demi detakan jam perdetiknya. Pula, sayup-sayup terdengar suara helaan napas dari masing-masing pelantang gawai. Keduanya larut dalam hening. Keduanya larut dalam setiap bunyi-bunyian kecil yang terhasil dari jam maupun dari detakan teratur jantung mereka sendiri.
"Kalila," panggil Damar lembut setelah beberapa waktu larut dalam hening. Senyum terulas manis saat menyadari bahwa sosok gadis di balik telepon sudah terlelap menuju alam mimpi. Ya, memang tujuannya dari awal untuk membiarkan gadis itu terlelap lebih dulu. Ia jadi bisa menikmati sejenak pahatan wajah damai sosok gadis itu. Meski hanya sebatas ruang virtual semata.
"Entah sihir apa yang kamu lakuin padaku, yang pasti aku sangat mencintaimu, Kalila. Sangat mencintaimu," ucap Damar dalam. Ia mendekatkan wajahnya ke layar gawai dan menghadiahkan kecupan hangat di sana. Dengan pikiran yang terbayang bahwa ia benar-benar mencium sosok Kalila.
"Good night." Setelah mengatakan itu, Damar pun mulai memejamkan mata. Terbang ke alam mimpi menyusul Kalila. Semoga mimpi indah malam ini. Harapnya.
***
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tinggal dua hari lagi menuju pernikahan sang CEO Prambudi Corp bersama seorang gadis beruntung bernama Kalila. Di saat gadis pada umumnya merasa bahagia atas pernikahannya, Kalila justru tidak. Ada yang gadis itu pikirkan. Bukan perkara pernikahan yang terjadi secara tidak terduga tersebab insiden waktu itu. Bukan. Sejauh ini Kalila sudah mulai menerima semua yang terjadi. Berkeyakinan bahwa semua yang terjadi ini adalah bagian takdir dari-Nya.
Namun, yang menjadi masalah adalah kekhawatiran gadis itu. Khawatir atas umurnya yang muda, tetapi dalam waktu dekat akan menjadi seorang istri. Juga takut, takut jika tidak mampu menjadi istri yang baik. Mengingat pernikahan ini terjadi atas dasar insiden dan kesalahan yang harus ia bayar.
"Ya Allah," gumam Kalila memijit kepala. Berusaha untuk mengenyahkan segala pikiran rumit itu. Sebentar lagi ia akan menikah. Tanggung jawabnya menjadi jauh lebih besar. Perkara umur masih muda itu bukanlah masalah. Toh, bukan umur yang menjadi landasan utama untuk menikah, melainkan kesiapan dari yang terkait. Siap menikah atau tidak. Siap memanggul tanggung jawab besar atau tidak.
Namun, yang jadi masalah di sini adalah Kalila juga merasa tidak siap. Gadis itu ragu untuk mengatakan bahwa ia siap. Entah mengapa, entah apa yang merasuki. Yang pasti, Kalila tampak tidak tenang. Bahkan rasanya ia ingin menangis karena hal ini. Pikiran untuk kabur tiba-tiba muncul di benaknya.
Oh, god. Apakah ini yang disebut dengan sindrom bridezilla? Sindrom pranikah yang kerap menyerang calon mempelai wanita. Sindrom yang apabila tidak ditangani secara baik, akan menjadi bumerang bagi pernikahan.
"Nggak-nggak. Astaghfirullah." Kalila mengembuskan napas perlahan. Mencoba untuk lebih menguasai diri. Berusaha semaksimal mungkin untuk berpikiran positif dan mengenyahkan segala pikiran yang hanya memperumit pikirannya sendiri. "Tenang, Kalila. Tenanglah," gumamnya dengan mata yang memejam.
Gadis itu kini sedang berada di kamar. Niatnya ingin mengambil gawainya yang tertinggal saat akan pergi untuk menuju gedung pernikahannya bersama Darisa. Namun, ketika pikiran rumit itu muncul, membuat gadis itu menjadi berlama-lama di kamar. Berusaha untuk menenangkan diri. Agar ketika di hadapan sang calon mertua, ia menjadi sosok yang baik-baik saja. Meski sebenarnya tidak seperti itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketokan dari luar. Sayup-sayup juga terdengar panggilan dari seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Darisa? Membuat Kalila merasa gelisah dan bergegas mematut diri di depan cermin. Mengecek raut wajahnya. Apakah terlihat kusut atau tidak? Dirasa sudah terlihat baik, Kalila pun melangkah cepat menuju pintu. Dibukanya perlahan dan langsunglah ia disuguhi oleh raut wajah khawatir Darisa.
"Oh, Sayang, ada apa, hm? Kenapa lama?" Darisa membingkai wajah Kalila dengan telapak tangannya. Ditatapnya mata gadis itu, lalu ditelitinya raut wajah itu. Dahinya berkerut khawatir. Ia bisa menangkap hal yang disembunyikan oleh gadis itu. The power of mother.
Darisa langsung menarik Kalila memasuki kamar dan menutup pintu kamar rapat-rapat. Setelahnya, wanita itu membawa Kalila untuk duduk di sisi ranjang.
"Ceritain semuanya," ucap Darisa serius. Dengan memasang tatapan menuntut, tetapi sarat kelembutan. Seketika membuat Kalila tidak mampu menahan air mata. Gadis mulai menangis, yang dengan segera didekap Darisa penuh kelembutan.
"Nangis aja," bisik Darisa lembut. Tangannya mengelus perlahan punggung Kalila. Gadis itu masih saja menangis. Isakannya terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengar. Membuat Darisa merasa sedih dan tidak terasa air mata juga tumpah. Terbang kembali ia ke masa lalu. Ketika sebentar lagi pernikahannya dengan Adam akan digelar. Banyak drama yang terjadi, salah satunya adalah munculnya keraguan. Mungkin saja yang terjadi pada Kalila saat ini adalah sama dengan apa yang menimpa Darisa di masa lalu.
"Bun," panggil Kalila setelah pelukan terurai. Bibirnya melengkung ke bawah dengan kedua tangan yang mulai mengusap kasar air mata di kedua pipi. "Pikiranku jadi aneh, Bun. Aku nggak mau punya pikiran kayak gini."
Sudah diduga. Sepertinya Kalila memang benar-benar terkena sindrom bridezilla. Persis seperti apa yang terjadi dengan Darisa sendiri sewaktu muda.
"Pikiran seperti apa kalau boleh tahu, Sayang?"
Kalila pun mulai mengungkapkan semua pikiran kusutnya kepada Darisa. Ia ungkapkan dengar jujur, apa adanya. Tanpa ada unsur melebih-lebihkan di sana. Sementara Darisa hanya bisa menyimak penuh keseriusan. Sesekali ia mengangguk dan sesekali ia mengusap kedua pipi Kalila yang tak henti dilelehi air mata.
"Wajar, Sayang. Wajar," ujar Darisa setelah Kalila selesai berbicara. Wanita itu tersenyum dan mengelus puncak kepala Kalila penuh kasih sayang. "Kamu tahu nggak, Bunda juga alami yang sama kayak kamu. Sampai-sampai pernikahan Bunda nyaris batal karena itu."
Dilihat dari rautnya, Kalila sangat terkejut. Air mata tidak lagi meleleh. Gadis itu mulai larut oleh kisah yang diceritakan oleh Darisa di masa lalu.
"Bunda nikah itu di usia dua puluh. Lebih muda setahun dari kamu. Bunda dibilang macam-macam sama orang. Kebelet nikahlah, masih belum dewasalah, dan ucapan nyakitin lainnya. Bunda tertekan banget saat itu. Padahal tinggal menghitung hari lagi Bunda bakal nikah.
Dan, Bunda itu dulu sama kayak kamu. Tiba-tiba takut, ragu, dan segala hal lainnya yang buat Bunda gagal fokus. Sampai-sampai timbul pikiran mau batal nikah aja. Andai nggak ada almarhumah Ibu, mungkin itu beneran kejadian. Sama almarhumah, Bunda disuruh tenangin diri, berpikiran positif, dan lain-lain. Sampai akhirnya Bunda jadi yakin lagi dan pernikahan pun terlaksana dengan lancar. Jadi, hal yang wajar atas apa yang terjadi sama kamu, Kalila. Semua orang pernah mengalaminya. Pernah ngalamin sindrom pranikah itu. Namun, yang bedain adalah gimana cara menghadapinya."
Darisa meremas erat kedua tangan Kalila. Berusaha menyalurkan energi positif yang ia punya. "Kuncinya itu yakin. Kamu harus yakinin diri kamu sendiri. Trus pikirin, pikirin kalo kamu udah sejauh ini melangkah. Ibaratnya kamu tinggal dua langkah lagi sampai ke tujuan, eh tiba-tiba kamu berhenti cuma karena pikiran kamu sendiri. Sayang banget tau. Maka dari itu, yakinin diri kamu sendiri, Sayang. Jika kamu ragu, trus mau mundur, siapa yang kecewa? Nggak cuma Bunda, tapi semua orang yang udah persiapin semuanya untuk kamu, untuk pernikahan kamu.
So, don't be sad again, okay? Kalo Damar tahu kamu nangis kayak gini, itu anak pasti ngamuk. Seriusan deh." Darisa terkekeh. Sampai kemudian, ia dikejutkan oleh pelukan tiba-tiba Kalila.
"Bun, makasih banget. Kalila sayang Bunda," ucap Kalila dengan tulus.
Sejujurnya, Kalila merasa beruntung sebab telah dipertemukan dengan keluarga Damar. Bunda yang penyayang, Ayah yang tegas dan bijaksana, Adnan yang cuek tapi perhatian, dan Dara yang selalu ceria. Rasanya seperti kau mendapat hadiah tidak disangka-sangka. Namun, terkait Damar, pria yang akan menjadi suaminya itu. Entahlah. Kalila masih merasa abu atas pandangannya terkait pria itu. Sangat tidak tertebak. Akan tetapi, tetap saja ia harus menerima pria itu. Dan, berusaha menumbuhkan segala rasa yang ada. Tak lagi abu, melainkan jauh lebih berwarna.
***
Damar tampak sibuk di aula gedung mewah, tempat pernikahannya akan digelar. Matanya meneliti segala dekorasi yang ada, lalu ketika ada yang kurang langsung ia ajukan pada staf WO di sana. Di sela itu, ia sering melihat jam di pergelangan tangan. Seolah sedang menunggu sesuatu. Dan memang benar. Pria itu memang sedang menunggu. Menunggu sosok itu datang, sosok yang sangat ia rindukan.
Beberapa waktu yang lalu, Darisa mengabari Damar bahwa wanita itu akan datang memantau gedung pernikahan. Ingin tahu sejauh apa progres yang sudah dicapai. Awalnya biasa saja, bahkan Damar sempat berpikir untuk menolak kehadiran wanita itu. Bukannya apa-apa, hanya tidak ingin pihak WO kelimpungan dengan sang bunda yang bahasanya itu terlalu rempong. Inginnya ini, inginnya itu, dan segala hal rempong lainnya. Namun, ketika mendengar kabar bahwa Kalila akan ikut. Seketika membuat Damar langsung berapi-api. Rindu sudah berada di ujung dan harus segera diobati dengan melihat kehadiran Kalila secara langsung.
Masalahnya sekarang adalah Darisa tidak kunjung datang. Sudah terlalu lama Damar menunggu kehadiran sang ibunda dan sang kekasih di gedung ini. Awalnya ingin ia hubungi, menanyakan kapan mereka akan tiba. Namun, tiba-tiba saja gawainya berdering, pertanda pesan masuk. Bergegas Damar membuka pesan itu.
Langsung saja bahunya merosot ke bawah. Terpampang di layar gawai sebuah pesan singkat dari sang ibunda. Memberitahukan kabar bahwa mereka batal pergi ke gedung pernikahan. Bahkan tanpa alasan. Membuat Damar rasanya ter-PHP. Ia sudah berharap besar atas kehadiran mereka. Ah, bukan, lebih tepatnya kehadiran Kalila. Ia benar-benar merindukan gadisnya. Beberapa hari tanpa bertemu gadis itu sangatlah menyiksa.
"Ugh!" Damar merehatkan diri dengan duduk di kursi. Ia mulai memainkan gawai dan pikirannya langsung tertuju untuk menghubungi Kalila. Barang menanyakan kabar gadis itu, pula mendengar suara lembut gadis itu. Namun, mungkinkah akan diangkat? Mengingat bahwa jam-jam segini, Kalila dan ia berada dalam pantauan Darisa. Benar-benar bundanya itu.
Oke, baik. Damar akan mencoba. Siapa tahu keberuntungan memihaknya kali ini. Langsung saja Damar menekan tombol panggilan pada nomor Kalila. Pria itu diam, harap-harap cemas. Suara dering panggilan tersambung masih terdengar, cukup lama. Sampai kemudian, tidak disangka jika panggilan diangkat! Oh, Godness!
"Kalila?" Damar semringah wajahnya. Senyum pun terulas begitu lebarnya. "Gimana kabarmu, hm? Baik-baik saja, 'kan?"
Tak terdengar suara apa pun dari balik telepon. Damar berkerut kening. Dijauhkannya kemudian gawai yang sedari tadi tertempel di telinga. Semakin bertambah heran ketika terpampang nyata di layar gawai bahwa panggilan masih terhubung. Akan tetapi, kenapa Kalila tidak kunjung bersuara?
Perasaan khawatir pun seketika mulai muncul ke permukaan.
"Kalila? Kamu masih di sana, 'kan? Kamu baik-baik aja, 'kan? Hei, tolong ucapkan sesuatu. Sayang, please."
Tiba-tiba,
"Sayang-sayang! Matamu!"
Panggilan langsung terputus. Damar tertegun beberapa saat. Lagi? batin pria itu dongkol.
Oh, ingin rasanya pria itu minta ganti bunda sekarang juga. Benar-benar resek.
Bersambung ....