15. | A Day without Each Other

2146 Kata
Kalila memijit pangkal hidungnya yang secara tiba-tiba dilanda pusing. Sungguh, ia benar-benar tidak habis pikir dengan suami CEO-nya itu. Ternyata, dua pria kekar berpakaian serba hitam itu merupakan bodyguard kiriman Damar. Bodyguard yang sepertinya sengaja Damar pilih dengan memiliki keteguhan yang tak bisa ditumbangkan. Ya, dua pria kekar itu teguhnya luar biasa. Sedari tadi Kalila pinta mereka untuk tetap stay di depan penthouse selagi ia pergi ke minimarket. Namun, mereka menolak dengan dalih bahwa ke mana pun Kalila pergi, mereka harus mengikuti. Makanya Kalila dilanda pusing mendadak. "Saya mohon, saya risih kalo diikuti," ucap Kalila memelas. Menatap bergantian kedua pria kekar itu. "Mohon maaf. Perintah Tuan Damar adalah mutlak bagi kami." "Oh, Gusti," gumam Kalila menyenderkan tubuhnya di mulut pintu. Biar bagaimanapun ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Keinginannya ke minimarket sudah terlalu besar. Kalau dibatalkan hanya karena perkara sepele, rasanya terlalu egois pada diri sendiri. "Cuma salah satu dari kalian aja, 'kan?" tanya Kalila jemu. "Yang temenin saya ke minimarket," timpalnya yang langsung di-iya-kan oleh dua bodyguard itu. "Tunggu sebentar." Kalila kembali memasuki penthouse. Ada sesuatu yang ingin ia kenakan demi meminimalisir rasa malu. Tak lama, gadis itu pun kembali dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Setelah menutup pintu, tanpa berkata apa-apa lagi, Kalila melangkah terlebih dahulu. Tentu, dengan diikuti oleh salah satu pria kekar itu. "Aku bukan superstar, tapi punya bodyguard. Selucu itu," gumam Kalila merasa sedikit kesal. Sebenarnya Kalila penasaran. Mengapa Damar sebegitunya menjaga dirinya? Pria itu terkesan berlebihan dan terkesan terlalu berpikiran jauh terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Ya bisa dikatakan bahwa Damar itu terlalu overthinking. Memang, pada dasarnya waspada atas segala sesuatu boleh-boleh saja. Namun, kalau terlalu berlebihan kan tidak baik juga. Lagi dan lagi, Damar selalu sulit untuk ditebak. Kalau ingin mencari tahu, Kalila harus mengumpulkan kepingan demi kepingan puzzle kehidupan seorang Damar. Agar ia lebih bisa mengambil sikap dan memahami pria itu seutuhnya. Kalila tahu bahwa ia adalah seorang istri. Meski berawal dari paksaan dan ada niatan untuk menjaga jarak dengan Damar. Pada akhirnya semua itu tak mampu ia lakukan karena Damar selalu tidak memberinya ruang untuk menjaga jarak. Tak akan ia temukan lancar jaya dalam menjaga jarak dengan seorang Damar. Ibaratnya ia sudah tercebur, tak ada pilihan lain selain berenang, bukan? "Jalani aja udah," gumam Kalila pasrah. Gadis itu sudah tiba di minimarket sekarang. "Bapak tunggu di luar aja ya. Saya nggak bakal lama kok," ucapnya kepada pria bodyguard. "Tidak bisa, Nyonya. Saya harus ikut ke dalam juga." "Hah, terserahlah." Kalila tak ingin memperpanjang. Gadis itu memasuki minimarket dengan beberapa pasang mata menatapnya bingung. Ya bagaimana tidak bingung kalau di belakangnya terdapat pria kekar berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam. Terlalu mencolok. Orang pun bisa menebak bahwa itu adalah seorang bodyguard. Namun, yang membuat bertanya-tanya itu adalah siapa yang sedang dijaga? Seorang artis atau apa? "Sehari nyamar jadi artis. Ya nggak mungkin ada yang minta foto lah." Kalila terkekeh. Kalau dipikir-pikir, lucu juga kalau ada mengira dirinya artis karena ada bodyguard yang menjaganya. Kalila sudah berada di rak berbagai macam cemilan. Ia pilah-pilih dengan santai, tak memedulikan pria bodyguard yang selalu ada di sisinya. Menengok ke sana kemari, memperhatikan situasi. "Ini satu, trus ini lagi satu," gumam Kalila mengambil beberapa cemilan lalu ia masukan ke dalam keranjang. "Apa lagi ya?" Dagunya ia ketuk-ketukan dengan jari. Tiba-tiba saja seorang wanita mendekat dan berbisik pelan. "Mbak artis ya?" bisik wanita itu. "Bodyguard-nya serem banget. Kalo saya minta foto, bodyguard-nya nggak bakal larang, 'kan?" Ingin rasanya Kalila menyemburkan tawa sekarang juga. Baru saja ia berpikiran tentang itu, eh kejadian juga rupanya. "Ya Allah, bukan. Saya bukan artis, Mbak." Niatnya sih ingin bertingkah seolah-olah artis. Namun, Kalila tidak seiseng itu. Tak ingin ia mendustakan orang banyak karena itu. "Loh? Bukan ya? Kok punya bodyguard sih? Ngaku aja kalo artis, Mbak. Saya nggak bakalan bar-bar kok." "Beneran. Saya bukan artis," ucap Kalila meyakinkan. Ia mulai menurunkan maskernya. "Liat. Ada nggak muka saya terpampang di tipi? Nggak, 'kan?" Wanita yang menganggapnya artis itu mulai mengerutkan dahinya. Seperti orang yang tengah mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Iya, 'kan? Saya bukan artis. Demi apa pun saya bukan artis." "Rasa-rasanya saya pernah liat muka Mbak di tipi deh." Sontak ucapan dari wanita itu membuat Kalila terheran-heran. Sejak kapan ia nimbrung di pertelevisian nasional? "Nggak," sangkal Kalila tertawa renyah. "Mungkin cuma mirip aja." "Oh ya, mungkin cuma mirip aja kali ya." Wanita itu tersenyum kikuk. "Maafin saya ya, Mbak. Saya pikir Mbak itu artis. Wong dijagain gitu sama bodyguard-nya. Tapi asli, Mbak mirip banget sama yang pernah saya liat di tipi." Kalila menggeleng kecil. "Cuma mirip aja. Katanya tiap orang 'kan punya tujuh 'kembaran' di dunia. Ya bisa jadi yang di tipi itu salah satunya," ucapnya yang langsung disetujui oleh lawan bicara. "Sekali lagi maaf ya, Mbak. Udah salah ngira," ucap si wanita tak enak hati. Setelah berjabat tangan, wanita itu pun pergi. Namun, terdengar sayup-sayup sampai gumaman wanita itu. Serta-merta membuat Kalila tercenung beberapa saat. "Mbak tadi mirip banget sama istri barunya pemimpin perusahaan terkenal itu. Siapa sih namanya? Duh, lupa. Pikun emang." Pikun. Bukan hanya wanita itu, tetapi juga Kalila sendiri. Gadis yang lupa akan kedudukan dirinya bahwa ia merupakan istri sah seorang Damar. Damar yang notabene merupakan CEO perusahaan terkenal dan ternama di Indonesia. Sialnya lagi, Kalila sampai lupa bahwa pernikahannya waktu itu sempat diliput oleh media pertelevisian nasional. Terlebih masih hangat-hangatnya. Sehingga wajahnya mungkin masih diingat oleh beberapa pihak. Oh, God. Kalila langsung memasang kembali maskernya dengan gerakan yang terburu-buru. Gadis itu kemudian melangkah cepat menuju kasir dan membayar dua belanjaannya. Ngartis beneran woy! *** "Makasih ya, Pak," ucap Kalila memberikan masing-masing sebungkus camilan kepada kedua pria bodyguard. Yang diterima canggung oleh kedua pria itu. Setelahnya, gadis itu pun memasuki penthouse. Langsung saja ia merebahkan dirinya di atas sofa ruang tengah. Matanya menerawang langit-langit. Tampak memikirkan sesuatu. "Mood-ku buat ngemil kok tiba-tiba hilang ya?" Kalila merengut. Ujung kain kerudung ia tiup. Membuatnya tegak dalam beberapa saat, kemudian kembali melayu. Begitu seterusnya yang Kalila lakukan. Berulang kali ia lakukan. Pada akhirnya, gadis itu merasa bosan sendiri melakukan itu. "Ke atas ah. Liat langit. Siapa tahu bisa ngembaliin mood." Kalila mulai beranjak. Gadis itu melangkah lebar menaiki pijakan tangga demi tangga. Tak berapa lama, sampailah gadis itu di tempat yang dituju. Spot favorit Kalila di penthouse. Kalila merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seiring dengan dihirupnya udara sepuas-puasnya. Gadis itu tersenyum. Matanya tak lepas dari langit yang membentang biru di atas sana. Sungguh, merupakan suatu kenikmatan ketika engkau mampu melihat jernihnya langit ciptaan Tuhan. Nikmat yang seyogianya tersebar dan akan selalu ada di mana pun diri berpijak. Namun, terkadang, nafsu menguasai diri seseorang. Menjadikannya tak mampu melihat nikmat, yang ada hanya terlihat kekurangannya saja di sana. Ya begitulah perangai seorang manusia. "Banyak-banyak bersyukur," gumam Kalila melembutkan pandangannya. Gadis itu berjongkok tepat di pinggiran kolam. Tangannya ia masukan ke dalam kolam. Selama beberapa saat tangannya bermain-main di sana. "Pengen sih berenang. Tapi takut," ucapnya tertawa kecil. Sedari dulu Kalila memang mempunyai pengalaman buruk tentang berenang. Ia pernah nyaris kehilangan napas ketika berenang sewaktu kecil. Hanya perkara ada binatang kecil semacam kerang yang hinggap di kakinya. Menjadikannya panik dan tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Sejak saat itulah hari terakhir ia berenang. Padahal, sebenarnya Kalila bisa-bisa saja berenang. Namun, ketakutan lebih dahulu andil menguasai dirinya. "Ah, sudahlah." Kalila berdiri. Gadis itu melangkah menuju gazebo. Niatnya bersantai di sana sembari menikmati berbagai camilan yang ada di tangannya. Pula, menikmati indahnya pemandangan dari ketinggian puluhan meter itu. Benar-benar memanjakan mata sekali. Sementara itu, nun jauh di sana. Ada sesosok yang tampaknya tenang dalam memperhatikan presentasi seseorang di depannya. Sesekali, raut wajah yang tenang itu tampak mengerut. Dagunya yang lancip ia usap perlahan seiring dengan satu tangannya lagi yang mencatat berbagai poin penting simakkannya. Ialah Damar dengan kesibukannya melakukan studi banding. Sudah sekitar setengah jam ia duduk diam menyimak. Bersama beberapa orang lainnya, termasuk Rudi yang setia ada di sisinya. "Kapan ini selesai?" tanya Damar setengah berbisik kepada Rudi. "Satu jam lagi." "Setelah itu nggak ada lagi, 'kan?" Maksud Damar adalah tentang agenda setelah ini. Harapnya sih tidak ada lagi. Namun, melihat Rudi yang tiba-tiba mengecek gawai, membuat Damar mengembuskan napas kasar. "Ada satu agenda lagi sebelum istirahat, Pak. Setelah istirahat pun nanti ada agenda lagi. Jadwal Bapak padat sekali." Damar hanya bisa memasang wajah jemu. Hal itu tentu ditangkap oleh sang bawahan. "Tidak biasanya Bapak bosan bekerja," bisik Rudi yang ketika berbisik ia tutupi dengan buku. Mendengar itu, Damar kembali mengembuskan napas kasar. "Aku hanya rindu istriku." Rudi terdiam beberapa saat. Tak lama, pria itu mendengus. Memaklumi sang atasan yang masih hangat-hangatnya dalam suasana pernikahan. Masih dalam bulan-bulannya madu. "Mr. Prambudi. Any questions?" Tiba-tiba salah seorang pria memancing atensi Damar. Sepertinya pria itu sengaja agar Damar lebih fokus dalam memperhatikan dirinya. Ya, Damar tentu sadar akan hal itu. Terkandung implikatur dalam pertanyaan pria itu. "Nothing," sahur Damar cuek. Pembahasan pun kembali dilanjutkan sampai tibalah waktu yang Damar nanti-nanti, yakni waktu istirahat. Setelah berjabat tangan kepada beberapa orang, pria itu bergegas keluar dari ruangan diiringi oleh Rudi. "Di Indonesia jam berapa sekarang?" tanya Damar kepada Rudi seiring dengan langkah lebarnya yang melintasi koridor kantor. "Kira-kira jam satu, Pak." Damar mengangguk. Pria itu lantas menghubungi seseorang di gawainya. Wajahnya tampak menghangat ketika terdengar dering pertanda panggilan tersambung. Namun, rautnya berangsur heran ketika panggilan tak kunjung diangkat. Berulang kali ia ulang panggilan itu. Namun, tetap sama. Sampai pada hitungan ke sepuluh kali percobaan, Damar merasakan sesuatu yang tidak beres. Bergegas pria itu menghubungi salah seorang kepercayaannya di sana. Kali ini, panggilan langsung dijawab tanpa harus menunggu. "Di mana istriku?" tanya Damar dengan intonasi yang datar. Terdengarlah suara balasan dari balik telepon. "Nyonya ada di unit, Tuan." "Dia baik-baik saja?" "Tentu, Tuan. Bahkan beberapa waktu yang lalu Nyonya habis dari minimarket membeli makanan, Tuan." "Kalau dia baik-baik aja, kenapa panggilanku nggak diangkat sedari tadi?" Sontak, seseorang dari balik telepon itu bergeming. Hening. Membuat Damar menggeram marah. Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya. "Kalian berdua bodyguard kepercayaanku. Gimana mungkin kalian nggak tahu?" "Mohon maaf, Tuan," ucap pria bodyguard merasa bersalah. "Tapi kami yakin Nyonya baik-baik. Bisa jadi Nyonya sedang tidur. Jadi, panggilan Tuan tidak diangkat." Alasan yang sangat logis. Namun, yang namanya Damar tidak akan merasa tenang sebelum ia bisa melihat bukti nyata bahwa sang istri benar-benar tidur. Terlebih ia ingat bahwa sedari awal sudah mengabari Kalila bahwa akan menelpon di jam makan siang. Bagaimana mungkin gadis itu dengan cepatnya lupa akan hal itu? Hingga, Damar teringat dengan CCTV di unitnya. Sebelumnya, ia sudah memutuskan sambungan telepon. Kemudian, bergegas ia cek aplikasi pemantau CCTV unit di gawainya. Ia tunggu beberapa saat, sampai kemudian muncul beberapa titik CCTV dalam unit. Ia cek satu per satu, masih belum tampak eksistensi sosok yang dicari. Hampir saja Damar hilang kesabaran kalau matanya tidak melihat ke satu titik di layar. Tampak sesosok Kalila yang tengah berbaring meringkuk di tengah gazebo. Membuat Damar tergelitik untuk segera memeluk tubuh mungil itu. Namun, jarak tak menginginkan itu terjadi. Ternyata, beginilah rasanya jauh dari yang terkasih. Untungnya Damar hanya sehari pergi meninggalkan Kalila. Tak bisa ia bayangkan jika lebih dari itu. Setelah memastikan keberadaan Kalila, Damar kembali menghubungi bodyguard-nya. "Tolong jaga istriku sebaik mungkin," ucapnya cepat setelah panggilan langsung terhubung. Bagi pria itu tak ada basa-basi di kamusnya jika menyangkut sesuatu yang penting. "Baik, Tuan. Memang begitulah seharusnya tugas kami," balas sang bodyguard dengan sopan. Damar menyungging seringai. "Bagus." Setelah mengungkapkan pujian, sambungan telepon langsung diputusnya. Pria itu mengembuskan napas panjang. Sekarang perasaannya jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Rudi." "Ya, Pak?" "Tolong atur kepulanganku besok di jam yang paling pagi. Kalau besok ada pertemuan tambahan di sini, tolong, wakilkan aku. Aku harus pulang lebih pagi esok hari, tanpa bisa diganggu gugat." "Baik, Pak. Akan saya atur." *** Kalila menggeliat pelan. Gadis itu membuka mata dan langsunglah ia menyadari bahwa ia masih di gazebo. Ia sempat berpikir bahwa sudah ada di tempat tidur. Ternyata tidak sama sekali. "Aku ketiduran," ucap Kalila mengusap wajah bantalnya. Ia merenggangkan sendi tubuhnya yang terasa encok sana sini. Faktor dari tidur di tempat keras dan efek dari datangnya bulan. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya. Hari sudah semakin temaram. Tak baik jika berlama-lama di halaman unit. Setelah mengambil sebotol minuman pereda nyeri datang bulan, Kalila pun bergegas memasuki kamar. Inginnya sih istirahat lebih awal. Namun, semua itu tak akan terwujud sebab didapatinya riwayat berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Damar di gawainya. Refleks Kalila membekap mulutnya tak percaya. Kali pertama ia memiliki riwayat panggilan sebanyak itu. Di sela itu juga ia merasakan hal yang buruk terjadi jika Damar sudah memanggilnya sebanyak itu. "Mati aku," gumam Kalila dengan wajahnya yang sedikit memucat itu. Merutuk ia sebab sudah dengan gampangnya lupa akan pesan Damar tempo lalu. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN